Keterbatasan Gudang Bulog Hambat Panen Raya, Mutu Komoditas Terancam Turun

Keterbatasan Gudang Bulog Hambat Panen Raya, Mutu Komoditas Terancam Turun

Keterbatasan gudang Bulog menghambat panen raya 2026, mengancam mutu komoditas. Pemerintah berencana membangun 100 gudang baru untuk mendukung penyerapan gabah dan beras.

(Bisnis.Com) 13/01/26 12:30 101874

Bisnis.com JAKARTA — Keterbatasan gudang milik Bulog menjadi salah satu tantangan pada panen raya yang diperkirakan datang lebih cepat Februari 2026. Gudang Bulog yang jumlahnya masih sedikit juga menjadi ancaman bagi ekspor dan muti komoditas.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan panen raya padi nasional dapat berlangsung lebih awal pada Februari 2026, dibandingkan umumnya yang berlangsung pada Maret. Tantangannya terdapat pada ketersediaan gudang bulog. Saat ini Bulog hanya memiliki 1.500-an gudang. Jumlah tersebut dinilai masih kurang. Pemerintah ingin mengembalikan fungsi 400-an gudang Bulog yang dahulu sempat ahli fungsi.

“Gudang bulog dulu ada 1.000, hampir 1.900. Sekarang tinggal 1.500-an, yang 400-an alih fungsi. Nah kita ingin kembalikan, karena gudangnya kurang,” kata Zulhas, Senin (13/1/2026).

Berdasarkan catatan Bisnis, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi beras nasional pada 2026 mendatang dapat mencapai 34,77 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa peningkatan produksi padi kembali menjadi salah satu program prioritas Kementan pada 2026 untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Amran juga menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan langkah percepatan pembangunan infrastruktur pascapanen untuk mendukung penyerapan gabah dan beras nasional.

Menanggapi rencana pembangunan 100 gudang oleh Bulog, Amran menegaskan bahwa persiapan telah berjalan.

"Nah, sekarang itu benar. Kita persiapan tadi aku rapat bersama Bulog. Akan membangun RMU [rice milling unit/penggilingan padi] besar. Kemudian gudang. Di seluruh Indonesia anggarannya Rp5 triliun," ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan Presiden Ke-8 RI itu telah memerintahkan agar seluruh kesiapan penyerapan gabah dan beras tuntas sebelum Februari 2026.

Menurutnya, stok akhir tahun tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah. Upaya penyerapan tambahan pada Februari nanti membuat kebutuhan gudang meningkat. Amran menegaskan kebutuhan ruang penyimpanan sudah mendesak.

"Karena gudang kita penuh. Jadi kita siapkan dengan anggaran Rp5 triliun. [Dananya] dari APBN," tegasnya singkat.

Presiden Prabowo Subianto meninjau sawah jelang saat Panen Raya
Presiden Prabowo Subianto meninjau sawah jelang saat Panen Raya

Kualitas

Sementara itu, Pengamat Pertanian Syaiful Bahari menyampaikan bahwa definisi percepatan panen raya perlu diperjelas, sebab panen yang lebih cepat dari jadwal akan berisiko terhadap kualitas gabah.

"Jika kualitas gabah jelek, maka berakibat pada kualitas beras. Jangan sampai beras baru disimpan sudah rusak," kata Syaiful.

Lebih lanjut, dia juga menilai bahwa bahwa Perum Bulog semestinya membuat perencanaan yang lebih matang terkait siklus serapan beras.

Menurutnya, yang terpenting dilakukan oleh Bulog saat ini ialah memperbaiki sistem manajemen penyimpanan beras yang baik, dan memperbaiki mekanisme penyerapan beras dari penggilingan-penggilingan beras rakyat kecil dan menengah.

"Jangan hanya fokus di serapan, tetapi infrastruktur dan manajemen pengelolaan cadangan berasnya belum siap," imbuhnya.

Selain itu, Syaiful juga menyinggung terkait klaim pemerintah mengenai stok cadangan beras terbanyak. Menurutnya, pemerintah lebih baik menggunakan stok yang ada untuk distribusi di pasar dan mendorong harga beras turun kembali seperti semula. Faktanya, pemerintah saat ini justru fokus ingin mendorong ekspor.

Ekspor

Adapun Perum Bulog mengalokasikan 1 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) guna menyongsong rencana pemerintah untuk mulai mengekspor beras pada tahun ini.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa stok beras di gudang Bulog saat ini berkisar 3,24 juta ton, yang merupakan stok bawaan (carry over stock) dari 2025.

Dia mengaku telah mendapatkan arahan Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengenai alokasi stok ekspor tersebut.

“Bulog sudah menyiapkan 1 juta ton sesuai dengan arahan Bapak Mentan selaku Kepala Bapanas. Kami stokkan 1 juta ton untuk ekspor nanti itu dengan kualitas premium,” kata Rizal.

Beras bulog
Beras bulog

Sementara itu, sebanyak 2,5 juta ton beras lainnya telah dialokasikan untuk penjualan di pasar, baik beras kualitas premium maupun medium.

Terkait negara target ekspor beras Tanah Air, Rizal menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan atase perdagangan Indonesia di sejumlah negara, khususnya kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian, Rizal mengaku belum mendapatkan respons terkait negara yang mulai mengajukan permintaan beras. Bulog mengharapkan ada jawaban dalam waktu dekat.

“Dalam beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan, mungkin sudah ada jawaban dari beberapa negara-negara tersebut,” ujar purnawirawan TNI berbintang tiga ini.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa jumlah cadangan beras pemerintah di gudang Perum Bulog tercatat sebanyak 3,24 juta ton hingga akhir 2025, dan sempat menyentuh angka tertinggi sekitar 4 juta ton.

Dia lantas mengatakan bahwa apabila serapan gabah Bulog dapat dipertahankan selama tiga bulan ke depan, maka Indonesia dapat mengekspor beras untuk pertama kali dalam sejarah.

“Kalau Bulog serapannya 3 bulan ke depan sama saja [seperti] 2025, aku tidak minta lebih, sama saja. Itu ekspor hampir pasti kita lakukan tahun ini, dan itu sejarah pertama Indonesia,” kata Amran dalam sambutan acara panen raya pengumuman swasembada beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Rabu (7/1/2025).

#bulog-gudang #panen-raya #mutu-komoditas #ekspor-beras #produksi-padi #swasembada-pangan #infrastruktur-pascapanen #penyerapan-gabah #rice-milling-unit #kualitas-gabah #manajemen-penyimpanan #cadangan

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260113/99/1943836/keterbatasan-gudang-bulog-hambat-panen-raya-mutu-komoditas-terancam-turun