Ekspor Kaltim Anjlok 31% pada Awal 2026, Ini Biang Keroknya
Ekspor Kaltim turun 31% di Januari 2026 akibat penurunan migas dan nonmigas. Tiongkok jadi pasar utama, sementara impor migas naik 10,76%.
(Bisnis.Com) 26/03/26 08:57 173072
Bisnis.com, SAMARINDA — Nilai eksporKalimantan Timur mencatatkan penurunan drastis pada Januari 2026, dengan terjun bebas sebesar 31,25% dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka ekspor yang hanya mencapai US$1,58 miliar itu jauh merosot dari capaian Desember 2025 senilai US$2,30 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur, Mas'ud Rifai, menyatakan kontraksi ekspor tersebut dipicu oleh penurunan tajam di sektor migas maupun nonmigas.
"Ekspor migas Januari 2026 tercatat sebesar US$115,94 juta, atau turun sebesar 56,23% dibandingkan dengan Desember 2025. Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat US$1.469,12 juta, atau turun sebesar 28,01%," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Di sisi lain, impor justru mengalami kenaikan tipis sebesar 5,62%, atau mencapai US$637,64 juta. Lonjakan ini terutama didorong oleh peningkatan impor migas yang naik 10,76%, meskipun impor nonmigas turun 29,96%.
Secara sektoral, hasil tambang tetap menjadi tulang punggung ekspor Kaltim dengan kontribusi 73,06% terhadap total ekspor. Kendati demikian, nilai ekspor bahan bakar mineral yang didominasi batubara turun signifikan sebesar US$309,21 juta atau 21,07% dibandingkan Desember 2025.
Pukulan lebih keras justru menimpa sektor lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk crude palm oil(CPO), yang anjlok 51,84% atau setara US$213,95 juta.
Mas'ud menambahkan, hanya sedikit komoditas yang menunjukkan tren positif. Golongan berbagai produk kimia mencatat kenaikan tertinggi sebesar US$16,52 juta (36,72%), diikuti bahan kimia anorganik yang naik US$3,44 juta (14,78%).
China Masih Dominan, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Dari sisi destinasi, China tetap menjadi pasar utama dengan nilai ekspor US$567,41 juta atau 38,62% dari total ekspor nonmigas. India berada di posisi kedua dengan US$190,61 juta (12,97%), disusul Filipina senilai US$146,39 juta (9,96%).
Menariknya, pasar Uni Eropa mulai menunjukkan pertumbuhan. Ekspor ke kawasan tersebut naik 37,82% dibandingkan Desember 2025, dengan Belanda menjadi tujuan baru yang mencatatkan nilai US$17,34 juta.
Dia menjelaskan, kenaikan impor didominasi oleh sektor migas, khususnya minyak mentah yang membengkak 157,32% menjadi US$510,90 juta. Sebaliknya, impor nonmigas justru melemah tajam hingga 29,96%.
Penurunan terdalam terjadi pada golongan kapal, perahu, dan struktur terapung yang turun US$5,32 juta (60,94%), serta pupuk yang anjlok US$4,55 juta (59,71%).
Dia mengungungkapkan, China tetap menjadi sumber impor nonmigas terbesar dengan kontribusi 32,43%, diikuti Amerika Serikat (10,94%) dan Malaysia (6,58%).
Kendati ekspor merosot, neraca perdagangan Kaltim masih mencatatkan surplus sebesar US$947,42 juta pada Januari 2026. Namun, angka ini jauh lebih rendah dibanding surplus Desember 2025 yang mencapai US$1,70 miliar.
Secara rinci, sektor nonmigas menyumbang surplus US$1,41 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$468,28 juta.
Adapun, dia menuturkan Pelabuhan Balikpapan tetap menjadi gerbang utama perdagangan luar negeri Kaltim, yang menguasai 32,25% total ekspor dengan nilai US$511,20 juta.
Pelabuhan Samarinda berada di posisi kedua dengan kontribusi 19,82% (US$314,18 juta), diikuti Pelabuhan Tanjung Bara dengan 13,56% (US$215,01 juta).
Di sisi impor, dominasi Pelabuhan Balikpapan lebih masif lagi dengan menguasai 88,29% atau senilai US$562,97 juta. Ini menegaskan peran Balikpapan sebagai pusat logistik dan distribusi utama di kawasan timur Indonesia.
#ekspor-kaltim #penurunan-ekspor #ekspor-migas #ekspor-nonmigas #impor-kaltim #bahan-bakar-mineral #crude-palm-oil #pasar-tiongkok #pasar-eropa #pelabuhan-balikpapan #pelabuhan-samarinda #surplus-perda