Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memperkokoh struktur pendapatan non-ritel pada awal tahun ini, didorong oleh performa solid dari lini bisnis korporasi (Business-to-Business/B2B) serta sektor internasional yang kian ekspansif.
Berdasarkan laporan publikasi kinerja kuartal I/2026, dikutip Senin (8/6/2026) Telkom membukukan total pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,18 triliun pada kuartal I/2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp10,16 triliun atau sekitar 27,33% dari total pendapatan berasal dari segmen B2B Infrastruktur, B2B ICT, Internasional, dan bisnis penunjang lainnya. Capaian ini memperlihatkan keberhasilan strategi diversifikasi perseroan guna mengurangi ketergantungan pada segmen konsumen ritel (Business-to-Consumer/B2C).
Meskipun segmen B2C yang digawangi oleh Telkomsel (seluler dan fixed broadband) masih menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang Rp27,02 triliun, pergerakan sektor non-ritel terus menunjukkan urgensi strategis dalam pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan.
Lini-lini baru ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru demi mengoptimalkan nilai jangka panjang grup.
Melihat lebih dalam pada pos pendapatan eksternal non-B2C, segmen B2B ICT yang mencakup layanan dari Telkomsigma, Infomedia, Digiserve, hingga Nutech mencatatkan pendapatan eksternal sebesar Rp3,08 triliun.
Sektor ini disusul ketat oleh segmen B2B Infrastruktur—melalui entitas seperti Mitratel, Inframedia, NeutraDC, dan Telkomsat—yang menyumbang pendapatan eksternal senilai Rp2,35 triliun dari total pendapatan kotor segmennya yang mencapai Rp16,29 triliun.
Sementara itu, lini bisnis Internasional yang dijalankan oleh Telin lewat pengelolaan kabel laut internasional mengantongi pendapatan eksternal Rp2,80 triliun. Pos bisnis penunjang serta lainnya (Ancillary Businesses) seperti Telkommetra, Finnet, Metranet, hingga MDI Ventures menggenapi portofolio dengan pasokan pendapatan eksternal senilai Rp1,92 triliun.
Penerapan struktur pelaporan berbasis segmen ini sengaja diimplementasikan oleh manajemen. Kebijakan ini diambil guna meningkatkan transparansi operasional, memperkuat fokus strategi perusahaan, serta membuka potensi nilai (value unlock) dari masing-masing anak usaha.
Langkah transformasi struktural ini sejalan dengan arah kebijakan korporasi di bawah pengelolaan ekosistem baru.
Penguatan pada sektor infrastruktur, komputasi awan, dan konektivitas internasional menempatkan Telkom pada posisi strategis untuk menangkap peluang digitalisasi korporasi dan pemerintahan di Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas profitabilitas perseroan di tengah ketatnya kompetisi industri seluler tanah air.