Genggaman di Tangga Istana: Keakraban Prabowo dan SBY di Istana

Genggaman di Tangga Istana: Keakraban Prabowo dan SBY di Istana

Presiden Prabowo menyambut SBY dengan hangat di Istana, menyoroti hubungan personal dan simbol kesinambungan kepemimpinan dalam acara silaturahmi nasional.

(Bisnis.Com) 04/03/26 13:04 154638

Bisnis.com, JAKARTA — Ada momen yang lebih fasih daripada pidato. Ada gestur yang lebih kuat daripada pernyataan pers. Di Istana Merdeka, Selasa (3/3/2026) malam, bahasa itu berbentuk genggaman tangan.

Presiden Prabowo Subianto berdiri di pelataran Istana. Lampu-lampu taman menyinari halaman yang mulai dipadati kendaraan para tokoh bangsa. Satu per satu mantan Presiden dan Wakil Presiden RI tiba memenuhi undangan silaturahmi dan makan malam kebangsaan.

Namun hanya satu yang disambut langsung oleh kepala negara di depan pintu utama yakni Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Bukan sekadar menyambut. Prabowo melangkah maju, menyalami, lalu menggenggam erat tangan SBY. Ketika keduanya menaiki tangga Istana Merdeka, genggaman itu tidak segera dilepas. Anak tangga demi anak tangga dilalui bersama—pelan, mantap, dengan percakapan ringan yang tak terdengar publik.

Gestur itu menjadi sorotan. Dalam politik, simbol kerap berbicara lebih nyaring daripada kalimat.

Urutan Kedatangan: Ritme Protokol yang Berbeda

Sejak pukul 19.00 WIB, irama kedatangan mulai terasa. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menjadi tamu pertama yang tiba sekitar pukul 19.02 WIB. Dia disambut oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Tak lama berselang, Wakil Presiden ke-13 RI Ma\'ruf Amin hadir pukul 19.09 WIB. Disusul Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada 19.15 WIB.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo tiba sekitar pukul 19.20 WIB. Seperti para tamu sebelumnya, Jokowi disambut oleh Mensesneg dan Seskab. Baru pada 19.24 WIB, SBY tiba. Di titik inilah protokol berubah.

Prabowo tidak menunggu di dalam. Orang nomor satu di Indonesia itu keluar, berdiri di depan pintu utama, menyambut langsung. Setelah bersalaman, tangan SBY digenggam erat. Tak ada jarak formal. Tidak sekadar jabat tangan cepat ala protokoler. Genggaman itu bertahan ketika keduanya menaiki tangga bersama.

Sementara Wakil Presiden ke-11 RI Boediono yang tiba pukul 19.25 WIB juga disambut oleh jajaran protokol. Perbedaan itu tampak jelas. Dan publik menangkapnya.

Bahasa Tubuh sebagai Pesan Politik

Di ruang politik, bahasa tubuh bukan kebetulan. Dia adalah pesan yang dirancang—atau setidaknya disadari.

Prabowo dan SBY memiliki sejarah panjang. Dari relasi senior–junior di militer, dinamika koalisi, hingga perjalanan politik yang tak selalu linier. Namun malam itu, yang tampak adalah kehangatan personal.

Ketika keduanya memasuki ruang utama, formasi duduk juga menarik perhatian. Prabowo duduk sejajar dan diapit oleh SBY serta Jokowi. Di sisi kiri Presiden, duduk Jusuf Kalla, Boediono, dan Ma’ruf Amin. Di sisi kanan, Gibran berdampingan dengan para ketua umum partai politik.

Formasi melingkar dengan layar monitor di tengah ruangan menandakan forum diskusi, bukan sekadar makan malam seremonial. Namun, publik tetap mengingat momen tangga itu.

Mengapa SBY?

Pertanyaan yang mengemuka: mengapa hanya SBY yang dijemput langsung? Secara formal, semua mantan presiden dan wakil presiden memiliki kedudukan yang setara dalam tata protokol. Namun secara simbolik, hubungan personal memiliki ruang tersendiri.

