Taktik Energi Mega Persada (ENRG) Jaga Cuan saat Harga Minyak Mendingin
Energi Mega Persada (ENRG) menjaga pendapatan di tengah penurunan harga minyak dengan fokus pada gas yang lebih stabil dan kontrak jangka panjang.
(Bisnis.Com) 11/02/26 09:41 132846
Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak global yang sedang jatuh berisiko menekan margin pendapatan emiten minyak dan gas (migas) Indonesia, tak terkecuali emiten migas afiliasi Grup Bakrie PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG).
Data US Energy Information Administration (2025) memproyeksi pasar minyak global pada 2026 akan berada dalam kondisi oversupply. Pasokan minyak global diproyeksi akan berada pada kisaran 107,4 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan 2025 sebesar 106,2 juta bph. Dari sisi permintaan, konsumsi minyak global pada 2026 diperkirakan akan berada pada kisaran 105,2 juta barel per hari, meningkat terbatas dari 103,9 juta bph pada 2025.
Kondisi ini membuat harga minyak melandai. Pada awal 2026 ini, harga WTI berada di kisaran US$58 per barel dan Brent di US$64 per barel. Level tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan awal 2025, di mana WTI berada di sekitar US$78 per barel dan Brent US$82 per barel.
Menanggapi hal itu, Investor Relations Advisor Energi Mega Persada Herwin W Hidayat mengatakan secara umum ada dua faktor yang membuat ENRG bisa meredam dampak turunnya harga minyak global terhadap kinerja top line perseroan.
Pertama, sekitar 80% sampai 85% dari total produksi ENRG berasal dari gas. Sisanya, hanya 15%-20% saja yang berasal dari minyak. Menurutnya, harga gas cenderung lebih stabil dibandingkan dengan harga minyak yang lebih befluktuasi.
Kedua, perjanjian jual beli produk gas dari anak-anak usaha ENRG memiliki jangka waktu yang lebih panjang, yaitu 5-7 tahun, dibandingkan dengan perjanjian jual beli minyak yang harus diperbaharui setiap tahun.
"Harga jual gas yang cenderung lebih stabil dan perjanjian jual beli gas yang memiliki jangka waktu yang lebih panjang merupakan bentuk hedging atau praktik lindung nilai yang baik terhadap harga minyak yang lebih berfluktuasi," kata Herwin kepada Bisnis, Selasa (10/2/2026).
Menilik kinerja keuangan terbaru yang dirilis perseroan, penjualan neto ENRG dalam periode 9 bulan pertama 2025 tumbuh 13,0% year on year (YoY) menjadi US$361,38 juta. Dari angka tersebut, penjualan gas bumi berkontribusi sebesar US$220,49 juta atau meningkat 9,36% YoY. Sebaliknya, penjualan segmen minyak mentah turun 3,54% YoY menjadi US$112,14 juta.
Dalam periode ini, harga jual rata-rata minyak susut 14% YoY menjadi US$71,14 per barel, meski secara volume produksinya meningkat 6% YoY menjadi 8.381 bpd. Sebaliknya, volume produksi gas turun 2% YoY menjadi 223,6 juta kaki kubik (mcf) per hari, namun terkompensasi dengan harga rata-rata jual yang naik 7% YoY menjadi US$6,79 per mcf.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan harga minyak global yang turun bisa berdampak terhadap kinerja operasional emiten migas upstream yang melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi.
"Biaya produksi per barel cenderung tetap (fixed), jadi ketika harga jual turun mendekati biaya produksi, margin laba bersih akan tergerus lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatannya (operating leverage)," ujarnya.
David melihat, penurunan harga minyak global yang signifikan, Brent dari US$82 ke US$64 dan WTI dari US$78 ke US$58, akan berdampak langsung pada variabel pendapatan emiten. Pasalnya, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten migas berkorelasi positif dengan harga minyak dunia.
"Dengan penurunan harga Brent sekitar 22% secara YoY, pendapatan emiten migas pada kuartal I-2026 nanti diproyeksikan akan turun secara tahunan juga. Penurunan ini terjadi karena volume produksi yang meningkat terbatas, berdasarkan data konsumsi global yang hanya naik tipis, dan ini tidak akan mampu mengkompensasi kejatuhan harga jual per barel," ujarnya.
Melansir Bloomberg Terminal, pendapatan ENRG sepanjang 2025 ditaksir akan tumbuh 15,35% YoY menjadi US$538,67 juta dengan laba bersih yang juga naik 18,89% YoY ke US$90 juta. Berikutnya, di periode 2026 pendapatan ENRG ditaksir naik 10,83% YoY menjadi US$597 juta dengan laba bersih sebesar US$112,33 juta.
Sementara itu, sebanyak lima analis (100%) merekomendasikan beli ENRG dengan target harga Rp1.906, mencerminkan potensial return 65,1% dari harga Rp1.155. Pada penutupan pasar Selasa (10/2/2026), saham ENRG turun 2,59% ke Rp1.130.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#energi-mega-persada #harga-minyak-global #emiten-migas-indonesia #gas-stabil #perjanjian-jual-beli-gas #produksi-gas-enrg #harga-jual-gas #penjualan-neto-enrg #penjualan-gas-bumi #penjualan-minyak-men