Ajak Masyarakat Danai Proyek Hijau, PT SMI Siapkan Obligasi Ritel 2026
PT SMI akan terbitkan obligasi ritel 2026 untuk biayai proyek EBT. Masyarakat bisa investasi dengan imbal hasil menarik sambil bangun negeri.
(Kompas.com) 04/03/26 15:53 154919
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI berencana meluncurkan instrumen investasi obligasi retail pada 2026. Peluncuran ini bertujuan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam ekosistem pembiayaan pembangunan berkelanjutan.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah menjelaskan bahwa secara struktur, tenor dan kupon yang ditawarkan tidak akan jauh berbeda dengan obligasi konvensional.
“Pembeda utamanya terletak pada target profil investor,” tutur Reynaldi di kantor PT SMI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sebelumnya, obligasi yang diluncurkan PT SMI ditujukan untuk perbankan, asuransi, dan dana pensiun. Kini, PT SMI ingin melakukan ekspansi pangsa pasar ke investor ritel.
Langkah ini menyusul kesuksesan inovasi PT SMI pada tahun lalu dalam menerbitkan zero coupon bond dengan tenor 10 tahun hingga 15 tahun.
“Investor ritel akan mendapatkan keuntungan berupa imbal hasil yang menarik ketimbang instrumen jangka pendek serta berkontribusi langsung pada pembangunan nasional,” kata Reynaldi.
Reynaldi melanjutkan, instrumen obligasi yang akan diterbitkan berbasis pada prinsip keberlanjutan. Dana yang dihimpun dari masyarakat akan dialokasikan untuk membiayai proyek-proyek di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).
Seperti diketahui, Indonesia tengah menggenjot pembangunan infrastruktur berkelanjutan, mulai dari pengembangan energi panas bumi (geothermal), pembangkit listrik tenaga mini hidro, hingga pemanfaatan tenaga surya.
“Kami melihat potensi ini sebagai peluang besar untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan hijau dengan minat investasi masyarakat,” ujarnya.
Terkait besaran target dan komposisi investor ritel terhadap institusi, Reynaldi menegaskan bahwa pihaknya tidak menetapkan komposisi tertentu.
PT SMI, lanjutnya, akan melihat perkembangan permintaan pasar dan kebutuhan pembiayaan sektor-sektor prioritas. Fokus utama perusahaan bukan semata pada rasio pendanaan, melainkan dampak ekonomi dan sosial dari proyek yang dibiayai.
Dalam portofolionya, alokasi PT SMI untuk pembiayaan publik baru 16 persen, sedangkan pembiayaan korporasi sebesar 84 persen. Adapun total dana yang dihimpun dari penerbitan dalam negeri mencapai lebih dari Rp 50 triliun hingga 2025.
Reynaldi menekankan bahwa pendekatan PT SMI dalam menyalurkan pembiayaan tidak hanya mempertimbangkan aspek keuntungan finansial, tetapi juga multiplier effect.
Berdasarkan pengukuran internal, proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai PT SMI berhasil menghasilkan angka multiplier effect di atas rata-rata nasional.
“Dampaknya terlihat dari hasil pembangunan infrastruktur strategis, seperti pembangunan jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, pembangkit mini hidro, serta jalan tol yang mampu mendorong aktivitas ekonomi daerah,” kata Reynaldi.
Dukung PSN
Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI Aradita Priyanti menjelaskan, sosialisasi penerbitan obligasi ke pasar retail pada 2026 merupakan bagian dari strategi pendanaan. Ia memperkirakan nilai penerbitan obligasi berada di kisaran Rp 8–10 triliun.
Penerbitan surat utang berbasis tema tertentu akan berfokus pada pembiayaan berkelanjutan. Sejauh ini, lanjutnya, respons pasar terhadap instrumen tersebut masih menunjukkan tren positif.
“Untuk thematic bond, sebelumnya kami juga sudah pernah menerbitkan, termasuk sustainability bond. Minat investor masih cukup baik, baik dari masyarakat maupun institusi. Saat penerbitan tahun lalu, responsnya cukup positif,” kata Aradita.
Selain penerbitan obligasi, PT SMI juga menegaskan komitmennya dalam menyukseskan program pembangunan pemerintah.
Aradita menyebut, PT SMI telah mendanai 129 Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total komitmen mencapai Rp 125 triliun sepanjang 2025. Adapun total nilai proyek yang didanai sebesar Rp 692 triliun.
Hingga saat ini, pembiayaan PSN masih terus berjalan seiring perkembangan pipeline proyek pada tahun ini.
DOK. PT SMI. PT SMI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pembangunan nasional melalui inovasi instrumen investasi.PT SMI masih terus mencermati dinamika dan perkembangan proyek-proyek yang masuk dalam daftar rencana pembiayaan tahun ini. Menurutnya, pergerakan pipeline masih berlangsung dan bersifat dinamis mengikuti kondisi di lapangan.
“Untuk tahun ini, pipeline kami masih bergerak. Kami masih melihat perkembangannya,” ujarnya.
Reynaldi menambahkan bahwa PT SMI turut berperan dalam mendukung agenda prioritas pemerintah, termasuk program yang masuk dalam kerangka Asta Cita. Perseroan sudah membiayai lima dari delapan Asta Cita yang dicanangkan pemerintah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa PT SMI turut berperan aktif dalam mendukung agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita. Ia menyebut, porsi pembiayaan terhadap proyek-proyek yang masuk dalam kerangka tersebut terbilang signifikan.
Sebagai informasi, PT SMI pertama kali menerbitkan obligasi pada 2014. Perseroan aktif menerbitkan surat utang di pasar domestik melalui berbagai instrumen, seperti green bond, sustainability bond, sukuk mudharabah, serta zero-coupon bond yang diterbitkan pada 2025.
Dengan dukungan peringkat nasional AAA dari Pefindo, PT SMI berada pada posisi yang kokoh untuk terus memperluas ekosistem pembiayaan yang kredibel, transparan, dan berkelanjutan.
Ke depan, PT SMI akan terus memperkuat perannya sebagai development finance institution (DFI) yang berpegang pada prinsip tata kelola, integritas, dan orientasi jangka panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#energi-terbarukan #obligasi-ritel #pt-smi #pembiayaan-hijau #investasi-berkelanjutan #astacita #sustainability-bond