Yang Perlu Diprioritaskan saat Prabowo dan Trump Bahas Perjanjian Dagang
Prabowo dan Trump bahas perjanjian dagang; fokus pada proteksi industri tekstil dan alas kaki untuk menjaga ekspor dan lapangan kerja Indonesia.
(Bisnis.Com) 17/02/26 13:00 138686
Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha dan ekonom meminta pemerintah untuk memperjuangkan industrialisasi nasional dalam saat Presiden Prabowo Subianto terbang ke Amerika Serikat bertemu dengan Presiden Donald Trump.
Para pemangku kepentingan juga berharap agar proteksi terhadap industri tekstil dan alas kaki menjadi perhatian dalam pembahasan nanti.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa menyebut pemerintah perlu memberikan perhatian khusus kepada sektor industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor dan penyerapan tenaga kerja nasional.
“Terkait kebijakan tarif AS, sektor yang perlu mendapat perhatian adalah industri berorientasi ekspor dan padat karya seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, perikanan, serta beberapa produk manufaktur tertentu,” kata Erwin kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).
Menurut Erwin, sederet sektor tersebut merupakan kontributor penting bagi penciptaan lapangan kerja dan perolehan devisa. Oleh karena itu, dia menilai pemerintah perlu menjaga keberlanjutan daya saing industri melalui strategi negosiasi yang tepat.
Dari sisi pendekatan perundingan, Kadin menilai pemerintah perlu memperkuat kemitraan dagang yang saling menguntungkan, mendorong kesetaraan perlakuan tarif dengan negara pesaing, serta meningkatkan efisiensi logistik dan kemudahan berusaha di dalam negeri.
“Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya berbicara soal tarif, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra strategis dalam rantai pasok global,” lanjutnya.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan sektor paling rentan terhadap kebijakan tarif AS adalah industri padat karya yang memiliki eksposur tinggi ke pasar ekspor Negeri Paman Sam.
“Terkait kebijakan tarif AS, dari perspektif dunia usaha, sektor yang paling rentan adalah industri padat karya yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar ekspor ke Amerika Serikat,” kata Shinta kepada Bisnis.
Berdasarkan data ekspor, Shinta memaparkan sejumlah komoditas dengan ketergantungan signifikan terhadap pasar AS. Dia mencontohkan, pakaian dan aksesori rajutan mencatat sekitar 61% ekspor ke AS, furnitur dan lampu sekitar 59%, olahan daging/ikan/krustasea sekitar 56%, serta produk kulit sekitar 56%. Adapun pakaian non-rajutan sekitar 49%, mainan dan perlengkapan olahraga sekitar 45%, dan alas kaki sekitar 33%.
Menurutnya, data tersebut menunjukkan perubahan tarif akan berdampak langsung pada pesanan, tingkat utilisasi kapasitas produksi, hingga arus kas perusahaan, yang pada akhirnya berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja.
“Karena itu, sektor-sektor ini [industri padat karya] perlu menjadi prioritas perlindungan dalam negosiasi, mengingat kontribusinya terhadap manufaktur dan stabilitas ketenagakerjaan nasional,” terangnya.
Di sisi lain, Shinta menuturkan Apindo ikut terlibat dalam negosiasi tarif resiprokal AS dengan memberi masukan industri, memetakan hambatan usaha, hingga berkomunikasi dengan mitra dunia usaha di AS.
Selain itu, Shinta menilai penguatan posisi tawar Indonesia juga menuntut pemahaman atas konteks kebijakan tarif resiprokal AS yang bertujuan menyeimbangkan neraca perdagangan dan menekan defisit dagang.
“Pendekatan Indonesia tidak bisa hanya defensif meminta penurunan tarif, tetapi juga harus menawarkan solusi konkret yang menjawab kepentingan tersebut,” terangnya.
Berdasarkan unggahan akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Presiden Prabowo memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani.
Pertemuan itu dilaksanakan di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Minggu (15/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, Kepala Negara RI menekankan pentingnya memastikan posisi Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi internasional berada pada titik yang paling menguntungkan bagi kepentingan nasional, terutama terkait perundingan tarif dengan AS.
“Presiden Prabowo menginginkan setiap kebijakan yang diambil harus sesegera dan sebanyak mungkin memberi keuntungan konkret untuk Indonesia,” demikian dikutip dari akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Senin (16/2/2026).
#prabowo-trump-perjanjian-dagang #industrialisasi-nasional #proteksi-industri-tekstil #sektor-industri-ekspor #kebijakan-tarif-as #industri-padat-karya #daya-saing-industri #kemitraan-dagang #efisiensi