Bisnis.com, JAKARTA — PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor resmi Mitsubishi Fuso masih optimistis menatap prospek pasar kendaraan niaga pada 2026.
Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, Aji Jaya mengatakan, meskipun mengalami kondisi yang menantang sepanjang 2025, pasar kendaraan niaga masih akan ditopang oleh sektor logistik dan infrastruktur pada tahun ini.
"Walaupun prediksi pertumbuhan otomotif dinilai akan landai atau sama seperti tahun lalu, kami optimis menatap tahun 2026," ujar Aji kepada Bisnis, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Terlebih, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6% pada 2026. Angka ini dinilai cukup stabil untuk menjaga daya beli pelaku bisnis.
Permintaan terhadap barang kebutuhan pokok atau fast moving consumer goods (FMCG), sektor transportasi, serta pergudangan juga diperkirakan tetap tumbuh. Kondisi tersebut akan mendorong peningkatan kebutuhan kendaraan niaga seiring berlanjutnya aktivitas distribusi dan pergerakan barang di berbagai wilayah.
Di sisi lain, proyek infrastruktur nasional masih berlanjut dan diharapkan menjadi penopang serapan kendaraan niaga. Menurutnya, keberadaan proyek strategis nasional dinilai memberikan kepastian permintaan, terutama untuk segmen light duty dan medium duty truck.
Percepatan sektor logistik dan e-commerce juga menjadi faktor pendorong utama. E-commerce tidak lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi tulang punggung baru sistem distribusi barang di Indonesia.
Kendati demikian, maraknya truk impor asal China serta fluktuasi harga komoditas sawit menjadi pukulan telak bagi pasar kendaraan niaga sepanjang 2025. Tekanan tersebut datang bersamaan dari sisi persaingan harga yang tidak seimbang dan pelemahan permintaan di sektor-sektor utama pengguna truk.
Aji mengatakan, penetrasi truk China yang masuk secara ilegal kian agresif sejak 2023 dan populasinya terus membesar hingga saat ini. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan ekosistem industri otomotif nasional jika tidak segera ditangani.
Menurutnya, sebagian besar truk impor tersebut tidak memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku, termasuk kewajiban standar emisi Euro 4 yang diterapkan sejak 2022. Selain itu, sejumlah unit juga tidak mengantongi Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT), sehingga tidak memenuhi syarat untuk beroperasi di jalan umum dan berisiko terhadap keselamatan berkendara.
Di tengah tekanan tersebut, Mitsubishi Fuso menegaskan tetap bersaing melalui kepatuhan regulasi, keandalan jangka panjang, serta penguatan layanan purnajual. Perseroan menilai kendaraan niaga bukan sekadar alat transportasi, melainkan investasi bisnis yang harus legal dan berkelanjutan.
Dari sisi kinerja, data Gaikindo mencatat distribusi wholesales Fuso sepanjang 2025 mencapai 25.235 unit atau turun 9% secara tahunan, sementara penjualan ritel terkoreksi 7,5% menjadi 25.613 unit.
Secara industri, penjualan truk nasional juga melemah 15% secara tahunan menjadi 56.754 unit di 2025. Pada saat yang sama, data General Administration of Customs of The People’s Republic of China (GACC) mencatat lonjakan impor truk CBU asal China yang mencapai 15.070 unit senilai US$688,6 juta.