GAPKI Pede Ekspor CPO RI ke AS Stabil Meski Ada Kebijakan Tarif Baru Trump
GAPKI yakin ekspor CPO RI ke AS tetap stabil meski ada kebijakan baru Trump yang mengenakan tarif lebih rendah ke Malaysia hingga Kamboja.
(Bisnis.Com) 29/10/25 06:15 19416
Bisnis.com,JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimistis kinerja ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke Amerika Serikat (AS) tak tergerus kebijakan tarif baru Presiden Donald Trump.
Terbaru, Trump memberikan tarif 0% untuk sejumlah barang dari Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Ketiga negara tersebut mendapatkan tarif resiprokal baru sebesar 0% untuk sejumlah produk.
Sejumlah produk yang dimaksud seperti peralatan kedirgantaraan, produk farmasi, serta komoditas seperti minyak sawit, kakao, dan karet. Di sisi lain, Malaysia merupakan salah satu produsen minyak sawit, seperti halnya Indonesia.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, pihaknya tetap optimistis ekspor CPO Indonesia ke Negeri Paman Sam tetap solid meski Indonesia masih dikenakan tarif 19% atau jauh lebih besar dari Malaysia yang 0%.
Optimisme ini didasarkan pada dominasi pangsa pasar Indonesia yang mencapai hampir 90% di negara tersebut. Eddy menyebut, AS berada pada urutan keempat sebagai negara tujuan ekspor sawit, setelah China, India, dan Pakistan.
“Market share kita di AS itu sangat tinggi, 89,9% atau hampir 90%. Jadi kita masih optimis untuk pasar Amerika, masih cukup bagus,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Eddy menjelaskan ekspor sawit ke AS sempat mengalami penurunan pada 2023—2024. Kendati demikian, pelaku usaha menargetkan pengiriman tahun ini dapat minimal menyamai capaian 2024.
“Memang terjadi penurunan di 2023–2024. Mudah-mudahan bisa kembali seperti 2023, walaupun agak susah. Paling tidak sama dengan 2024. Tapi artinya bahwa pangsa pasar kita di Amerika masih cukup bagus,” jelasnya.
Selain itu, Eddy menekankan bahwa salah satu faktor utama kuatnya posisi Indonesia di AS adalah minimnya isu negatif terhadap sektor sawit nasional di pasar tersebut. Berbeda dengan Eropa yang kerap mengangkat isu lingkungan dan tenaga kerja, AS dinilai tidak menempatkan isu tersebut sebagai hambatan utama.
“Di Amerika kita tidak ada isu. Isu tenaga kerja tidak ada, isu trade labor juga nggak ada. Jadi ini cukup bagus,” ujarnya.
Seperti diketahui, Trump memberikan tarif 0% untuk sejumlah barang dari Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Kesepakatan ini ditandatangani dalam KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Kuala Lumpur, beberapa waktu lalu.
Dilansir dari Reuters, sebelumnya ketiga negara tersebut mendapatkan tarif resiprokal sebesar 19%. Namun, dengan kesepakatan baru ini, beberapa produk kini memperoleh bea masuk 0%.
Adapun Malaysia mendapat pembebasan tarif untuk peralatan kedirgantaraan, produk farmasi, serta komoditas seperti minyak sawit, kakao, dan karet.
#ekspor-cpo #minyak-sawit-mentah #ekspor-sawit #tarif-as #tarif-trump #gapki-ekspor #tarif-baru-trump #cpo-ke-as #ekspor-sawit-indonesia #pangsa-pasar-sawit #tarif-0-malaysia #kebijakan-tarif-as #pasa