Minat Investasi Properti Apartemen Kian Turun, Ini Biang Keroknya
Tren minat masyarakat untuk investasi properti berupa apartemen terus mengalami penurunan akibat berbagai faktor. Berikut penjelasannya.
(Bisnis.Com) 07/04/26 19:30 184329
Bisnis.com, JAKARTA — Investasi pada sektor hunian vertikal atau apartemen dinilai tidak lagi memberikan imbal hasil yang kompetitif seiring dengan tingginya biaya operasional dan seretnya pendapatan berulang (recurring income).
Sekretaris Jenderal DPP Realestate Indonesia (REI) Raymond Arfandy menyatakan tren penjualan apartemen terus mengalami penurunan akibat pergeseran persepsi pasar terhadap keuntungan properti vertikal.
"Tren penjualan hunian vertikal memang menurun karena segmen ini masih dominan sebagai investasi properti yang dipandang bisa menguntungkan, sedangkan faktanya tidak demikian," kata Raymond kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa saat ini banyak unit hunian vertikal yang mengendap dan tidak terjual karena melemahnya permintaan secara drastis. Penurunan ini terjadi baik pada kelompok pembeli yang mengincar investasi maupun mereka yang memiliki kebutuhan hunian.
Pasalnya, tambah Raymond, daya tarik investasi apartemen sangat ditentukan oleh perputaran uang di pasar dan kondisi ekonomi makro. Ketika likuiditas di masyarakat terbatas, minat investor untuk menempatkan dana pada aset hunian vertikal otomatis menyusut.
"Investasi hunian vertikal sangat bergantung pada keadaan ekonomi yang tinggi, dilihat dari banyak uang yang beredar atau tidak, jika tidak maka otomatis investasi ini kurang peminat," lanjutnya.
Raymond menambahkan bahwa ekonomi properti merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi global. Pemulihan pasar apartemen ke depan sangat bergantung pada stabilitas dan perbaikan kondisi ekonomi secara menyeluruh.
Lemahnya permintaan pasar itu membuat para investor bergeser. Hal itu tercermin dari komposisi investor dan end user (pengguna langsung) unit apartemen yang saat ini dinilai jauh lebih mendominasi.
Mengacu pada data Konsultan Properti JLL Indonesia, kepemilikan apartemen pada Kuartal IV/2025 didominasi oleh pengguna langsung dengan total mencapai 52%, sedangkan sisanya yakni sebanyak 48% merupakan investor.
Posisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan komposisi kepemilikan apartemen pada masa property boom hunian vertikal yang terjadi di sekitar tahun 2013. Di mana, posisinya ada di kisaran investor 60% sedangkan end user hanya 40%.
Berdasarkan catatan Bisnis, Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menjelaskan sepanjang 2023 selisih antara imbal hasil investasi apartemen dengan obligasi saja mencapai 113 basis poin (bps).
Perinciannya, rata-rata imbal hasil investasi apartemen pada 2023 yakni sebesar 3,92%, sedangkan yield investasi deposito sebesar 5,05%.
Sementara itu, apabila mengacu pada kondisi yield apartemen dan deposito pada 2017, posisinya tidak terlalu terpaut jauh. Sehingga, pasar apartemen masih banyak diminati investor.
"Di tahun 2017 contohnya, rata-rata yield apartemen itu skitar 5,6% sementara yang ditawarkan time deposit saat itu hampir 6% (5,98%). Selisihnya tak terlalu jauh, sehingga orang masih bisa mempertimbangkan anatara apartemen atau deposito," pungkasnya.
#investasi-apartemen #hunian-vertikal #penjualan-apartemen #properti-vertikal #investasi-properti #permintaan-apartemen #daya-tarik-investasi #ekonomi-properti #pasar-apartemen #investor-apartemen #pen