Bos Ericsson Sebut Jaringan 5G Berkinerja Tinggi Aset Terbesar Operator Seluler
Jaringan 5G berkinerja tinggi adalah aset terbesar operator seluler, penting untuk strategi spektrum frekuensi guna menghadapi tantangan teknologi dan kebutuhan AI.
(Bisnis.Com) 30/04/26 15:40 207707
Bisnis.com, JAKARTA — Operator seluler di Indonesia dituntut cermat dalam meracik strategi spektrum frekuensi demi menyongsong era 5G yang lebih matang. Penggunaan spektrum frekuensi menjadi aset paling vital bagi perusahaan dalam menentukan arah bisnis jangka panjang di tengah tantangan teknologi yang semakin kompleks.
President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan kombinasi penggunaan pita frekuensi oleh operator saat ini telah menjadi modal utama dalam membangun 5G berkualitas.
Strategi ini menjadi pembeda utama dalam memberikan layanan yang stabil bagi konsumen maupun kebutuhan spesifik sektor korporasi. Menurut Nora, operator perlu melakukan perpaduan strategis antara pita rendah dan pita tinggi untuk memaksimalkan potensi teknologi 5G.
“Anda memerlukan low band untuk menjamin jangkauan yang luas, dan Anda juga harus mengombinasikannya demi performa 5G standalone yang terbaik,” kata Nora, Rabu (30/4/2026).
Nora mengatakan oenambahan pita frekuensi tinggi seperti 2600 MHz dan 3,5 GHz menjadi komponen esensial untuk mencapai kecepatan tinggi serta latensi rendah bagi cakupan dalam ruangan (indoor). Hal ini membuat pemanfaatan spektrum tidak bisa dilakukan secara parsial.
Nora juga mengatakan bahwa era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa pergeseran fundamental dalam kebutuhan konektivitas di seluruh dunia. Layanan 5G masa depan tidak lagi menggunakan prinsip best effort. Infrastruktur digital kini berubah menjadi aset krusial bagi keberlangsungan bisnis.
Operator harus mampu menawarkan jaminan kualitas layanan (guaranteed quality of service) yang mumpuni. Latensi rendah untuk aplikasi industri tertentu, ditambah tingkat keamanan tinggi, menjadi kebutuhan mutlak bagi ekosistem bisnis modern.
Nora menuturkan investasi pada jaringan 5G berkinerja tinggi memberikan nilai ekonomi jangka panjang bagi pelaku industri telekomunikasi. Aset terbesar operator terletak pada performa jaringan 5G yang dihasilkan. Langkah ini bukan hanya tentang penguasaan spektrum, melainkan upaya membangun ekosistem digital tangguh yang mampu menjawab tantangan pasar di masa mendatang.
“Jadi, kombinasi kedua spektrum tersebut sangatlah penting untuk mendapatkan performa yang tepat,” kata Nora.
Kesehatan Industri
Sementara itu, Dirjen Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Wayan Toni Supriyanto, mengatakan Komdigi terus menyerap aspirasi operator seluler mengenai penggelaran lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang dilakukan secara bersamaan, termasuk mengenai beban baru operator.
“Biasa permintaan operator, sampai saat ini kami masih menerima masukan dan belum bisa menjawab. Harga dasar sudah diterima dan mendapat masukan dari BPKP,” ujar Wayan kepada Bisnis.
Diketahui, pada lelang frekuensi kali ini total pita yang akan ditebar oleh Komdigi adalah sebesar 260 MHz, yang merupakan pita terbesar yang pernah dilelang sepanjang sejarah operator seluler.
Tambahan frekuensi baru akan menjadi peluang bagi pengembangan layanan telekomunikasi operator seluler, dan di lain sisi juga sebagai beban baru karena perusahaan harus membayar pita frekuensi dengan 2x pembayaran di muka pada tahun pertama dan biaya BHP per tahun.
Terakhir, lelang operator seluler digelar pada 2022 untuk pita selebar 2x5 MHz di pita 2,1 GHz. Telkomsel menjadi pemenang dengan membayar lelang sebesar Rp605 miliar per tahun selama 10 tahun.
Biaya frekuensi ini terus meningkat yang kemudian membuat rasio antara pendapatan dengan beban frekuensi operator seluler menyentuh angka 12,2%, lebih rendah dari kawasan ASEAN dan global.
Lelang kali ini memang membawa konsekuensi investasi yang besar. Untuk pita 700 MHz dengan total lebar 70 MHz, operator diharapkan pada komitmen perluasan cakupan jaringan (coverage) hingga ke wilayah rural. Frekuensi rendah ini menjadi krusial karena jangkauan sinyalnya yang luas dan daya tembus dinding yang kuat, namun menuntut penggelaran infrastruktur baru di area yang secara ekonomi menantang.
Di sisi lain, lelang pada pita 2,6 GHz dengan lebar pita 190 MHz diarahkan untuk penguatan kapasitas data dan akselerasi 5G di wilayah urban. Kombinasi kedua frekuensi ini memaksa operator menyeimbangkan antara kewajiban membangun jaringan luas dengan penyediaan layanan internet berkecepatan tinggi yang stabil.
Aspek fleksibilitas juga menjadi strategi pemerintah dalam menjaga ritme investasi operator. Komdigi membuka peluang bagi satu peserta lelang untuk menguasai lebih dari dua blok frekuensi sekaligus, tergantung pada kesiapan finansial dan kebutuhan teknis masing-masing perusahaan.
“Saya memungkinkan begitu tergantung dari keinginan mereka,” tambahnya.
#5g #jaringan-5g #operator-seluler #spektrum-frekuensi #frekuensi-tinggi #frekuensi-rendah #performa-5g #latensi-rendah #kualitas-layanan #investasi-5g #ekosistem-digital #lelang-frekuensi #pita-frekue