IHSG Tertekan MSCI, Analis: Cuma Sementara, Cek Saham BBCA-JPFA

IHSG Tertekan MSCI, Analis: Cuma Sementara, Cek Saham BBCA-JPFA

IHSG melemah akibat perubahan metode free float MSCI, tetapi analis menilai dampaknya sementara dan mengimbau investor Fokus pada saham berfundamental kuat.

(Bisnis.Com) 29/10/25 14:27 20168

Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir akibat sentimen perubahan metode perhitungan free float Morgan Stanley Capital International (MSCI) hanya sementara dan mengimbau untuk fokus pada saham berfundamental kuat.

Pada perdagangan Selasa (28/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 24,52 poin atau 0,3% ke level 8.092. Tercatat investor asing melakukan aksi jual dengan nilai net foreign sell sebesar Rp1,2 triliun.

Pelemahan ini mengikuti pelemahan IHSG hari sebelumnya yang tercatat turun 1,87%. Bahkan kemarin IHSG sempat tutup lebih dari 3,3% pada perdagangan intraday.

Riset UOB Kay Hian Sekuritas, Selasa (28/10/2025), menyebut penurunan indeks bersifat sementara, dan investor disarankan untuk tetap fokus pada emiten berfundamental kuat dengan valuasi menarik, khususnya dari kelompok big-cap laggards.

“Perubahan ini masih berada pada tahap konsultasi hingga 31 Desember 2025, dan belum memiliki dampak langsung terhadap perdagangan,” tulis analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus.

MSCI tengah mempertimbangkan penggunaan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai acuan tambahan dalam menghitung free float saham Indonesia. Dalam usulan tersebut, MSCI akan mengambil nilai free float terendah antara estimasi internal dan data KSEI, dengan kepemilikan korporasi dan pihak non-publik akan dikeluarkan dari perhitungan.

Menurut UOB Kay Hian, skema baru ini dapat menyebabkan beberapa saham berisiko dikeluarkan dari indeks MSCI Indonesia, seperti ICBP, KLBF, INDF, CPIN, AMRT, AMMN, dan CUAN, bila batas free float minimum dinaikkan.

Namun, analis menilai reaksi pasar yang menekan IHSG kali ini lebih bersifat jangka pendek. Kondisi ini justru bisa dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pada saham-saham dengan fundamental solid, yang valuasinya telah menarik setelah terkoreksi.

UOB Kay Hian merekomendasikan beberapa saham pilihan yang berpotensi unggul dalam jangka menengah, antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA).

Menurutnya, perubahan metodologi MSCI ini baru akan berlaku pada Mei 2026, bersamaan dengan pembaruan global terhadap sistem free float adjustment yang lebih komprehensif.

“Dengan horizon waktu yang masih panjang, investor memiliki ruang untuk memposisikan portofolio pada saham-saham dengan kinerja solid, earnings visibility jelas, dan valuasi yang relatif murah,” seperti dalam riset tersebut.

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Research, Liza Camelia Suryanata menilai anjloknya IHSG yang terjadi pada Senin kemarin lebih ke normal profit-taking dan reposisi dana dalam negeri, bukan penarikan modal asing.

"Investor asing tetap bertahan, hanya lebih selektif memilih saham yang likuid, valuasi fair, dan punya free float besar," ujarnya.

Dia menyebut investor asing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp340 miliar di regular market dan Rp1,2 triliun di semua market. "Isu MSCI ini lebih soal rotasi dan redistribusi dana, bukan flight to safety keluar dari Indonesia," ujarnya.

Sesaat setelah isu MSCI update muncul pada Senin kemarin, IHSG langsung ambles hingga melebihi 3,3%, meskipun berhasil rebound dan ditutup minus 1,87%.

Namun, pada hari yang sama, saham BBCA tercatat naik ke level Rp 8.350 dengan net foreign buy Rp338,43 miliar. Tercatat volume perdagangan mencapai 1,82 juta lot saham dengan nilai turnover Rp1,51 triliun, kedua terbesar pada hari tersebut.

BBCA mencatatkan laba bersih Rp43,4 triliun hingga akhir September 2025, tumbuh 6% secara tahunan. Adapun, pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 8% yoy ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 5% dan pendapatan non-bunga 12%.

Beban operasional tetap terjaga dengan kenaikan hanya 4%, sehingga rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) stabil di level 29%, lebih baik dari panduan tahunan 32%.

#ihsg #msci #saham-bbca #saham-jpfa #net-foreign-sell #free-float-msci #big-cap-laggards #saham-berfundamental-kuat #perubahan-metodologi-msci #saham-pilihan-uob #net-foreign-buy #valuasi-menarik #saha

https://market.bisnis.com/read/20251029/189/1924376/ihsg-tertekan-msci-analis-cuma-sementara-cek-saham-bbca-jpfa