Bisnis.com, JAKARTA — Miliarder India Mukesh Ambani akan memposisikan Reliance Industries sebagai pemimpin pasar di India dengan meluncurkan berbagai layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk panggilan telepon, aplikasi seluler, dan rumah pintar.
Mukesh ingin mengurangi ketergantungan penuh pada raksasa teknologi asing dan sekaligus menjadi mesin pertumbuhan baru menjelang penawaran umum perdana saham (IPO) unit bisnis telekomunikasinya, Jio Platforms.
Pada rapat umum pemegang saham tahunan, konglomerat yang berbasis di Mumbai ini mengumumkan Jio Call Agent. Asisten digital ini berkemampuan bergabung dalam panggilan telepon untuk mentranskripsikan percakapan, menghasilkan ringkasan, serta melakukan tugas praktis seperti memesan taksi, makanan, dan reservasi tempat.
Layanan yang dapat diaktifkan dengan ucapan "Hey Jio" ini dijadwalkan meluncur akhir tahun untuk lebih dari 500 million pengguna Jio.
Melalui integrasi langsung ke dalam jaringan telekomunikasi tanpa aplikasi mandiri, Jio bertaruh asisten AI dapat menjadi fitur bawaan dari setiap panggilan telepon.
Pendekatan ini berpotensi memangkas ketergantungan konsumen pada aplikasi asisten pihak ketiga dan memberikan Reliance keunggulan distribusi yang kuat di pasar yang kian padat.
Ambani juga memperkenalkan versi terbaru aplikasi MyJio yang ditenagai teknologi serupa untuk melakukan tugas atas nama pengguna, mulai dari aktivasi eSIM hingga pemilihan paket roaming lewat perintah suara alami.
Di segmen rumah pintar, perusahaan memperkenalkan TeleFrame, layar domestik yang menggunakan agen pintar untuk menyajikan informasi ramalan cuaca, jadwal, dan pengingat rumah tangga secara proaktif. Produk ini sejalan dengan tren industri global menuju asisten rumah pintar seperti yang dieksplorasi oleh Amazon dan Google.
Pengumuman ini menandai fase berikutnya dari ambisi besar perusahaan ketika India berupaya membangun kapabilitas domestik di bidang yang didominasi oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat dan China. Upaya ini melanjutkan peluncuran Reliance Intelligence tahun lalu yang bertujuan mengembangkan infrastruktur dan layanan digital untuk konsumen, bisnis, serta pemerintah, termasuk aplikasi pendukung 22 bahasa daerah India.
“India tidak boleh hanya menjadi konsumen bagi pemain AI global. India harus menjadi kreator, dan pemimpi AI Global,” kata Mukesh dilansir dari Techcrunh, Sabtu (20/6/2026)
Guna memuluskan target, Reliance mempercepat langkah melalui kemitraan strategis bersama Google, Meta, dan Nvidia. Awal tahun ini, perusahaan mengumumkan rencana investasi senilai US$110 miliar dalam infrastruktur komputasi demi mengukuhkan posisi sebagai pemain utama dalam ekosistem baru di negara tersebut.
Pada pertemuan pemegang saham tersebut, Reliance meluncurkan rangkaian layanan khusus untuk sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan usaha kecil.
Produk bermerek JioHealthIQ, JioLearnIQ, JioKrishiIQ, dan AI Vyapar dirancang beroperasi lintas bahasa lokal guna memenuhi kebutuhan spesifik masyarakat setempat.
Selain inovasi produk, rapat tersebut membawa kabar penting bagi investor yang menantikan debut Jio di pasar modal. Dewan direksi Jio Platforms menyetujui draf prospektus IPO yang mencakup penerbitan saham baru hingga 270 juta lembar saham.
Langkah ekspansif ini memicu pertanyaan mengenai pengelolaan data pengguna seiring perluasan layanan ke ranah domestik. Perusahaan menyatakan seluruh operasional berjalan atas persetujuan pengguna, namun belum merinci apakah data tersebut akan dipakai untuk melatih model pintar milik mereka atau dibagikan kepada mitra teknologi.
Ambisi besar Reliance muncul saat korporasi India masih sangat bergantung pada model eksternal dan penyedia komputasi awan asing.
Pembatasan akses terbaru pada beberapa model Anthropic mempertegas risiko rantai pasok tersebut, mendorong konglomerat lokal membangun tumpukan teknologi mandiri. Pekan lalu, Reliance berkolaborasi dengan Meta mendirikan pusat data di Gujarat untuk mengembangkan solusi digital bagi pelanggan korporat domestik maupun internasional.
Persaingan di pasar domestik dipastikan semakin ketat mengingat Tata Consultancy Services, Infosys, dan Adani Group juga terus memperluas inisiatif serta kemitraan global mereka dengan Anthropic, Google, dan OpenAI. Bagi Reliance, taruhan kali ini sangat tinggi mengingat saham induk usaha telah turun sekitar 17% tahun ini dan perusahaan membutuhkan pendorong pertumbuhan baru untuk menyambut IPO Jio. (Techcrunch, Sabtu 20/6/2026)