Dampak Pelebaran Defisit APBN ke Kepercayaan Investor

Dampak Pelebaran Defisit APBN ke Kepercayaan Investor

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai dampak defisit APBN yang melebar akan lebih cepat terasa di pasar obligasi.

(Bisnis Tempo) 13/01/26 15:34 102113

DEFISIT Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang 2025 mencapai Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, melebarnya defisit APBN berpotensi memengaruhi kepercayaan investor. Akan tetapi, dampaknya belum tentu negatif.

Josua mengatakan investor biasanya melihat dua hal. Pertama, apakah pelebaran defisit terjadi karena langkah yang terukur dan sementara untuk menahan perlambatan ekonomi. “Kedua, apakah pembiayaannya tetap kredibel,” kata dia kepada Tempo pada Selasa, 13 Januari 2026.

Dalam realisasi APBN 2025, ucap Josua, defisit terjadi terutama karena penerimaan negara melemah. Sementara itu, belanja tetap dijaga untuk menopang ekonomi.

Pada saat yang bersamaan, realisasi pembiayaan anggaran sepanjang 2025 lebih besar dari defisit, yaitu sebesar Rp 744 triliun. Sehingga, pemerintah memiliki Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 48,9 triliun.

Menurut Josua, dampak defisit yang melebar akan lebih cepat terasa di pasar obligasi. Ia menyebutkan imbal hasil yang diminta investor akan meningkat bila pasar menilai ada kenaikan risiko.

“Risiko akan naik bila muncul kebisingan fiskal yang membuat pelaku pasar menilai arah kebijakan kurang konsisten, karena itu biasanya mendorong kenaikan imbal hasil tenor panjang dan menekan nilai tukar,” ucapnya.

Namun demikian, Josua menilai pasar obligasi pada 2025 masih menyerap modal dengan baik. Hal ini tercermin melalui imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun yang sempat turun dan minat lelang yang solid sepanjang tahun.

Sementara itu di pasar saham, pengaruhnya berlapis. Josua menuturkan, defisit yang melebar karena belanja dipertahankan dapat menopang pertumbuhan dan pendapatan perusahaan. Sehingga, sentimen saham bisa tetap terjaga.

Di sisi lain, bila defisit yang besar memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan tekanan nilai tukar, maka biaya pendapatan perusahaan akan naik. Valuasi saham pun akan cenderung tertekan.

“Artinya, saham bisa tetap kuat bila narasi yang terbentuk adalah defisit yang produktif dan terkendali, tetapi bisa berubah negatif bila narasi bergeser menjadi defisit yang berkelanjutan tanpa perbaikan penerimaan,” kata Josua.

Realisasi defisit APBN 2025 sebesar 2,92 persen terhadap PDB melampaui target awal yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,78 persen terhadap PDB. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai realisasi defisit APBN 2025 tersebut tidak berdampak negatif terhadap kepercayaan investor.

Menurut Airlangga, posisi defisit tersebut masih tergolong aman karena berada di bawah batas maksimal 3 persen yang ditetapkan undang-undang. "Tentu enggak ada masalah. Kan tahun kemarin udah ditutup dan defisitnya masih aman. Masih di bawah 3 persen," ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Jumat, 9 Januari 2026, dikutip dari Antara.

#apbn #defisit #investor #pdb #defisit-apbn

https://tempo.co/ekonomi/dampak-pelebaran-defisit-apbn-ke-kepercayaan-investor-2106768