Bali Usul Distribusi Logistik ke 4 Pelabuhan Alternatif Buntut Macet Gilimanuk

Bali Usul Distribusi Logistik ke 4 Pelabuhan Alternatif Buntut Macet Gilimanuk

Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk saat Lebaran 2026 mendorong Bali mengusulkan distribusi logistik ke empat pelabuhan alternatif untuk mengurangi beban lalu lintas.

(Bisnis.Com) 08/04/26 14:07 185097

Bisnis.com, JAKARTA — Kemacetan parah di Pelabuhan Gilimanuk saat Lebaran 2026 mendorong Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan skema pengalihan arus logistik dari lintasan Ketapang–Gilimanuk ke sejumlah pelabuhan alternatif.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan lonjakan kendaraan dari Jawa ke Bali makin tinggi, terutama sejak jaringan jalan tol di Pulau Jawa tersambung hingga mendekati Banyuwangi.

Menurutnya, perubahan pola perjalanan wisatawan yang kini lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi turut memperparah kepadatan. Di sisi lain, arus angkutan logistik yang terpusat melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk disebut menjadi salah satu pemicu utama kemacetan, terutama saat periode libur panjang.

“Ini jadi salah satu unsur penyebab kemacetan tertinggi adalah angkutan logistik yang menyeberang dari Ketapang. Pada hari raya kemarin macetnya luar biasa,” kata Koster dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, Rabu (8/4/2026).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Bali mendorong distribusi barang dari Jawa dialihkan langsung ke empat pelabuhan alternatif di Bali.

Pelabuhan Celukan Bawang dan Sangsit di Buleleng disiapkan untuk melayani distribusi ke wilayah utara. Sementara itu, Pelabuhan Amed di Karangasem diarahkan untuk wilayah timur, dan Pelabuhan Gunaksa di Klungkung untuk wilayah selatan.

Koster mengatakan konsep tersebut telah mendapat respons positif dari Kementerian Perhubungan. Menurutnya, kebutuhan investasi untuk pengembangan skema itu tidak terlalu besar, tetapi berpotensi signifikan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas darat dari arah Gilimanuk.

Di sisi lain, tekanan terhadap infrastruktur Bali dinilai terus meningkat seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Pada Februari 2026, jumlah kunjungan wisman melalui jalur udara tercatat mencapai 782.600 kunjungan atau tumbuh 8,90% secara tahunan. Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar (DPS) bersama Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menyumbang 88,32% dari total kunjungan nasional atau setara 691.220 kunjungan.

Koster menilai tingginya minat wisatawan tetap menjadi peluang bagi perekonomian Bali, tetapi pada saat yang sama meningkatkan tekanan terhadap kapasitas infrastruktur yang ada.

“Kalau Bali terlambat mengatasi infrastruktur, daya saing pariwisata akan tertinggal,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi V DPR Lasarus menilai kapasitas Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk saat ini telah melampaui batas.

Menurutnya, kondisi overcapacity membuat pengaturan arus penyeberangan tidak lagi efektif ketika volume kendaraan meningkat tajam.

“Kemenhub pun tidak mampu mengatur kalau sudah membludak. Pelabuhan ada daya tampung, dan itu sudah overcapacity,” kata Lasarus.

Dia menilai pemecahan jalur distribusi logistik melalui pelabuhan alternatif menjadi langkah penting untuk mengurangi beban di lintasan utama, seperti yang pernah dilakukan pada lintasan Merak–Bakauheni.

Berkaca pada angkutan Lebaran 2026, antrean kendaraan sempat mengular hingga puluhan kilometer menuju Pelabuhan Ketapang menjelang penutupan pelabuhan saat Hari Raya Nyepi.

Sementara itu, pada arus balik, kemacetan serupa juga terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk. Kepadatan pada kedua lintasan tersebut didominasi angkutan barang berupa truk besar sumbu tiga atau lebih, meskipun kendaraan jenis itu telah dilarang melintas selama masa Lebaran.

#bali-distribusi-logistik #pelabuhan-alternatif-bali #kemacetan-gilimanuk #arus-logistik-ketapang #pelabuhan-celukan-bawang #pelabuhan-sangsit-buleleng #pelabuhan-amed-karangasem #pelabuhan-gunaksa-klu

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260408/98/1965061/bali-usul-distribusi-logistik-ke-4-pelabuhan-alternatif-buntut-macet-gilimanuk