Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan meningkatkan tekanannya untuk mengakuisisi Greenland saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Rabu (21/1/2026).
Dikutip melalui Reuters, langkah tersebut berpotensi memicu penolakan keras dari negara-negara Eropa dan menjadi salah satu ketegangan terbesar dalam hubungan transatlantik dalam beberapa dekade terakhir.
Trump, yang pada Selasa (20/1/2026) menandai berakhirnya tahun pertama masa jabatannya yang penuh gejolak, diprediksi akan mendominasi pertemuan tahunan para pemimpin politik dan ekonomi dunia di resor pegunungan Swiss tersebut.
Dalam konferensi pers pada Selasa, Trump mengatakan akan menggelar sejumlah pertemuan di Davos yang membahas Greenland, wilayah otonom Denmark di kawasan Arktik, dan menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dapat tercapai.
“Saya pikir kita akan menemukan sesuatu yang membuat NATO sangat senang dan kami juga sangat senang. Tapi kami membutuhkannya untuk tujuan keamanan. Kami membutuhkannya untuk keamanan nasional,” ujar Trump.
Para pemimpin NATO sebelumnya telah memperingatkan bahwa strategi Trump terkait Greenland dapat mengguncang soliditas aliansi. Sementara itu, pemimpin Denmark dan Greenland telah menawarkan berbagai opsi untuk meningkatkan kehadiran Amerika Serikat di pulau strategis berpenduduk sekitar 57.000 jiwa tersebut, tanpa harus berpindah kedaulatan.
Ketika ditanya sejauh mana langkah yang bersedia ia tempuh, Trump memberikan jawaban singkat dan samar. “Anda akan mengetahuinya,” katanya.
Trump juga kerap mengaitkan isu Greenland dengan kekecewaannya karena tidak pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, yang juga berada di Davos, menolak berkomentar langsung soal ketegangan tersebut.
“Trump dan para pemimpin lainnya benar. Kita harus melakukan lebih banyak hal di sana. Kita harus melindungi kawasan Arktik dari pengaruh Rusia dan China,” ujar Rutte.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa NATO tengah bekerja secara kolektif untuk mempertahankan kawasan tersebut.
Trump terus menegaskan pentingnya Greenland sebagai pos penjagaan Arktik terhadap Rusia dan China, bahkan mengancam perang dagang dengan negara-negara Eropa yang menentang rencananya.
Kendati demikian, sejauh ini hanya ada sedikit bukti mengenai lalu lintas kapal Rusia atau China di sekitar pesisir Greenland. Rusia sendiri menyebut narasi ancaman tersebut sebagai mitos yang dibesar-besarkan.
Didorong oleh langkah-langkah agresif kebijakan luar negerinya, termasuk penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pengambilalihan kendali atas minyak negara tersebut, Trump juga menyatakan kemungkinan bertindak terhadap Kuba, Kolombia, serta Iran.
Dia bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer AS untuk mengambil alih Greenland, yang saat ini telah menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan bahwa dorongan Trump terhadap Greenland juga berkaitan dengan ambisinya membangun warisan politik dengan memperluas wilayah Amerika Serikat, yang terbesar sejak 1959, ketika Alaska dan Hawaii resmi menjadi negara bagian ke-49 dan ke-50 di bawah Presiden Dwight Eisenhower.
Dalam langkah yang dinilai melanggar protokol diplomatik, Trump mempublikasikan pesan pribadi dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang meminta Trump bergabung dengan para pemimpin G7 di Paris setelah Davos. Trump menolak ajakan tersebut.
“Saya tidak mengerti apa yang Anda lakukan terkait Greenland,” tulis Macron dalam pesan tersebut.
Kantor Presiden Prancis menyatakan Prancis telah mengusulkan latihan NATO di Greenland dan siap berkontribusi. Sementara itu, pemerintah Denmark menolak berkomentar atas laporan media TV2 yang menyebut Kopenhagen tengah mempertimbangkan pengerahan hingga 1.000 tentara ke Greenland pada 2026.
Selain isu geopolitik, agenda utama Trump di Davos sejatinya adalah mempromosikan kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Dalam pidato kuncinya, Trump dijadwalkan memaparkan keberhasilan ekonomi domestik, meskipun jajak pendapat menunjukkan banyak warga AS tidak puas dengan kinerjanya di bidang ekonomi.
Gedung Putih menyebut Trump juga akan mengumumkan rencana perumahan yang memungkinkan warga Amerika menggunakan dana tabungan pensiun 401(k) untuk uang muka pembelian rumah.
“Presiden Trump akan meluncurkan inisiatif untuk menurunkan biaya perumahan, mempromosikan agenda ekonominya yang mendorong Amerika Serikat memimpin pertumbuhan ekonomi global, serta menekankan perlunya Amerika dan Eropa meninggalkan stagnasi ekonomi,” ujar seorang pejabat Gedung Putih.
Selama berada di Davos, Trump juga dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan para pemimpin Swiss, Polandia, dan Mesir. Pada Kamis, ia akan memimpin sebuah seremoni Dewan Perdamaian, kelompok yang dibentuknya untuk mendorong rekonstruksi Gaza di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.
Trump sempat memicu kekhawatiran dengan menyebut Dewan Perdamaian tersebut dapat menangani krisis global di luar Gaza, peran yang selama ini dijalankan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meski demikian, Trump mengatakan ia menyukai PBB, namun menilai organisasi tersebut “tidak pernah mencapai potensi maksimalnya”. Trump dijadwalkan kembali ke Washington pada Kamis malam.