Wamendag Ungkap Alasan Presiden Prabowo Kerap Lakukan Kunjungan Luar Negeri

Wamendag Ungkap Alasan Presiden Prabowo Kerap Lakukan Kunjungan Luar Negeri

Presiden Prabowo sering kunjungi luar negeri untuk menjaga stabilitas nasional dan mengamankan posisi Indonesia di tengah gejolak geopolitik global.

(Bisnis.Com) 29/04/26 08:55 205980

Bisnis.com, SURABAYA— Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah strategis guna menjaga stabilitas nasional dan mengamankan kedudukan Indonesia di tengah gejolak geopolitik global yang tengah berkecamuk.

Saat memberikan kuliah umum di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dyah mengeklaim bahwa diplomasi proaktif yang dijalankan pemerintah berperan sebagai "perisai" yang memastikan masyarakat Indonesia terhindar dari dampak langsung konflik secara fisik maupun krisis keamanan yang saat ini tengah melanda berbagai belahan dunia.

"Kita bersyukur negara kita dijaga sedemikian rupa. Kunjungan Bapak Presiden ke berbagai negara itu sebetulnya untuk mengamankan kita. Dampaknya nyata, kita tidak harus mendengar rudal meledak atau rumah yang dibom. Negara berupaya menyelamatkan masyarakat agar kita bisa fokus pada kehidupan keseharian tanpa dihantui ketakutan perang," ujar Dyah, Selasa (28/4/2026).

Dirinya menyebut situasi dunia yang "sedang tidak baik-baik saja" justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyadari potensi yang terkandung di dalamnya. Ia menekankan pentingnya perspektif self-sufficiency atau kemandirian di dua sektor krusial, yakni pangan dan energi.

Di sektor pangan, Dyah menyoroti keberhasilan pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan yang melampaui ekspektasi. Menurutnya, tekanan global memaksa Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya domestik hingga mencapai surplus.

"Ketahanan pangan itu betul-betul bisa terlaksana. Produksi beras kita bisa surplus, bahkan sekarang kita memiliki potensi untuk melakukan ekspor beras. Sesuatu yang mungkin bertahun-tahun lalu tidak pernah terpikirkan bisa kita capai," imbuhnya.

Selain pangan, sektor energi menjadi sorotan utamanya. Dyah membeberkan Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif dengan diversifikasi sumber energi yang lengkap, mulai dari fosil hingga energi baru terbarukan (EBT).

Kekayaan sumber daya tersebut, tutur dia, menjadi bantalan yang kuat saat harga komoditas energi dunia mengalami volatilitas yang tajam akibat konflik geopolitik. Hal ini pula yang membuat kebijakan subsidi energi di dalam negeri tetap terjaga.

"Bagaimana ternyata Indonesia dengan multi-sumber energi yang dimiliki, tidak semua negara punya. Baik itu yang berbasis fosil, non-fosil, yang energi terbarukan, itu semua ada di tanah air kita yang kemudian bisa kita gunakan," ucapnya.

Dyah menyatakan dengan kekayaan sumber daya serta aktivitas diplomasi yang dilakukan jajaran eksekutif diklaimnya mampu menjaga stabilitas harga maupun pasokan bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah fluktuasi harga global

"Sehingga ketika dunia sedang berhadapan dengan fluktuasi harga BBM, paling tidak BBM yang bersubsidi di Indonesia itu tidak terpengaruh sama sekali. Nah, ini juga merupakan salah satu langkah, di mana tantangan ya kan kondisi geopolitik menjadi sebuah peluang untuk Indonesia menyadari bahwa ternyata Indonesia itu mampu," pungkasnya.

#prabowo-kunjungan-luar-negeri #stabilitas-nasional #geopolitik-global #diplomasi-proaktif #konflik-fisik #krisis-keamanan #kemandirian-pangan #ketahanan-pangan #surplus-beras #ekspor-beras #energi-ter

https://kabar24.bisnis.com/read/20260429/15/1970073/wamendag-ungkap-alasan-presiden-prabowo-kerap-lakukan-kunjungan-luar-negeri