SBY adalah Presiden dua periode yang memimpin Indonesia selama satu dekade penuh. Ia juga ayah dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, salah satu partai koalisi pemerintah.

Dalam konteks konsolidasi nasional, gestur itu dapat dibaca sebagai penegasan kesinambungan kepemimpinan.

Lebih jauh, dalam kultur Jawa dan militer—dua latar yang melekat pada Prabowo dan SBY—gestur menyambut langsung dan menggenggam tangan adalah bentuk penghormatan mendalam.

Ketidakhadiran Megawati

Di tengah kehadiran hampir seluruh mantan presiden dan wakil presiden, satu nama tidak tampak: Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Ketua DPP PDI Perjuangan Deddy Sitorus menjelaskan Megawati berhalangan hadir karena agenda internal partai di Bali yang telah dijadwalkan sebelumnya.

“Ibu Mega berhalangan, sebab sedang mengikuti rangkaian acara internal yang sudah direncanakan sejak lama di Bali,” ujar Deddy.

Ketidakhadiran itu tidak mengurangi substansi forum, tetapi tetap menjadi catatan dalam lanskap politik nasional.

Hangat di Awal, Hening di Akhir

Acara berlangsung tertutup selama hampir empat jam. Tidak ada pernyataan resmi dari para mantan presiden dan wakil presiden seusai pertemuan. Sekitar pukul 23.12 WIB, para tokoh mulai meninggalkan ruangan.

Jusuf Kalla menjadi yang pertama keluar. Disusul tokoh-tokoh lain secara bertahap. Momen menarik kembali terjadi ketika Jokowi meninggalkan Istana. Dia berjalan didampingi Seskab Teddy Indra Wijaya menuju kendaraan yang membawanya saat datang.

Tak lama kemudian, Wakil Presiden Gibran Rakabuming RAka menyusul dan memasuki kendaraan yang sama dengan Jokowi. Mobil itu meluncur keluar kompleks Istana di bawah pengawalan terbatas.

Kebersamaan ayah dan anak dalam satu kendaraan menjadi simbol lain malam itu—transisi generasi yang berjalan dalam satu jalur.

SBY meninggalkan Istana kemudian juga diantar langsung oleh putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebelum memasuki mobil Lexus hitamnya.

Di Balik Gestur: Konsolidasi Elit

Seskab Teddy Indra Wijaya sebelumnya menjelaskan tujuan pertemuan tersebut. “Bapak Presiden ingin bersilaturahmi dan bertukar pandang mengenai situasi bangsa saat ini,” ujarnya.

Isu yang dibahas mencakup dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi konflik Timur Tengah.

Namun bagi publik, yang tertinggal bukan hanya topik diskusi. Melainkan visual yang terekam kamera genggaman tangan di tangga Istana.

Menjelang tengah malam, halaman Istana kembali lengang. Satu per satu kendaraan meninggalkan kompleks. Tidak ada pernyataan panjang dari para pemimpin negara terdahulu.

Namun publik telah mendapat pesan. Genggaman itu berbicara tentang hubungan personal dua jenderal yang pernah berada dalam satu koridor sejarah. Tentang kesinambungan kepemimpinan nasional. Tentang konsolidasi di tengah ketidakpastian dunia.

Bahasa mesra Prabowo kepada SBY malam itu mungkin tidak dituangkan dalam teks resmi. Namun dia terekam dalam memori visual publik. Dan dalam politik, kadang yang paling diingat bukanlah apa yang diucapkan—melainkan bagaimana seseorang menyambut dan menggenggam tangan yang lain.

#prabowo-sby #genggaman-tangan #istana-merdeka #bahasa-tubuh-politik #silaturahmi-kebangsaan #prabowo-subianto #susilo-bambang-yudhoyono #simbol-politik #protokol-istana #hubungan-personal #konsolidasi

https://kabar24.bisnis.com/read/20260304/15/1957655/genggaman-di-tangga-istana-keakraban-prabowo-dan-sby-di-istana