Kasus Campak Melonjak, IDAI Tegaskan Imunisasi Jadi Kunci Cegah KLB

Kasus Campak Melonjak, IDAI Tegaskan Imunisasi Jadi Kunci Cegah KLB

Lonjakan kasus campak di Indonesia disebabkan cakupan imunisasi yang rendah dan persepsi keliru. IDAI menekankan pentingnya imunisasi untuk mencegah KLB.

(Bisnis.Com) 01/03/26 10:45 150844

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia kini menghadapi lonjakan kasus campak yang serius akibat cakupan imunisasi belum merata dan persepsi keliru tentang penyakit ini.

Menurut data yang dihimpun oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berdasarkan standar konfirmasi laboratorium World Health Organization (WHO), sepanjang 2025 lebih dari 11.000 kasus campak terkonfirmasi laboratorium dan lebih dari 60.000 kasus suspek tercatat di Indonesia.

Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT, menegaskan penurunan cakupan imunisasi menjadi faktor utama munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di berbagai daerah.

“Kalau cakupan imunisasinya turun katakanlah 60% saja, itu sudah muncul KLB-nya di mana-mana,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (28/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan target imunisasi nasional belum tercapai secara merata di masyarakat. Dia menilai keberadaan tenaga dokter tidak cukup apabila distribusi dan ketersediaan vaksin terganggu di lapangan.

“Mungkin dokternya banyak ya, dikirim ke sana sini. Tetapi ketika vaksinnya tidak ada, rusak, atau apapun yang menyebabkan tidak bisa diberikan vaksinasi, maka ini juga bisa berdampak terhadap timbulnya kasus campak di mana-mana,” tegas Anggraini.

Secara global, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua dalam enam bulan terakhir berdasarkan laporan berbasis konfirmasi laboratorium. Seluruh data Indonesia telah melalui verifikasi laboratorium, berbeda dengan sejumlah negara yang melaporkan berdasarkan kasus klinis.

Sepanjang 2025, hampir 50.000 spesimen diperiksa dengan positivity rate mencapai 24,6%. Pada 2026, jumlah konfirmasi terlihat lebih rendah, namun IDAI menyebut kapasitas laboratorium yang terbatas membuat pemeriksaan tidak mampu mengejar lonjakan kasus suspek.

Campak merupakan penyakit yang sangat menular melalui udara dan dapat bertahan lebih dari dua jam di ruang tertutup. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang yang belum memiliki kekebalan.

Anggraini menekankan bahwa persepsi campak sebagai penyakit ringan merupakan anggapan keliru yang berbahaya, karena masih banyak masyarakat yang meremehkan risikonya. Dia mengingatkan agar campak tidak lagi dianggap sepele karena penyakit ini telah terbukti dapat menyebabkan kematian pada anak-anak.

“Jangan lagi dianggap remeh, karena sudah terbukti bisa menyebabkan kematian pada anak-anak kita,” katanya.

Dia menjelaskan komplikasi campak dapat berupa pneumonia, diare berat, radang otak, hingga immune amnesia yang menurunkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang. Bahkan, dalam kasus tertentu dapat muncul Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) beberapa tahun setelah infeksi awal dengan risiko kematian tinggi.

Menurutnya, hingga kini belum tersedia obat antivirus spesifik untuk campak sehingga terapi bersifat suportif, termasuk pemberian vitamin A dosis tinggi. Oleh karena itu, pencegahan melalui imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kesakitan dan kematian.

IDAI mendorong penguatan layanan kesehatan primer serta percepatan imunisasi kejar bagi anak yang belum lengkap vaksinasinya.

Dia menambahkan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan organisasi profesi serta masyarakat dalam menghadapi lonjakan kasus campak. Dia menegaskan bahwa situasi ini merupakan persoalan serius yang tidak boleh lagi diabaikan, sehingga penguatan pelayanan kesehatan primer dan peningkatan cakupan imunisasi harus menjadi tanggung jawab bersama semua pihak.

“Ini sesuatu yang serius, tidak bisa lagi diabaikan oleh pemerintah bahwa penguatan pelayanan kesehatan primer, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi, ini butuh dilakukan oleh kita semua,” ujar Anggraini.

Tingkat penularan yang sangat tinggi serta cakupan imunisasi yang belum merata membuat IDAI memandang percepatan vaksinasi sebagai langkah strategis untuk menekan risiko meluasnya KLB campak di berbagai daerah Indonesia.

#campak #imunisasi #kasus-campak #idai #klb-campak #vaksin-campak #cakupan-imunisasi #persepsi-campak #risiko-campak #komplikasi-campak #pencegahan-campak #layanan-kesehatan #vaksinasi-anak #penularan

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260301/106/1956603/kasus-campak-melonjak-idai-tegaskan-imunisasi-jadi-kunci-cegah-klb