KLH Perkirakan Puncak Emisi Karbon Indonesia setelah 2035
Puncak emisi karbon Indonesia diprediksi terjadi setelah 2035, didorong sektor energi. Upaya penurunan emisi ditopang sektor FOLU dan skenario mitigasi.
(Bisnis.Com) 28/10/25 16:30 18781
Bisnis.com, JAKARTA — Puncak emisi Indonesia diperkirakan tidak terjadi pada kurun 2030–2035 karena jejak karbon dari sektor energi yang masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup mengemukakan upaya penurunan emisi dalam Second NDC akan ditopang oleh penyerapan dari sektor Forest and Other Land Use (FOLU).
“Di dalam dokumen Second NDC, sampai 2035 kita belum sampai ke puncak emisi,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq kepada media di Jakarta pada Selasa (28/10/2025).
Hanif mengemukakan bahwa kenaikan tingkat emisi didorong oleh sektor energi. Berdasarkan perkiraan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Hanif menyebut emisi sektor energi akan mencapai puncak pada 2038.
“Sektor energi diproyeksikan mencapai puncak emisi pada 2038, sesuai dengan skenario dari ESDM. Namun pada 2035, angka emisi total kita telah kita tarik ke bawah,” papar Hanif.
Mengutip dokumen Second NDC yang telah diserahkan Indonesia dan tercatat dalam registri UNFCCC, tingkat emisi Indonesia diestimasi dengan mengacu pada tiga skenario.
Dalam skenario pertama dengan mengacu pada kebijakan saat ini (current policy scenario/CPOS), pertumbuhan ekonomi diasumsikan mencapai 6% pada 2030 dan 6,7% pada 2035. Adapun tingkat emisi pada masing-masing tahun tersebut mencapai 1,78 juta Gg (Gigagram) setara karbon dioksida (CO2e).
Adapun dalam skenario kedua yakni LCCP_L, pertumbuhan ekonomi memiliki asumsi yang serupa dengan CPOS. Namun proyeksi emisi ini didukung dengan peningkatan aksi mitigasi melalui pendanaan, teknologi dan peningkatan kapasitas. Sehingga emisi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 1,34 juta Gg CO2e pada 2030 dan 1,2 juta Gg CO2e pada 2035.
Dalam skenario ini, emisi dari sektor energi pada 2030 mencapai 1,07 juta Gg CO2e dan pada 2035 naik menjadi 1,10 juta Gg CO2e. Pada 2035, serapan bersih sektor FOLU berjumlah -168.412 Gg CO2e.
Terakhir melalui skenario emisi tinggi atau LCCP_H di mana pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 8% seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2025–2029, tingkat emisi pada 2030 diperkirakan mencapai 1,49 juta Gg CO2e dan pada 2035 sebesar 1,25 juta Gg CO2e.
Emisi sektor energi menembus 1,24 juta Gg CO2e pada 2030 dan 1,33 juta Gg CO2e pada 2035, sementara serapan bersih sektor FOLU mencapai -206.897 Gg CO2e pada 2035.
“Peran sektor FOLU sangat besar dalam penyerapan. Kami memperkirakan sektor FOLU pada 2035 harus mampu -2,06 juta ton CO2 ekuivalen. Artinya harus ada kegiatan reforestasi yang lebih tinggi daripada deforestasinya,” kata Hanif.
#emisi-karbon-indonesia #puncak-emisi-2035 #sektor-energi-emisi #penurunan-emisi-indonesia #second-ndc-indonesia #sektor-folu-penyerapan #skenario-emisi-indonesia #kebijakan-emisi-indonesia #pertumbuha