Biaya RS Kian Mahal, AAJI: Asuransi Penyakit Kritis Makin Relevan
Asuransi penyakit kritis dinilai AAJI berprospek cerah karena meningkatnya prevalensi penyakit dan biaya pengobatan, serta kesadaran finansial masyarakat.
(Bisnis.Com) 29/01/26 17:36 118787
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai asuransi penyakit kritis memiliki prospek yang positif karena semakin relevan dengan kondisi yang ada.
Menurut Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat produk itu relevan seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular dan kenaikan biaya pengobatan.
“Serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap dampak finansial penyakit serius menjadi faktor utama pendorong kebutuhan terhadap produk ini,” katanya, Kamis (29/1/2026).
Sebab demikian, Emira berpandangan asuransi penyakit kritis dapat melengkapi perlindungan jiwa dan kesehatan. Terkhusus dalam menjaga ketahanan finansial keluarga saat menghadapi risiko kesehatan jangka panjang.
Dia menyebut, produk ini unik dan berperan sebagai financial safety net. Pasalnya, asuransi kesehatan fokus pada pembiayaan perawatan medis, baik melalui asuransi swasta maupun BPJS Kesehatan.
Sementara itu, asuransi penyakit kritis memberikan manfaat hidup (living benefit) yang dapat digunakan secara fleksibel oleh nasabah dan keluarganya.
“Keunikan utama produk ini adalah manfaatnya tidak semata-mata untuk membayar biaya pengobatan, melainkan untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga ketika risiko penyakit kritis terjadi,” tegas Emira.
Dia bercerita, pada banyak kasus, meskipun biaya medis sudah ditanggung asuransi kesehatan atau BPJS Kesehatan, dampak finansial terbesar justru muncul saat nasabah tidak dapat bekerja dalam jangka waktu tertentu, baik selama masa pengobatan maupun pemulihan.
Oleh karena itu, lanjutnya, manfaat uang pertanggungan dari asuransi penyakit kritis dapat berfungsi sebagai perlindungan penghasilan (income protection), yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Misalnya untuk membayar cicilan rumah atau kendaraan, melunasi kewajiban keuangan, serta kebutuhan lain yang tetap berjalan meskipun penghasilan utama terganggu.
“Dengan demikian, asuransi penyakit kritis membantu memastikan bahwa proses pemulihan kesehatan tidak diikuti oleh krisis keuangan keluarga, terutama di tengah kenaikan biaya hidup dan meningkatnya risiko penyakit serius di usia produktif,” jelasnya.
Lebih lanjut, Emira membeberkan saat ini asuransi penyakit kritis tidak hanya relevan bagi kelompok usia lanjut, tetapi juga bagi generasi muda yang masih produktif. Hal ini karena risiko penyakit kritis dapat dialami oleh siapa pun, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau latar belakang genetik.
“Faktor gaya hidup, lingkungan, serta jenis pekerjaan turut memengaruhi meningkatnya risiko penyakit kronis, termasuk pada kelompok usia produktif,” sebutnya.
Sebab demikian pula, dia menyarankan agar produk asuransi penyakit kritis dapat diimbangi dengan edukasi yang memadai dan proses pemasaran yang bertanggung jawab.
“Agar masyarakat memahami manfaat, ketentuan, serta keterbatasan produk secara seimbang dan menjadikannya bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang,” pungkas Emira.
#asuransi-penyakit-kritis #prospek-asuransi-kritis #manfaat-asuransi-kritis #perlindungan-jiwa-dan-kesehatan #financial-safety-net #living-benefit-asuransi #stabilitas-keuangan-keluarga #risiko-kesehat