Asuransi Marine Cargo hingga Travel jadi Produk Paling Terdampak Perang AS-Israel vs Iran

Asuransi Marine Cargo hingga Travel jadi Produk Paling Terdampak Perang AS-Israel vs Iran

Konflik AS-Israel vs Iran berdampak pada asuransi marine cargo, hull, dan energi, dengan premi war risk meningkat. Asuransi perjalanan juga terpengaruh.

(Bisnis.Com) 03/03/26 12:43 153128

Bisnis.com, JAKARTA — Konflik akibat serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran turut berdampak terhadap produk asuransi yang memiliki eksposur langsung terhadap zona konflik.

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menilai tiga lini usaha yang paling terpengaruh adalah asuransi marine cargo, marine hull, dan energi. Mekanisme penetapan harga ketiga produk ini sangat terhubung dengan pasar reasuransi global.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat mengatakan asuransi marine cargo adalah lini yang paling terdampak. Setiap pengiriman barang yang melewati atau mendekati zona konflik, seperti Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Laut Merah yang masih terganggu oleh aktivitas Houthi, secara otomatis masuk ke dalam kategori JWC Listed Areas.

“Yang ditetapkan oleh Joint War Committee [JWC] di London. Begitu sebuah rute masuk daftar tersebut, underwriter mewajibkan premi tambahan war risk yang signifikan,” ucapnya kepada Bisnis, Selasa (3/3/2026).

Sementara itu, lanjutnya, asuransi marine hull terdampak karena kapal-kapal itu sendiri menjadi aset berisiko tinggi ketika beroperasi di zona konflik.

“Hapag-Lloyd sudah memberlakukan surcharge war risk sebesar $1.500 per TEU [dan $3.500 untuk kontainer reefer] efektif 2 Maret 2026. Biaya ini pada akhirnya ditransmisikan ke seluruh rantai pasokan,” ungkap Delil.

Adapun, lini energi termasuk offshore energy dan onshore energy yang terkait infrastruktur migas juga rentan terdampak karena aset-aset energi di kawasan Teluk menjadi target langsung konflik.

Tidak sampai di situ, Delil menilai bahwa harga energi global yang bergejolak juga meningkatkan nilai pertanggungan ataupun potensi klaim.

“Jadi, yang membuat ketiga lini ini lebih rentan dibandingkan lini lain adalah sifatnya yang sangat internationally priced. Artinya, tarif reasuransinya ditentukan di London, Bermuda, dan Singapura, bukan di Jakarta. Ketika pasar global mengeras, perusahaan asuransi Indonesia tidak punya banyak ruang negosiasi,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, hal itu berbeda dengan asuransi kendaraan bermotor atau properti domestik yang tarifnya lebih ditentukan oleh kondisi lokal. Marine dan energi sangat terekspos terhadap volatilitas geopolitik global.

Delil menambahkan, asuransi yang terdampak tidak terbatas pada tiga produk itu. Menurutnya, lini usaha properti dan business interruption juga bisa terdampak secara tidak langsung.

“Hal ini jika gangguan rantai pasokan menyebabkan keterlambatan produksi atau kerusakan material yang terlambat dikirim. Namun, dampak terbesarnya tetap di tiga lini utama tadi,” tegasnya.

Senada, Presiden Direktur PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) Teguh Budiman menilai produk yang paling sensitif terhadap konflik geopolitik seperti ini adalah lini Marine (cargo dan hull), Energy (oil & gas), dan Aviation untuk rute internasional.

Menurutnya, lini-lini tersebut lebih rentan karena memiliki eksposur langsung terhadap wilayah berisiko tinggi (high risk zone), jalur pelayaran internasional, serta aset energi strategis.

“Selain itu, polis pada lini tersebut umumnya memuat klausul war risk dan political violence yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global,” tuturnya.

Setali tiga uang, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) juga menilai lini usaha yang paling sensitif terhadap konflik ini adalah asuransi marine cargo dan hull (termasuk war risk).

“Karena kapal yang melintasi wilayah konflik berpotensi dikenakan tambahan premi risiko perang. Tidak hanya tanker minyak, tetapi juga kapal LNG, petrokimia, dan kapal kargo umum,” kata Ketua Umum AAUI Budi Herawan.

Dia melanjutkan, asuransi energi dan proyek yang memiliki eksposur Timur Tengah juga terdampak, terutama jika terdapat ketergantungan pada rantai pasok dari kawasan tersebut.

Selain produk-produk itu, Budi menyebut asuransi perjalanan (travel insurance) termasuk perjalanan ibadah dan wisata bisa ikut terdampak. Untuk perjalanan Umrah dan Haji maupun wisata ke kawasan Timur Tengah, risiko pembatalan perjalanan (trip cancellation), perubahan rute penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga evakuasi darurat menjadi lebih relevan.

“Jika terjadi eskalasi lebih luas, klaim terkait delay, pembatalan, atau repatriasi bisa meningkat, tergantung pada wording polis dan pengecualian risiko perang,” tutupnya.

#marine-cargo #marine-hull #energy-insurance #war-risk #asuransi-paling-terdampak-perang #produk-asuransi-paling-terdampak-perang #jenis-asuransi-paling-terdampak-perang #geopolitical-conflict #high-ri

https://finansial.bisnis.com/read/20260303/215/1957254/asuransi-marine-cargo-hingga-travel-jadi-produk-paling-terdampak-perang-as-israel-vs-iran