Emiten Eksekusi Rights Issue untuk Kerek Free Float, BEI Perlu Apresiasi?
Emiten seperti BNBR, BUVA, dan BABY melakukan rights issue untuk memenuhi aturan free float 15%. Analis menyoroti likuiditas pasar yang fluktuatif.
(Bisnis.Com) 13/04/26 19:50 190100
Bisnis.com, JAKARTA – Aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) ataurights issuemenjadi jalan perusahaan tercatat untuk memenuhi aturan free float 15%. Namun demikian, analis menyoroti likuiditas yang ada di pasar yang tengah fluktuatif.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sejumlah emiten yang akan rights issue adalah PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) yang berencana menerbitkan 86,70 miliar saham biasa seri E.
Selain BNBR, aksi serupa juga diumumkan oleh emiten milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) yang berencana melakukan rights issue dengan total saham mencapai 50 miliar lembar saham baru. Dengan nominal Rp50 per saham, BUVA berencana menggelontorkan dana hasil rights issue untuk belanja modal, yang mencakup pembelian lahan, pengembangan aset serta usaha, pengambilalihan perusahaan, hingga mewujudkan pertumbuhan anorganik perseroan.
Aksi rights issue juga dilakukan oleh PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) dengan mengeluarkan 238,59 juta lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp590 per saham. Aksi ini dilakukan dalam rangka aksi akuisisi dan belanja modal.
Adapun, rights issue sebagai sebuah aksi korporasi kini tidak dapat dipandang hanya pada rencana penggunaan dana, tetapi merinci pada daya serap pasar terhadap penerbitan saham baru tersebut.
Di tengah risiko kurangnya likuiditas dalam negeri, kalangan analis menyoroti upaya yang dapat dilakukan BEI dalam rencana aksi korporasi ini. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menyoroti soal kemampuan BEI menjaga keseimbangan antara peningkatan free float dan stabilitas likuiditas pasar dengan pendekatan yang lebih fleksibel.
Pasalnya, regulator dinilai berada dalam posisi yang cukup menantang saat ini. Aksi peningkatan freefloat, pada satu sisi, baik untuk kedalaman pasar jangka panjang. Namun, likuiditas yang seret kian berisiko terhadap fluktuasi pasar.
”Sehingga regulator perlu menjaga keseimbangan antara peningkatan free float dan stabilitas likuiditas pasar dengan pendekatan yang lebih fleksibel, selektif, serta didukung penguatan sisi demand agar tidak menimbulkan tekanan berlebih dan tetap mendukung pertumbuhan pasar yang sehat,” kata Alrich.
Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menyoroti ketegasan regulator dalam melakukan validasi atas tujuan penggunaan dana agar aksi korporasi ini tidak sekadar menjadi alat rekayasa keuangan. Di satu sisi, perlu adanya insentif dan disinsentif untuk emiten yang melakukan aksi ini. Artinya, jika aksi korporasi ini berhasil mengerek free float emiten yang belum menapaki ambang batas, regulator perlu memberikan insentif bagi emiten.
”Namun juga memberikan peringatan bagi emiten yang melakukan RI berulang kali tanpa ada perbaikan performa fundamental,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#rights-issue #free-float #bei #emiten #modal #saham #likuiditas-pasar #bakrie-brothers #bukit-uluwatu-villa #multitrend-indo #akuisisi #belanja-modal #pertumbuhan-anorganik #daya-serap-pasar #stabilit