Produksi Sawit Stagnan 5 Tahun, Gapki Waswas Ekspor CPO Jadi Korban
Produksi sawit Indonesia stagnan selama 5 tahun, mengancam ekspor CPO di tengah meningkatnya konsumsi domestik untuk biodiesel. Gapki khawatir ekspor tertekan.
(Bisnis.Com) 13/03/26 09:56 163897
Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengingatkan potensi tertekannya ekspor minyak sawit mentah ataucrude palm oil(CPO) Indonesia seiring stagnasi produksi dalam lima tahun terakhir, di tengah meningkatnya konsumsi domestik, khususnya untuk program biodiesel.
Sekretaris Jenderal Gapki Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan produksi sawit nasional dalam lima tahun terakhir cenderung tidak mengalami pertumbuhan signifikan.
“Ini ada fakta yang ada di tempat kita, produksi kita 5 tahun terakhir ini ya relatif tidak bergerak, so-so aja. Ini menandakan ya industri kita ini perlu ada treatment. Salah satunya tadi yang disampaikan oleh Pak Ketua Umum [Eddy Martono] adalah melambatnya replanting, kita akuin, sehingga produksi kita tidak bergerak,” kata Sugeng dalam konferensi pers dan buka puasa bersama di Shangri-La, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Sugeng menjelaskan bahwa di tengah produksi yang stagnan, permintaan terhadap CPO justru terus meningkat, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Bahkan, dia mengingatkan apabila kondisi tersebut terus berlangsung, maka ekspor berpotensi menjadi sektor yang dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Apabila ini terjadi dan terus-menerus saya khawatir nanti ekspor kita yang dikorbankan sehingga ujung-ujungnya ya manfaat kepada petani untuk PSR, kepada biodiesel dan sebagainya tentunya juga akan menjadi problem,” ujarnya.
Meski demikian, kinerja ekspor sawit Indonesia pada 2025 tercatat masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Gapki mencatat, total ekspor pada 2025 mencapai 32,34 juta ton, lebih tinggi 9,51% dari ekspor 2024 sebesar 29,53 juta ton. Adapun total ekspor sawit Indonesia pada 2025 mencapai 32,34 juta ton dengan nilai sekitar US$35,87 miliar atau setara sekitar Rp590,34 triliun, sementara stok akhir tercatat sekitar 2,07 juta ton.
Jika dirinci, peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 22,73 juta ton dari 20,45 juta ton pada tahun sebelumnya, diikuti olahan minyak inti sawit yang naik menjadi 1,56 juta ton dari 1,26 juta ton, oleokimia naik menjadi 5,07 juta ton dari 4,79 juta ton, dan CPO yang naik menjadi 2,96 juta ton dari 2,91 juta ton.
Namun, jika dilihat dalam tren lima tahun terakhir, ekspor sawit Indonesia justru menunjukkan kecenderungan menurun karena produksi tidak bertambah sementara konsumsi domestik terus meningkat.
“Memang di tahun ini meningkat [ekspor pada 2025], tetapi kalau 5 tahun terakhir terus menurun. Karena itu tadi produksi nggak bergerak, sementara konsumsi dalam negeri terus meningkat, sehingga ekspornya terkoreksi. Dan tahun ini relatif lebih baik,” terangnya.
Sugeng juga mencatat penurunan ekspor terjadi pada beberapa pasar utama, seperti India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
“Beberapa ekspor kita ke beberapa negara tujuan. Kita ambil 6 besar, yang 3 yang minus dan 3 yang positif. Kita minus ke India, ke EU dan kemudian ke USA,” ujarnya.
Apabila dirinci lebih jauh, peningkatan ekspor pada tahun 2025 dari tahun sebelumnya antara lain Afrika (+991 ribu ton), China (+644 ribu ton), Malaysia (+516 ribu ton), Bangladesh (+503 ribu ton), dan Pakistan (+214 ribu ton). Sedangkan penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India (-859 ribu ton), EU 27 (-97 ribu ton), dan AS (-15 ribu ton).
Sementara itu, Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan peningkatan produksi pada 2025 sebagian besar berasal dari kebun perusahaan yang telah melakukan program peremajaan ataureplanting.
“Di tahun 2025 produksi kita masih meningkat. Produksi kita meningkat 7%. Itu kita syukuri. Ini akibat dari replanting-replanting perusahaan yang memang sudah menghasilkan,” kata Eddy.
Sebaliknya, Eddy menuturkan peremajaan sawit di tingkat petani rakyat masih berjalan sangat lambat sehingga menjadi tantangan bagi industri dan pemerintah.
Menurut Eddy, dengan total produksi sekitar 56 juta ton sawit saat ini, Indonesia seharusnya mampu menghasilkan lebih banyak apabila program peremajaan sawit rakyat berjalan optimal.
“Apabila replanting-replanting PSR atau replanting rakyat ini bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan rencana. Ini jauh sekali pencapaiannya. Jadi bisa dikatakan juga tidak berjalan dengan baik. Nah ini yang menjadi PR kita bersama,” tuturnya.
Berdasarkan data industri, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 56,55 juta ton, terdiri dari CPO sebesar 51,66 juta ton dan PKO sekitar 4,89 juta ton, atau meningkat sekitar 7,18% dibandingkan produksi tahun sebelumnya.
Di sisi lain, total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 3,82% dari 23,85 juta ton di tahun 2024 menjadi 24,77 juta ton pada 2025. Konsumsi tersebut terbagi untuk kebutuhan pangan sebanyak 9,83 juta ton dan oleokimia sekitar 2,23 juta ton.
Adapun, peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang naik menjadi 12,70 juta ton atau 10,97% dari tahun sebelumnya sebesar 11,44 juta ton. Kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35% (B35) menjadi 40% (B40).
#produksi-sawit #ekspor-cpo #gapki #minyak-sawit-mentah #konsumsi-domestik #program-biodiesel #stagnasi-produksi #replanting-sawit #ekspor-minyak-sawit #pasar-domestik #permintaan-cpo #ekspor-sawit-ind