Sukuk Ritel SR024 Laris Manis, Likuiditas Investor Domestik Solid
Permintaan tinggi Sukuk Ritel SR024 menunjukkan likuiditas investor domestik yang kuat, didorong imbal hasil kompetitif dan stabilitas di tengah ketidakpastian global.
(Bisnis.Com) 15/04/26 09:15 191658
Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan permintaan terhadap Sukuk Ritel SR024 menegaskan kuatnya likuiditas investor domestik di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan.
Antusiasme tersebut memaksa pemerintah menambah kuota penawaran di akhir masa distribusi, tetapi tetap belum mampu meredam laju penyerapan yang masif.
Melansir Bibit, Selasa (14/4/2026) pukul 18.10 WIB, data penjualan menunjukkan SR024-T3 hanya menyisakan 1,7% atau Rp204 miliar, sementara SR024-T5 tersisa 4,7% atau Rp256,55 miliar dari target masing-masing.
Dengan demikian, total penyerapan produk ini telah mencapai sedikitnya Rp16,99 triliun, termasuk tambahan kuota Rp2,5 triliun yang diberikan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
Penambahan kuota tersebut terdiri atas Rp2 triliun untuk tenor tiga tahun (SR024-T3) dan Rp500 miliar untuk tenor lima tahun (SR024-T5).
Direktur Utama Tanamduit, Rini Hapsari mengatakan capaian ini mencerminkan bahwa instrumen SBN ritel masih relevan di tengah dinamika pasar global.
“Karakteristik ini membuat SBN Ritel tetap menarik, terutama bagi investor yang cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana dan mencari instrumen yang relatif stabil untuk menjaga kualitas portofolionya,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, kombinasi imbal hasil yang kompetitif, pembayaran kupon bulanan, serta jaminan negara menjadi faktor utama pendorong permintaan.
Di sisi lain, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai kuatnya serapan tidak lepas dari kondisi likuiditas masyarakat yang sedang solid.
Dia menjelaskan bahwa periode menjelang tahun ajaran baru biasanya diwarnai dengan peningkatan tabungan masyarakat, yang kemudian dialokasikan ke instrumen investasi terukur.
“Masa sebelum sekolah, likuiditas masyarakat tadi, mereka masuk di instrumen-instrumen seperti ini yang terukur,” katanya.
Selain itu, jatuh tempo SR018-T3 pada Maret 2026 juga memicu aksi reinvestasi ke instrumen serupa.
Ramdhan menambahkan bahwa faktor imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan SBN ritel sebelumnya turut memperkuat daya tarik SR024.
Sementara itu, ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai fenomena ini juga dipengaruhi oleh sentimen risk-off di pasar global. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berisiko rendah seperti SBN di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Market juga lebih cenderung masuk ke aset yang relatif berisiko rendah seperti SBN,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, SR024 menjadi salah satu tujuan utama penempatan dana investor domestik dalam menjaga stabilitas portofolio.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#sukuk-ritel #sr024 #likuiditas-investor #investor-domestik #pasar-keuangan #penawaran-sukuk #sr024-t3 #sr024-t5 #kementerian-keuangan #instrumen-sbn #imbal-hasil #kupon-bulanan #jaminan-negara #reinve