Boeing Pangkas Kerugian pada Kuartal I 2026, Pendapatan Naik 18 Persen
Pabrikan pesawat Boeing membuka 2026 dengan perbaikan kinerja keuangan di tengah upaya pemulihan bisnis komersial dan pertahanan.
(Kompas.com) 22/04/26 18:53 199601
JAKARTA, KOMPAS.com — Pabrikan pesawat Boeing membuka 2026 dengan perbaikan kinerja keuangan di tengah upaya pemulihan bisnis komersial dan pertahanan yang masih berlangsung.
Pada kuartal I 2026, Boeing membukukan pendapatan 22,2 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 381,7 triliun (asumsi kurs Rp 17.194 per dollar AS), naik 18 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Seiring kenaikan pendapatan, kerugian bersih perusahaan menyusut tajam menjadi 7 juta dollar AS atau sekitar Rp 120,4 miliar.
AFP/MAURICIO LIMA Ilustrasi pesawat Boeing 737-500Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Boeing mencatat rugi 31 juta dollar AS atau sekitar Rp 533 miliar.
Presiden sekaligus Chief Executive Officer Boeing Kelly Ortberg menyatakan perusahaan terus menunjukkan kemajuan dalam upaya menstabilkan operasi.
“Perusahaan kami bergerak ke arah yang benar seiring kami terus meningkatkan kinerja operasional dan melaksanakan rencana pemulihan kami,” ujar Ortberg dalam paparan kinerja kuartalan perusahaan, dikutip dari laman resmi Boeing, Rabu (22/4/2026).
Ditopang kenaikan pengiriman pesawat
Perbaikan kinerja terutama ditopang kenaikan pengiriman pesawat komersial.
Pada kuartal I 2026, Boeing mengirimkan 143 pesawat, meningkat dibanding 130 unit pada periode sama tahun sebelumnya.
Segmen Commercial Airplanes mencatat pendapatan 9,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 158,2 triliun, naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama berasal dari volume pengiriman yang lebih tinggi.
SHUTTERSTOCK/WHITELION61 Ilustrasi Boeing 737-800.Meski demikian, segmen ini masih mencatat kerugian operasional 563 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,68 triliun.
Margin operasi juga masih berada di zona negatif, mencerminkan tantangan yang belum sepenuhnya teratasi dalam pemulihan produksi dan rantai pasok.
Di lini produksi, Boeing melanjutkan peningkatan output pesawat Boeing 737 MAX hingga 42 unit per bulan setelah pembatasan regulator mulai dilonggarkan.
Perusahaan juga melanjutkan ekspansi lini produksi baru 737 MAX di Everett, Washington, Amerika Serikat (AS).
Selain itu, Boeing menyampaikan sertifikasi untuk varian 737 MAX 7 dan MAX 10 masih ditargetkan tercapai pada 2026, dengan pengiriman dimulai pada 2027.
Kemajuan di bisnis komersial juga tercermin dari pertumbuhan backlog atau nilai pesanan tertunda yang mendekati 700 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 12.035 triliun.
Backlog tersebut menjadi salah satu indikator permintaan jangka panjang yang masih kuat di tengah pemulihan industri penerbangan global.
Arus kas masih negatif
Di tengah kenaikan pendapatan dan pengiriman, Boeing masih mencatat arus kas bebas negatif.
Perusahaan membukukan cash burn sebesar 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 25,79 triliun pada kuartal I 2026.
Dana itu disebut antara lain digunakan untuk investasi peningkatan produksi, termasuk pengembangan lini manufaktur serta program pesawat berbadan lebar.
Ortberg mengatakan fokus perusahaan saat ini bukan hanya memperbaiki profitabilitas, tetapi juga memastikan stabilitas produksi dan pengiriman.
“Kami fokus pada peningkatan produksi secara aman, peningkatan pelaksanaan di seluruh program kami, dan pemulihan kinerja keuangan,” kata dia.
PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH Ilustrasi pesawat.Manajemen Boeing juga menyatakan tetap menargetkan pembalikan menuju arus kas positif pada akhir 2026, didorong peningkatan output dan disiplin biaya.
Di luar kinerja operasional, pasar juga menyoroti pemulihan fundamental perusahaan setelah beberapa tahun dibayangi persoalan kualitas produksi, tekanan regulasi, dan lonjakan biaya program pertahanan.
Hasil kuartal I 2026 dinilai memberi sinyal awal pemulihan, terutama karena kerugian inti atau coreloss per saham tercatat 20 sen, lebih baik dibanding ekspektasi analis sebesar 83 sen.
Bisnis pertahanan dan jasa ikut menopang
Selain bisnis komersial, segmen Defense, Space & Security juga menopang hasil kuartalan.
Unit tersebut mencatat laba operasional 233 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,01 triliun, melonjak 50 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Kinerja itu didukung permintaan pertahanan global yang meningkat serta kontribusi dari sejumlah program, termasuk Artemis II dan pesawat militer.
Kinerja pertahanan menjadi salah satu penopang penting bagi Boeing di tengah transformasi yang masih berlangsung pada bisnis komersial.
Di sisi layanan, Boeing Global Services juga mencatat pertumbuhan.
Pendapatan operasi unit ini mencapai 971 juta dollar AS atau sekitar Rp 16,69 triliun, naik 3 persen secara tahunan.
Meski margin sedikit tertekan setelah divestasi unit Jeppesen, bisnis jasa dinilai tetap memberikan kontribusi stabil terhadap kinerja grup.
Fokus pemulihan berlanjut
Secara operasional, peningkatan pengiriman pesawat menjadi sorotan utama. Dari total 143 pesawat komersial yang dikirim selama kuartal pertama, 114 unit berasal dari keluarga 737.
Volume itu naik dibanding periode sama tahun lalu, sekaligus melampaui sejumlah ekspektasi pasar.
Kenaikan pengiriman tersebut berkontribusi terhadap kenaikan penjualan dan memperbaiki prospek arus kas perusahaan pada paruh kedua tahun ini.
Ortberg menegaskan perusahaan akan melanjutkan fokus pada eksekusi program dan pemulihan bertahap.
“Kami terus membuat kemajuan dalam pemulihan kami dan tetap fokus pada pelaksanaan rencana kami,” ujar dia.
Dengan pendapatan 22,2 miliar dollar AS atau Rp 381,7 triliun, rugi bersih yang turun menjadi 7 juta dollar AS atau Rp 120,4 miliar, serta backlog mendekati 700 miliar dollar AS atau Rp 12.035 triliun, kuartal I menjadi indikator penting arah pemulihan Boeing sepanjang 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang