RI Aman dari Darurat Energi, Bahlil Pastikan Pasokan Nasional Memadai
Menteri Bahlil memastikan Indonesia aman dari darurat energi, berbeda dengan negara Asia lain. Pasokan nasional memadai, solar tak lagi impor. Masyarakat diminta bijak.
(Kompas.com) 26/03/26 19:13 173778
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, Indonesia belum dalam kondisi darurat energi, meski sejumlah negara di Asia sudah menyatakan kondisi darurat akibat konflik Timur Tengah.
Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran di kawasan tersebut, telah mengganggu pasokan minyak global dan membuat harga melambung.
Bahlil memastikan, di tengah gejolak global saat ini, pasokan energi nasional masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
PIXABAY/ENGIN AKYURT Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM).Seperti pada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang kini tak lagi mengandalkan impor.
"Sekalipun negara-negara lain, sebagian negara di Asia sudah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara, dalam hal ini darurat, harus saya yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaAllah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear," ujarnya dalam kunjungan kerja di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).
Ia menuturkan, Indonesia memang masih melakukan impor BBM jenis bensin berkisar 50 persen, serta gas alam cair atau liquefied petroleum gas berkisar 70 persen.
Bahlil bilang, untuk kedua produk ini, pihaknya telah mencari alternatif sumber, selain dari negara Timur Tengah.
"Kita sudah mencari alternatif-alternatifnya, termasuk crude (minyak mentah)-nya," ucap dia.
Maka dari itu, Bahlil pun menegaskan bahwa masyarakat tak perlu khawatir dengan ketersediaan energi.
Namun, ia tetap meminta masyarakat untuk menggunakan energi secara bijaksana mengingat kondisi global yang masih bergejolak.
"Sekalipun kita dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita semua. Saya memohon, menyarankan, agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak," pinta Bahlil.
Freepik/jcomp Ilustrasi BBM.Sebagai informasi, Filipina telah mengumumkan keadaan darurat energi nasional pada Selasa (24/3/2026), menyusul meningkatnya risiko terhadap pasokan bahan bakar domestik dan stabilitas energi akibat perang di Timur Tengah.
Kementerian Energi Filipina kini mengaktifkan dana darurat sebesar 20 miliar peso atau sekitar Rp 5,61 triliun. Nilai ini setara 333 juta dollar AS.
Dana tersebut digunakan untuk membeli hingga 2 juta barrel bahan bakar. Pembelian mencakup produk minyak olahan dan elpiji.
Sementara krisis bahan bakar minyak (BBM) tengah melanda Bangladesh.
Terjadi antrean panjang dan kekacauan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Asosiasi pemilik SPBU Bangladesh pun menyampaikan kekhawatiran serius, bahkan mengancam akan menghentikan operasional jika situasi tidak segera diatasi.
Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan (Korsel) telah mengaktifkan mode tanggap darurat nasional pada Rabu (25/3/2026), dengan menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi potensi guncangan akibat konflik Timur Tengah.
Pemerintah Korea Selatan telah meminta masyarakatnya berpartisipasi dalam penghematan energi.
Lembaga publik diwajibkan menerapkan sistem rotasi kendaraan satu hari dalam lima hari kerja.
Kebijakan tersebut membatasi penggunaan kendaraan bermotor, dengan mewajibkan setiap kendaraan tidak beroperasi satu hari dalam sepekan berdasarkan angka terakhir pelat nomor.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#konflik-timur-tengah #pasokan-energi-nasional #darurat-energi-indonesia #tidak-impor-solar