Bisnis.com, SURABAYA – Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menduduki peringkat ke-134 dunia sekaligus menegaskan kekuatan riset interdisipliner yang stabil dan berkembang dalam pemeringkatan terbaru Times Higher Education (THE) Interdisciplinary Science Rankings (ISR) 2026.
Rektor UNAIR Muhammad Madyan menuturkan bahwa capaian UNAIR meraih peringkat 134 dunia dalam THE Interdisciplinary Science Rankings merupakan bukti nyata dari transformasi ekosistem riset yang selama ini telah dibangun.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi pengakuan internasional terhadap kekuatan kolaborasi lintas disiplin yang menjadi ciri khas UNAIR selama satu dekade terakhir,” ucap Madyan, Senin (24/11/2025).
Madyan menegaskan, capaian itu adalah pengakuan internasional atas komitmen dan kualitas riset lintas disiplin ilmu yang dikembangkan UNAIR. Riset interdisipliner, yang menggabungkan berbagai bidang ilmu, kini menjadi kunci dalam menciptakan solusi inovatif dan berdampak nyata.
"Kami berhasil masuk dalam jajaran universitas terbaik dunia yang mampu mengintegrasikan ilmu kesehatan, sosial-humaniora, sains, teknologi, hingga kebijakan publik untuk menjawab tantangan global," ungkapnya.
Secara nasional, Madyan menjelaskan bahwa UNAIR berhasil menunjukkan dominasinya dengan meraih peringkat bersama ketiga di Indonesia untuk dua pilar penting, yakni Process dan Output.
Peringkat pada pilar Process menunjukkan keberhasilan dalam membangun ekosistem, kebijakan, fasilitas, dan dukungan administratif yang kuat untuk mendorong keberhasilan riset interdisipliner. Sementara peringkat pada pilar Outputs mengukur kuantitas, kualitas, pengaruh, dan reputasi dari hasil-hasil riset interdisipliner yang telah dipublikasikan.
“Keberhasilan menempati posisi terbaik ke-3 nasional dalam pilar Process dan Outputs semakin menegaskan bahwa ekosistem riset UNAIR mampu menggerakkan inovasi secara sistematis, berkelanjutan, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata,” bebernya.
Madyan menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peneliti, laboratorium, fakultas, mitra industri maupun pemerintah yang telah berkontribusi. Prestasi ini membuktikan bahwa upaya UNAIR dalam menjalin kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menjawab tantangan global membuahkan hasil yang diakui dunia.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa UNAIR tidak hanya unggul pada aspek pendanaan dan kapasitas riset, tetapi juga mampu menghasilkan output berkualitas dan berdampak bagi masyarakat,” imbuhnya.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu juga berharap, UNAIR dapat semakin memperkuat budaya riset lintas disiplin sebagai DNA universitas. Tantangan global, sebut Madyan, di antaranya kesehatan masyarakat, krisis pangan, perubahan iklim, kecerdasan artifisial (AI), ekonomi digital, dan keberlanjutan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.
Untuk itu, UNAIR akan terus mendorong integrasi keilmuan melalui program flagship, riset konsorsium, kolaborasi internasional, serta pemanfaatan big data dan teknologi digital.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap penelitian yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada publikasi, tetapi juga relevan secara sosial, memiliki dampak nyata, dan mendukung agenda pembangunan nasional maupun global. Harapan kami sederhana. Namun, strategis,” pungkasnya.