Ekonom: Perjanjian dagang perkuat upaya pengalihan pasar ekspor

Ekonom: Perjanjian dagang perkuat upaya pengalihan pasar ekspor

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pengalihan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional ...

(Antara) 17/04/26 13:47 194502

Pemanfaatan pasar Eropa melalui IEU-CEPA dengan standar emisi yang ketat menjadi peluang seperti baja hijau hingga produk perkebunan

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pengalihan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional dapat diperkuat dengan realisasi perjanjian-perjanjian dagang internasional Indonesia beberapa waktu terakhir.

Bhima saat dihubungi di Jakarta, Jumat, memberikan contoh Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) yang membuka peluang Indonesia melakukan perdagangan produk komoditas energi dan perkebunan yang ramah lingkungan.

“Pemanfaatan pasar Eropa melalui IEU-CEPA dengan standar emisi yang ketat menjadi peluang seperti baja hijau hingga produk perkebunan dengan pemenuhan syarat EUDR (Peraturan Deforestasi Uni Eropa),” kata Bhima.

Lebih lanjut, ia mengatakan Indonesia juga memiliki peluang perdagangan bilateral lainnya dengan negara-negara nontradisional seperti Tunisia melalui Perjanjian Perdagangan Preferensial Indonesia-Tunisia (IT-PTA), Amerika Latin melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Peru (IP-CEPA), hingga Rusia melalui Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).

“Pengembangan pasar nontradisional ekspor yang paling mendesak salah satunya Amerika Tengah dan Selatan, Rusia, Tunisia, hingga Kepulauan Pasifik seperti Solomon, Fiji dan Vanuatu,” ujar Bhima.

Sementara itu, ia juga menilai China masih menjadi tujuan ekspor yang cukup potensial bagi Indonesia karena pertumbuhan ekonomi yang stabil dan memiliki permintaan (demand) di Negeri Tirai Bambu yang cukup tinggi.

“Pengalihan pasar ekspor sebaiknya ke China karena pertumbuhan ekonomi masih terjaga di angka 5 persen. Masih cukup solid ditopang permintaan domestik China yang besar,” kata dia.

Selain itu, Bhima juga menyarankan agar Indonesia adaptif dalam pengembangan kualitas produk agar berdaya saing lebih tinggi di panggung dunia.

“Disarankan juga lakukan diversifikasi produk nonmigas seperti modul panel surya, hingga bahan baku kosmetik,” ujar dia.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan daya saing menjadi kunci utama agar Indonesia tidak kehilangan potensi pasar ekspor di tengah perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel.

“Pengalihan pasar produk unggulan ke kawasan yang tidak terdampak jalur Selat Hormuz itu otomatis dilakukan oleh negara-negara lain juga. Sebelum pengalihan pasar ini, pada dasarnya pengalihan rantai pasok juga sudah terjadi duluan gitu ketika terjadi perang. Nah kemudian diikuti juga dengan pengalihan pasar ketika konfliknya itu makin panjang,” jelas Faisal.

“Tentu saja faktor yang berpengaruh sekali disini adalah memang biaya logistik dan bagaimana hambatan perdagangan yang diterapkan oleh pasar-pasar baru tadi, baik itu hambatan tarif maupun juga nontarif. Itu yang menentukan,” imbuhnya.

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

#celios #core-indonesia #ekspor-indonesia #ekspor #selat-hormuz #perang-iran

https://www.antaranews.com/berita/5530601/ekonom-perjanjian-dagang-perkuat-upaya-pengalihan-pasar-ekspor