Utang Luar Negeri RI Turun Menjadi US$423,8 Miliar per November 2025
Utang Luar Negeri Indonesia turun ke US$423,8 miliar pada November 2025, dengan porsi swasta menyusut. BI dan pemerintah fokus menjaga stabilitas ekonomi.
(Bisnis.Com) 15/01/26 11:40 104183
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 mencapai US$423,8 miliar. Posisi ULN itu menurun atau lebih rendah dari posisi Oktober 2025 yakni US$424,9 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mencatat bahwa ULN Indonesia secara keseluruhan itu tumbuh 0,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dari posisi November 2024 yakni US$423,1 miliar.
Pertumbuhan secara tahunan pada November 2025 juga melambat dari pertumbuhan pada Oktober 2025 sebesar 0,5% (YoY).
Menurut Ramdan, perkembangan ULN pada November 2025 itu dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik. Untuk menjaga struktur ULN tetap sehat, dia menyebut BI dan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," terangnya melalui siaran pers, Kamis (15/1/2026).
Secara terperinci, porsi ULN pemerintah turun pada November 2025 menjadi US$209,8 miliar atau lebih rendah dari bulan sebelumnya US$210,5 miliar.
Jumlah ULN pemerintah pada November 2025 itu meningkat 3,3% (YoY) dari US$203 miliar pada November 2024, meski pertumbuhannya melambat dari 4,7% (YoY) pada Oktober 2025.
Ramdan menyebut penyebab perkembangan itu dipengaruhi oleh pergerakan kepemilikan surat berharga negara (SBN) seiring dengan tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi utang pemerintah juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN.
"Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN tetap dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel, dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional," terang Ramdan.
Adapun berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah paling besar dimanfaatkan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial atau 22,2% dari total utang.
Kemudian, ULN dimanfaatkan untuk administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 19,7%; jasa pendidikan 16,4%; konstruksi 11,7%; serta transportasi dan pergudangan 8,6%.
Sementara itu, ULN swasta kian menyusut. Posisi ULN swasta November 2025 tercatat sebesar US$191,2 miliar atau turun dari US$191,7 miliar pada Oktober 2025. Penyusutan juga terjadi secara tahunan atau terkontraksi 1,3% (YoY) dari November 2024 yakni US$193,6 miliar.
Perkembangan itu dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontraksi ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang tercatat sebesar 0,4% (YoY).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan; jasa keuangan dan asuransi; pengadaan listrik dan gas; serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,5% terhadap total ULN swasta.
Ramdan menyampaikan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
"Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,3% pada November 2025, dari 29,4% pada Oktober 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 86,1% dari total ULN," terangnya.
#utang-luar-negeri #utang-luar-negeri-indonesia #utang-luar-negeri-ri #utang-luar-negeri-turun #utang-luar-negeri-swasta #utang-luar-negeri-pemerintah #utang-luar-negeri-2025 #utang-luar-negeri-novembe