Geopolitik Bayangi Ekonomi 2026, Rupiah dan APBN Berisiko Tertekan

Geopolitik Bayangi Ekonomi 2026, Rupiah dan APBN Berisiko Tertekan

Geopolitik global 2026 berisiko menekan Rupiah dan APBN Indonesia. Konflik di Iran dan manuver AS dapat memicu volatilitas pasar dan inflasi domestik.

(Bisnis.Com) 13/01/26 08:04 101538

Bisnis.com, JAKARTA — Perekonomian global 2026 dibayangi ketidakpastian usai eskalasi geopolitik, mulai dari manuver agresif Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin dan Arktik hingga gelombang instabilitas politik di Iran. Ekonom pun mewanti-wanti dampaknya ke perekonomian domestik terutama kurs Rupiah hingga beban APBN 2026.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro menilaiceksposur dagang langsung Indonesia terhadap wilayah konflik relatif terbatas. Namun, risiko rambatan melalui pasar keuangan global dan pergerakan harga komoditas energi tetap perlu diantisipasi.

“Risiko geopolitik terus meningkat. Langkah AS menekan Kolombia, Meksiko, Kuba, hingga ketertarikan aneksasi Greenland menambah ketidakpastian. Di saat bersamaan, instabilitas politik Iran akibat demonstrasi massal memperburuk fragilitas lanskap global,” ujarnya dalam riset OCE Macro Blast, Senin (12/1/2026).

Asmoro menyoroti meningkatnya perhatian Amerika Serikat terhadap Greenland, wilayah yang kaya mineral kritis dan memiliki nilai strategis militer. Langkah tersebut dinilai berpotensi memicu friksi baru dengan negara-negara berkepentingan seperti Denmark, China, dan Rusia.

Di sisi lain, kondisi ekonomi dan politik Iran dinilai semakin rapuh. Inflasi yang mencapai 39%, depresiasi mata uang Rial, serta sanksi ekonomi internasional telah menekan daya beli masyarakat dan memicu gelombang protes yang berisiko mengguncang stabilitas pemerintahan.

Asmoro mengingatkan, instabilitas di Iran sebagai salah satu produsen minyak dunia dapat mengganggu rantai pasok energi global. Meski pasar minyak saat ini masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan, gangguan di kawasan Timur Tengah tetap menjadi ancaman bagi Indonesia yang merupakan net oil importer.

Harga minyak Brent tercatat menguat ke level US$63,6 per barel pada awal pekan ini. Menurut perhitungan Bank Mandiri, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah defisit fiskal Indonesia hingga Rp6,8 miliar.

“Kenaikan harga minyak yang persisten di atas asumsi APBN US$70 per barel juga dapat memicu tekanan inflasi domestik,” jelasnya.

Dari sisi perdagangan dan investasi, dampak langsung konflik Iran dinilai relatif kecil. Ekspor Indonesia ke Iran tercatat kurang dari 1% total ekspor nasional, sementara impor berada di bawah 0,1%. Aliran investasi langsung (FDI) dari Iran juga terbatas, yakni sebesar US$2,1 juta sepanjang sembilan bulan 2025.

Meski demikian, Asmoro menekankan dampak tercepat justru berpotensi muncul melalui volatilitas pasar keuangan. Peningkatan persepsi risiko global mendorong pergeseran portofolio investor ke aset aman, yang dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang dan menekan nilai tukar Rupiah.

Eksperimen Kebijakan

Pandangan kehati-hatian juga disampaikan Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Gundy Cahyadi. Ia meminta pemerintah menghindari langkah-langkah kebijakan yang bersifat eksperimental pada 2026 dan lebih memprioritaskan stabilitas serta kualitas pelaksanaan kebijakan.

"Ini [2026] bukan tahun untuk terlalu banyak eksperimen kebijakan. Arah strategis sudah ada, yang paling dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan kualitas eksekusi,” kata Gundy dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).

Menurut dia, meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat dengan basis permintaan domestik yang besar, ruang kesalahan kebijakan semakin menyempit di tengah meningkatnya risiko global.

Sejalan dengan pandangan Bank Mandiri, Prasasti menilai pasar keuangan sebagai kanal transmisi paling cepat terhadap guncangan eksternal. Valuasi aset global yang sudah tinggi membuat pasar menjadi sangat sensitif terhadap eskalasi ketegangan politik.

Dalam kondisi tersebut, nilai tukar Rupiah dinilai menjadi variabel yang paling rentan. Gundy menjelaskan bahwa lonjakan aversi risiko global, termasuk jika konflik meluas seperti potensi ketegangan China-Taiwan, dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang.

“Volatilitas nilai tukar berpotensi menekan investasi, mengingat tingginya kandungan impor dalam siklus investasi domestik,” ujarnya.

Sementara itu, tekanan dari sisi energi dinilai masih relatif terkendali. Prasasti mencatat pasokan energi global masih cukup longgar berkat kebijakan produksi OPEC serta ketahanan produksi minyak serpih Amerika Serikat.

Kendati demikian, Gundy mengingatkan bahwa jika ketegangan geopolitik meluas ke luar kawasan konflik utama, risiko terhadap perdagangan global dan koordinasi kebijakan internasional berpotensi meningkat secara signifikan.

#geopolitik-ekonomi #risiko-rupiah #risiko-apbn #ekonomi-global-2026 #ketidakpastian-geopolitik #konflik-iran #harga-minyak #pasar-keuangan-global #nilai-tukar-rupiah #inflasi-domestik #defisit-fiskal

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260113/9/1943658/geopolitik-bayangi-ekonomi-2026-rupiah-dan-apbn-berisiko-tertekan