Proyeksi Tren Ekspor Jabar 2026 Positif Ditopang Kinerja Industri Pengolahan
Proyeksi ekspor Jabar 2026 positif, didukung industri pengolahan. Tantangan: risiko geopolitik dan regulasi hijau. Fokus: penguatan pangan domestik.
(Bisnis.Com) 06/02/26 10:51 127954
Bisnis.com, BANDUNG-- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat memproyeksikan kinerja ekspor Jawa Barat (Jabar) 2026 masih menunjukkan sinyal positif, terutama didorong oleh sektor industri pengolahan seperti otomotif.
Namun demikian, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhamad Nur mewanti-wanti adanya potensi risiko geopolitik serta tekanan regulasi global terkait industri hijau yang bisa menjadi tantangan bagi komoditas tertentu di masa depan.
Di tengah optimisme ekspor manufaktur, ia mengatakan fokus utama saat ini adalah penguatan sektor domestik, khususnya di bidang pangan. Hal ini mendesak dilakukan menyusul lonjakan signifikan permintaan dari program-program strategis pemerintah seperti MBG.
"Kita masih cukup optimis 2026 ini beberapa ekspor komoditi kita yang utama misalnya industri pengolahan, tambah mobil, kita masih optimis bisa tumbuh dengan baik," ujar Nur usai gelaran Pasamoan Agung 2026, di Kabupaten Kuningan, Kamis (5/2/2026).
Menurut dia, jumlah kelompok yang terlibat dalam program MBG kini telah mencapai lebih dari 3.000. Jika permintaan dari setiap kelompok tersebut meningkat secara signifikan, hal itu akan menciptakan tekanan besar pada pasokan pangan lokal.
Untuk itu ia menegaskan perlunya antisipasi segera di sektor tanaman pangan dan hortikultura di Jawa Barat untuk menghindari ketidakseimbangan pasar.
"Jadi kalau ini tidak diantisipasi, kita khawatir nanti demand-nya lebih tinggi daripada supply-nya," tegasnya.
Untuk mendukung peningkatan produksi pangan jangka panjang, termasuk komoditas tanaman keras yang masuk dalam kategori ekonomi hijau, Bank Indonesia telah menyiapkan insentif kebijakan khusus bagi perbankan.
"Itu namanya LTV, kebijakan LTV. Jadi dibuka kelonggaran-kelonggaran atau sering mendengar KLM, kebijakan likuiditas makroprudensial. Yang terus kita koordinasikan kepada teman-teman perbankan. Jadi beberapa sektor-sektor itu harus mendapat perhatian lebih," paparnya.
Kebijakan ini bertujuan mendukung pembiayaan untuk komoditas jangka panjang seperti kopi dan teh. Sektor-sektor ini, yang identik dengan ekonomi hijau, didorong untuk mendapat dukungan lebih dari perbankan.
Sementara itu, ia juga mencatat bahwa meskipun permintaan dari MBG meningkat, kondisi demand dan supply pangan di Jabar saat ini masih relatif seimbang. Hal ini salah satunya berkat keberhasilan success story yang dilakukan oleh kelompok tani seperti di Ciwidey, Al-Ittifaq.
Mereka mampu meningkatkan produksi melalui intensifikasi, penggunaan greenhouse dan bibit unggul, yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan MBG tanpa mengganggu pasokan ke pasar tradisional maupun modern.
Selain itu, jelang Ramadan, pihaknya juga merekomendasikan pemerintah daerah untuk terus mempertahankan surplus neraca pangan yang saat ini dimiliki Jawa Barat dengan cara intensifikasi.
Komoditas yang secara khusus perlu mendapat perhatian adalah susu dan telur ayam, yang ketersediaannya masih fluktuatif, sementara pasokan daging dinilai masih cukup tersedia.
Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong Kerja Sama Antar Daerah (KAD) yang tidak hanya antar provinsi, tetapi juga intra kabupaten/kota di Jawa Barat, demi memastikan tidak ada daerah penghasil yang mengalami defisit.
"Jangan sampai nanti ada daerah di Jabar yang surplus suatu komoditas, tapi daerah lain di Jabar yang membutuhkan komoditas itu mendatangkan dari luar Jabar, itu kita antisipasi dengan komunikasi antar daerah yang baik," tandasnya.
#ekspor-jabar-2026 #industri-pengolahan-jabar #risiko-geopolitik-ekspor #regulasi-global-hijau #penguatan-sektor-domestik #permintaan-pangan-jabar #program-mbg #tanaman-pangan-hortikultura #kebijakan-l