Bisnis.com, JAKARTA— PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) menilai kebijakan work from home (WFH) per April 2026 yang diterapkan secara terbatas terutama bagi ASN selama satu hari berpotensi mendorong peningkatan konsumsi akses internet rumah. Kebijakan ini juga dianjurkan bagi sektor swasta dalam rangka efisiensi energi serta sebagai respons terhadap dinamika krisis global.
Chief Strategic Business Officer Moratelindo Resi Y. Bramani mengatakan ASN yang bekerja dari rumah hampir pasti menjalankan aktivitas secara daring, seperti rapat atau konferensi virtual, video call, hingga berbagi materi pekerjaan melalui layanan cloud. Aktivitas tersebut, menurutnya, turut berdampak pada konsumsi listrik rumah tangga, seperti penggunaan AC yang lebih lama agar tetap nyaman bekerja, hingga meningkatnya pemesanan makanan secara online.
Selain itu, Resi menilai penggunaan paket data seluler juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi ASN dalam mendukung produktivitas selama WFH.
“Jika coverage dari layanan mobile datanya lebih cepat dan stabil mungkin mereka akan mempertimbangkan penggunaan mobile data untuk memproses pekerjaan-pekerjaan mereka yang urgent,” kata Resi kepada Bisnis pada Rabu (8/4/2026).
Namun, lanjut Resi, untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan kecepatan tinggi secara konsisten, pengguna cenderung memilih layanan fixed broadband yang menawarkan kuota unlimited meskipun kecepatan unduh dan unggah bersifat up to (terbatas).
Resi menambahkan Moratelindo telah memiliki pengalaman dalam menghadapi lonjakan trafik saat pandemi Covid-19, ketika penggunaan internet rumah meningkat signifikan.
“Oleh karenanya saat ini infrastruktur telekomunikasi dan SDM yang kami miliki telah ready dan terlatih [sesuai SOP] untuk kebijakan WFH ini. Jadi tidak ada strategi khusus untuk antisipasinya,” katanya.
Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai peningkatan trafik internet selama WFH bukan fenomena baru, mengingat kondisi serupa telah terjadi pada masa pandemi Covid-19 dengan durasi yang jauh lebih panjang.
Ketua Umum APJII Muhammad Arif meyakini kesiapan penyelenggara layanan internet saat ini jauh lebih baik, seiring dengan meningkatnya penetrasi broadband dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, penetrasi yang semakin luas membuat kapasitas jaringan lebih siap menopang tambahan trafik.
“Karena saat ini juga penetrasi broadband sudah jauh lebih baik dan terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Arif kepada Bisnis, Kamis (2/4/2026).
Meski demikian, APJII masih menghitung potensi lonjakan trafik data, mengingat skema WFH saat ini hanya berlangsung satu hari per pekan. Arif memperkirakan peningkatan trafik tidak akan signifikan, meskipun peluang munculnya pengguna baru tetap terbuka.
Di kota-kota besar, sebagian besar rumah tangga disebut telah terhubung dengan layanan fixed broadband. Berdasarkan Survei APJII 2025, penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66% atau setara 229,4 juta jiwa dari total populasi 284,4 juta. Angka ini melanjutkan tren kenaikan sejak 2018 yang berada di level 64,80%, meningkat menjadi 73,70% pada 2020, 77,01% pada 2022, 78,19% pada 2023, dan 79,50% pada 2024.
Dari sisi akses, mayoritas masyarakat masih mengandalkan data seluler dengan porsi 74,27% pada 2025, meningkat dari 68,02% pada 2024. Penggunaan WiFi rumah juga naik menjadi 28,43% dari sebelumnya 22,38%. Sementara itu, akses WiFi di kantor, sekolah, dan ruang publik relatif stagnan di kisaran 1%–1,7%, sedangkan penggunaan tethering tercatat sebesar 0,64%.
Adapun pelanggan fixed broadband meningkat signifikan dari 27,40% pada 2024 menjadi 38,70% pada 2025. Meski demikian, mayoritas masyarakat masih belum berlangganan layanan ini. Berdasarkan jenis layanan, koneksi kabel/fiber mendominasi dengan porsi 29,57%, diikuti nirkabel 8,08% dan satelit 1,05%.