Momentum Percepat Bioavtur ketika Harga Avtur Melonjak 70%,

Momentum Percepat Bioavtur ketika Harga Avtur Melonjak 70%,

Harga avtur melonjak 70% di April 2026. Hal ini mendorong percepatan penggunaan bioavtur sebagai solusi jangka panjang.

(Bisnis.Com) 04/04/26 02:27 181317

Bisnis.com, JAKARTA — Harga avtur melonjak hingga 70% untuk periode April 2026. Kenaikan harga itu dinilai bisa menjadi momentum pemerintah mendorong penggunaan bioavtur alias Sustainable Aviation Fuel (SAF).

PT Pertamina (Persero) sebagai penyedia avtur penerbangan nasional merilis harga terbaru yang berlaku untuk 1–30 April 2026. Untuk domestik, harga avtur terpantau naik rata-rata 70%, sedangkan untuk internasional naik 80% (berbeda tiap bandara) dibandingkan dengan harga Maret 2026.

Sebagai contoh, untuk Bandara Soekarno-Hatta Tangerang (CGK), harga avtur domestik per 1–31 Maret 2026 adalah Rp13.656,51 per liter, sedangkan pada periode 1–30 April 2026 harganya naik menjadi Rp23.551,08 per liter. Artinya, terdapat lonjakan hingga Rp9.894,57 per liter atau sekitar 72,45% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Bahkan, jika dibandingkan dengan harga avtur domestik rata-rata pada 2019 atau pada saat tarif batas atas (TBA) mulai diberlakukan, yaitu Rp7.970, maka kenaikannya mencapai 195%.

PT Pertamina Patra Niaga pun mengklaim kenaikan harga avtur tak lepas dari dinamika global. Perusahaan mengatakan, keputusan menaikkan harga telah mempertimbangkan banyak hal.

"Kenaikan avtur ini mempertimbangkan berbagai hal karena harga avtur memang mengacu harga global dan ada unsur kepentingan nasional," ucap Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun kepada Bisnis, Jumat (3/4/2026).

Kendati demikian, Roberth tak memerinci faktor apa saja yang menjadi penyebab harga avtur itu melonjak. Dia juga tak menjelaskan strategi atau langkah perusahaan ke depan untuk membendung kenaikan harga.

Kenaikan harga avtur untuk periode April 2026 pun membuat pelaku usaha penerbangan menjerit. Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (Inaca) mendesak pemerintah segera merealisasikan kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur dan menetapkan TBA penerbangan domestik.

Ketua Umum Inaca Denon Prawiraatmadja meminta agar penyesuaian harus segera dilakukan, mengingat kenaikan harga avtur yang sangat tinggi. Pasalnya, harga avtur memengaruhi sekitar 40% biaya yang dikeluarkan maskapai penerbangan.

“Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan fuel surcharge avtur dan TBA penerbangan domestik,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Denon menekankan penyesuaian fuel surcharge dan TBA perlu segera diberlakukan agar maskapai penerbangan dapat tetap beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan (safety insurance).

Penyesuaian juga diperlukan demi menjaga finansial maskapai agar tetap bisa beroperasi (business sustainability) dan menyediakan konektivitas transportasi udara nasional.

Inaca sebelumnya telah meminta kenaikan fuel surcharge dan TBA masing-masing sebesar 15%. Namun, mengingat kenaikan bahan bakar yang lebih tinggi dari perkiraan, Inaca meminta kenaikan fuel surcharge dan TBA disesuaikan lagi dengan tingkat kenaikan harga avtur saat ini.

Bioavtur Bisa Jadi Solusi?

Di tengah lonjakan harga avtur fosil, sejumlah kalangan menilai pemerintah perlu mempercepat pemanfaatan bioavtur sebagai solusi jangka panjang.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan pemerintah perlu meningkatkan blending atau bauran bahan bakar dengan biofuel, termasuk bioavtur. Menurutnya, Pertamina juga telah memiliki produk SAF berbahan baku minyak jelantah.

"Kan banyak juga teknologi blending, misal minyak jelantah selain biofuel, dan itu prospeknya bagus, walaupun saat ini ekosistemnya belum jelas.

Kalau tetap fokus meredam harga avtur dari fosil, memang agak berat untuk saat ini maupun yang akan datang," tutur Yayan.

Namun, dia menilai pengembangan bioavtur tidak cukup hanya dari sisi bahan bakar. Langkah tersebut juga perlu diiringi strategi efisiensi lain, seperti optimalisasi rute penerbangan, pengaturan lalu lintas udara, dan penjadwalan penerbangan.

“Saya kira studi route optimization yang bisa menghemat 15–20% BBM bisa dilakukan saat ini. Kemudian dilakukan blending biofuel bagi pesawat dengan mesin yang sudah menjalani uji coba,” ujar Yayan.

Pandangan serupa disampaikan praktisi migas Hadi Ismoyo. Dia menilai pengembangan bioavtur mulai mengemuka sebagai solusi struktural atas kenaikan harga avtur.

Dalam jangka panjang, menurut Hadi, bioavtur berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah. Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi bahan baku, seperti minyak sawit dan minyak jelantah.

Produksi bioavtur, kata dia, juga telah diuji di Kilang Pertamina Internasional (KPI) Cilacap dan berpotensi diperluas ke kilang lain seperti Plaju dan Dumai.

“Strategi ke depan agar Pertamina memperluas bioavtur yang tidak tergantung kepada impor crude [minyak mentah]. Bioavtur dibuat dari minyak sawit dan minyak jelantah dan sukses diproduksi di Kilang Cilacap dan bisa diperluas di Plaju dan Dumai,” katanya.

Menurut Hadi, kesiapan infrastruktur kilang dan pengalaman implementasi biodiesel dapat menjadi modal awal untuk mempercepat pengembangan bioavtur. Meski demikian, dia menilai tantangan utama masih berada pada skala ekonomi dan ekosistem industri yang belum sepenuhnya terbentuk.

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai intervensi kebijakan tetap dibutuhkan untuk menjaga likuiditas maskapai di tengah lonjakan biaya operasional.

Dia mengusulkan penerapan skema lindung nilai atau hedging avtur secara kolektif, terutama bagi maskapai kecil dan perintis.

Hedging avtur merupakan cara memproteksi harga dalam jangka panjang. Selama ini mekanisme hedging spesifik untuk avtur secara kolektif belum diatur,” ujarnya.

Selain itu, Bhima juga mendorong pemberian insentif fiskal sementara, seperti penanggungan PPN avtur sebesar 11% dan pungutan BPH Migas selama enam bulan, serta relaksasi pembayaran biaya bandara.

Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga arus kas maskapai agar tetap dapat beroperasi tanpa seluruh beban kenaikan biaya dialihkan kepada penumpang.

Meski demikian, dia menilai arah kebijakan jangka panjang tetap harus bergeser dari sekadar stabilisasi harga menuju transformasi sumber energi.

Dengan basis bahan baku domestik yang tersedia, percepatan pengembangan bioavtur dinilai dapat menjadi salah satu opsi strategis untuk mengurangi tekanan biaya sekaligus memperkuat ketahanan energi sektor penerbangan.

#avtur #harga-avtur #bioavtur #sustainable-aviation-fuel #kenaikan-avtur #pertamina-avtur #avtur-domestik #avtur-internasional #fuel-surcharge #tba-penerbangan #blending-biofuel #minyak-jelantah #kilan

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260404/44/1964172/momentum-percepat-bioavtur-ketika-harga-avtur-melonjak-70