Eksportir Sulsel Berharap Insentif, Ancaman Krisis Energi Bisa Pengaruhi Harga Logistik
Eksportir Sulsel khawatir krisis energi akibat konflik Timur Tengah memicu kenaikan biaya logistik. Mereka berharap insentif pemerintah untuk tetap kompetitif.
(Bisnis.Com) 27/04/26 19:04 204354
Bisnis.com, MAKASSAR - Pelaku usaha dan eksportir di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai mewaspadai dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas.
Selain mengancam stabilitas pasokan energi global, ketegangan tersebut dikhawatirkan bakal memicu lonjakan biaya logistik yang dapat menekan daya saing komoditas ekspor daerah.
Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) Arief R Pabettingi mengungkapkan bahwa invasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di jalur Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi minyak mentah dunia.
Bagi Indonesia, hal ini menjadi alarm serius mengingat ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih cukup tinggi.
Kekhawatiran utama para eksportir, lanjut Arief, terletak pada transmisi harga energi ke sektor logistik. Saat ini penyesuaian harga pada lini bahan bakar nonsubsidi seperti Dexlite bahkan sudah mulai dirasakan.
Namun, titik krusial berada pada ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menahan beban subsidi solar.
"Dampaknya sudah terasa sekarang melalui berkurangnya pasokan dan perubahan harga di sektor nonsubsidi. Kekhawatiran kita adalah jika APBN tidak kuat, subsidi solar bisa jebol. Pemerintah harus mencari solusi agar harga solar subsidi tetap bertahan demi menjaga roda logistik tetap bergerak," kata Arief kepada Bisnis, Senin (27/4/2026).
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada moda transportasi berbasis BBM untuk distribusi barang. Jika biaya bahan bakar melambung, maka sektor logistik akan menjadi yang paling pertama terpukul, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga barang di tingkat masyarakat.
Sebagai langkah mengantisipasi krisis yang lebih dalam, pemerintah didorong untuk segera melakukan diversifikasi sumber energi dengan mencari jalur pasokan dari negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik geopolitik tersebut.
Beberapa opsi yang muncul adalah memperkuat kerja sama energi dengan negara penghasil minyak besar lainnya seperti Rusia atau Venezuela. Langkah ini dinilai perlu diambil guna memastikan stok BBM nasional tetap aman di atas level kritis 30 hari.
Di sisi lain, para eksportir di Sulsel juga mengharapkan adanya langkah konkret pemerintah dalam bentuk insentif fiskal dan kemudahan pembiayaan.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menggenjot ekspor barang jadi ketimbang bahan mentah guna meningkatkan nilai tambah dan profitabilitas.
"Kita butuh dukungan pemerintah, terutama bagi pelaku UMKM yang menguasai mayoritas produk ekspor. Setelah sempat terpuruk akibat pandemi, kini mereka dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik. Insentif pembiayaan sangat dibutuhkan agar operasional mereka tidak berhenti," lanjut Arief.
Pemberian insentif ini diharapkan dapat menjadi bantalan bagi para pelaku usaha komoditas agar tetap kompetitif di pasar global, meskipun biaya logistik dunia tengah mengalami tren kenaikan akibat ketegangan di Timur Tengah.
#eksportir-sulsel #insentif-eksportir #krisis-energi #harga-logistik #konflik-geopolitik #pasokan-energi #biaya-logistik #daya-saing-ekspor #distribusi-minyak #impor-bbm #harga-energi #subsidi-solar #t