Pupuk Indonesia Bidik Pasokan Sulfur dari Kanada dan Kazakhstan Imbas Konflik Timur Tengah

Pupuk Indonesia Bidik Pasokan Sulfur dari Kanada dan Kazakhstan Imbas Konflik Timur Tengah

Pupuk Indonesia mengantisipasi gangguan pasokan sulfur akibat konflik Timur Tengah dengan membidik sumber dari Kanada dan Kazakhstan untuk menjaga produksi pupuk tetap optimal.

(Bisnis.Com) 17/03/26 08:37 166784

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia dapat mengantisipasi risiko gangguan pasokan sulfur untuk memproduksi asam sulfat sebagai komponen pendukung dalam pembuatan pupuk NPK. Adapun, gangguan tersebut dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan saat ini sebagian pasokan sulfur memang diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Kuwait.

“Hingga saat ini, konflik di kawasan tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap operasional maupun produksi pupuk di dalam negeri,” kata Yehezkiel kepada Bisnis, dikutip Selasa (17/3/2026).

Kendati demikian, Pupuk Indonesia terus mencermati perkembangan dinamika geopolitik di Timur Tengah serta potensi dampaknya terhadap rantai pasok global.

Dia juga menyebut bahwa gangguan pasokan relatif dapat dimitigasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan.

“Selain itu, sebagian kebutuhan terhadap asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber-sumber domestik,” tuturnya.

Dengan diversifikasi sumber pasokan tersebut, Pupuk Indonesia disebut dapat menjaga proses produksi tetap berjalan optimal sehingga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga.

Sebagai produsen pupuk terbesar ketujuh di dunia, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani.

“Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” jelasnya.

Saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi Pupuk Indonesia bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.

Secara fundamental, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang terjaga, karenabahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari domestik dengan pasokan dan harga yang sudah diatur oleh Pemerintah.

Dengan demikian, meskipun terjadi eskalasi konflik di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi penting urea global, kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.

“Pupuk Indonesia merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia,” jelasnya.

Selain kapasitas produksi, Pupuk Indonesia juga memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi sumber bahan baku strategis pupuk yang diimpor. Beberapa bahan baku pupuk memang tidak tersedia secara alami di Indonesia, seperti fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen penting dalam produksi pupuk NPK.

Saat ini Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

#pupuk-indonesia #pasokan-sulfur #konflik-timur-tengah #asam-sulfat #pupuk-npk #geopolitik-timur-tengah #rantai-pasok-global #kanada-sulfur #kazakhstan-sulfur #diversifikasi-pasokan #produksi-pupuk #ka

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260317/257/1960939/pupuk-indonesia-bidik-pasokan-sulfur-dari-kanada-dan-kazakhstan-imbas-konflik-timur-tengah