Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) membuka layanan penukaran Uang Tidak Layak Edar (UTLE) atau uang rusak akibat terendam banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, usai memastikan seluruh layanan perbankan telah kembali beroperasi normal.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan langkah ini dilakukan perseroan agar uang tunai yang rusak terkena air dan lumpur dapat kembali digunakan untuk bertransaksi ataupun saldo tabungan.
“Sebagai bentuk layanan sepenuh hati, kami membuka pintu di seluruh outlet BSI Aceh untuk memfasilitasi penukaran uang rusak tersebut agar dapat kembali menjadi saldo tabungan atau digunakan bertransaksi,” kata Anggoro, mengutip laman resmi BSI pada Kamis (8/1/2026).
Adapun, BSI telah memulihkan 145 outlet yang sempat terdampak musibah banjir di Aceh. Melalui outlet-outlet yang ada, masyarakat dapat menukarkan uang tunai yang rusak agar dapat kembali digunakan.
Perseroan memastikan penukaran uang rusak dilaksanakan secara transparan sesuai regulasi Bank Indonesia (BI), mencakup verifikasi fisik dan pencatatan identitas.
Bagi BSI, lanjut Anggoro, inisiatif ini bukan sekadar urusan perbankan, melainkan upaya mengembalikan hak finansial masyarakat dan memberikan rasa aman di tengah masa sulit.
Di sisi lain, perseroan terus melakukan akselerasi pemulihan, mulai dari pembersihan sisa lumpur di kantor cabang, pengaktifan jaringan telekomunikasi, hingga penyaluran bantuan logistik lebih dari 140 ton dan pembangunan Hunian Sementara (Huntara).
Kinerja Keuangan BSI
Berdasarkan laporan keuangan bulanan yang dipublikasikan, BSI meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp6,70 triliun hingga November 2025. Raihan tersebut tumbuh 8,20% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,20 triliun.
Bank dengan kode emiten BRIS ini mencatatkan pendapatan setelah distribusi bagi hasil senilai Rp18,70 triliun, meningkat 12,57% YoY dari November 2024 yang sebesar Rp16,61 triliun.
Adapun pembiayaan bagi hasil perseroan sebesar Rp139,66 triliun. Angka itu tumbuh signifikan 22,27% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp114,22 triliun. Pada saat yang sama perseroan berhasil menghimpun dana simpanan wadiah sebesar Rp83,76 triliun, tumbuh 15,76% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp72,35 triliun.