#30 tag 24jam
SUSECON 2026, SUSE Perkuat Penawaran Open Source dan Inovasi Produk Berbasis Agen
SUSEmengumumkan serangkaian inovasi dan kemitraan strategis di konferensi tahunan SUSECON di Praha, Republik Ceko, Rabu (6.5.2026). SUSE mengumumkan serangkaian... | Halaman Lengkap [536] url asal
#perusahaan-teknologi #software #open-ai #inovasi-ai #teknologi-digital
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/05/26 11:23
v/218803/
PRAHA - SUSE mengumumkan serangkaian inovasi dan kemitraan strategis di konferensi tahunan SUSECON di Praha, Republik Ceko, Rabu (6/5/2026). Mereka memperkuat misinya untuk membantu organisasi berinovasi tanpa kompromi dengan menghadirkan kebebasan dalam memilih di seluruh lingkungan teknologi informasi (TI) mereka.Melalui berbagai pengumuman ini, SUSE menegaskan visi yang jelas. Menyederhanakan infrastruktur modern sekaligus memberdayakan organisasi dengan kebebasan untuk memilih cara mereka membangun, menerapkan, dan menskalakan.
Saat perusahaan menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi artificial intelligence (AI) sambil terus menjaga ketahanan, mengendalikan biaya, dan memenuhi tuntutan regulasi, SUSE menghadirkan pendekatan infrastruktur yang terpadu, mencakup Linux, Kubernetes, AI, dan edge. Yang dirancang untuk menyederhanakan kompleksitas dan memberikan kemampuan kepada para pemimpin TI untuk menjalankan beban kerja di mana saja.
“Deretan kemitraan dan inovasi produk di SUSECON tahun ini menegaskan kembali komitmen kami terhadap open source dan visi untuk membantu pelanggan menghilangkan hambatan guna menghindari ketergantungan pada satu vendor (vendor lock-in),” kata CEO SUSE, Dirk-Peter van Leeuwen dalam siaran pers, Selasa (12/5/2026).
Mendukung Sovereign AI dalam Skala Besar
SUSE AI Factory bersama NVIDIA SUSE meluncurkan SUSE AI Factory bersama NVIDIA, sebuah tumpukan perangkat lunak terpadu untuk AI perusahaan. Dirancang untuk membekali perusahaan dengan kemampuan merakit, menerapkan, mengelola, dan mengatur aplikasi AI secara konsisten dan berskala besar di seluruh lingkungan, mulai dari pusat data hingga edge.
Platform ini memprioritaskan kedaulatan digital dan keamanan zero-trust. Hal ini memungkinkan organisasi menggunakan teknologi AI terbaru NVIDIA sambil menjaga logika sensitif dan data eksklusif tetap terlindungi di dalam infrastruktur pribadi mereka.
Memaksimalkan Beban Kerja AI
Switch dan SUSE telah bermitra untuk mempercepat pengembangan sistem Digital Twin dan “AI Factories”, memanfaatkan perpustakaan SUSE AI dan NVIDIA Omniverse untuk mensimulasikan dan mengoptimalkan kinerja pusat data secara real-time. Platform open-source terpadu ini memungkinkan Switch menjalankan model AI kompleks dan simulasi 3D dengan ketepatan tinggi pada infrastruktur bersama yang sama, meningkatkan efisiensi operasional dan keamanan.
Ekosistem Mitra AI Berbasis Agen
Sebagai infrastruktur terkemuka untuk AI berbasis agen, SUSE telah membangun ekosistem strategis melalui integrasi dengan berbagai platform terkemuka seperti Amazon Quick, Fsas Technologies, n8n, dan Revenium, serta kolaborasi dengan mitra seperti Stacklok. Kolaborasi ini untuk menyediakan fondasi yang aman dan bebas vendor bagi operasi otonom di lingkungan Linux atau Kubernetes apa pun.
Dengan mengintegrasikan kecerdasan dan otomatisasi berbasis MCP langsung ke dalam infrastruktur inti, SUSE memungkinkan perusahaan untuk mentransformasi TI tradisional menjadi sistem self-optimizing yang menyeimbangkan inovasi cepat dengan tata kelola tingkat perusahaan yang ketat.
SUSE tahun ini mengidentifikasi adanya “kesenjangan kedaulatan” yang krusial. Di mana 98% perusahaan menjadikan kedaulatan digital sebagai prioritas strategis, namun hanya 52% yang telah beralih dari ambisi ke tahap implementasi nyata. Pakar AI Cahyadi Setiawan Ingatkan Mahasiswa Gunakan AI secara Bijak, Bisa Cari Cuan
Temuan ini menekankan bahwa meskipun AI berperan sebagai katalis utama dalam modernisasi infrastruktur, organisasi harus menjembatani kesenjangan antara inovasi cepat dan kontrol yurisdiksi untuk memastikan ketahanan digital jangka panjang serta kepatuhan terhadap regulasi.
Selain itu, SUSE bermitra dengan Cloudbase Solutions untuk mengintegrasikan alat migrasi Coriolis®. Memungkinkan perusahaan memindahkan beban kerja virtual dari VMware dan cloud publik ke SUSE Virtualization tanpa downtime.
Solusi otomatis tanpa agen ini juga mendukung lingkungan SAP yang kritis. Memungkinkan bisnis memodernisasi infrastruktur mereka dalam satu paltform terpadu yang dapat mengelola mesin virtual maupun kontainer.
Fahri Bachmid Soroti Algoritma dan Teknologi Digital saat LK II HMI Kota Bogor 2026
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Muslim Indonesia Fahri Bachmid menjadi narasumber pada kegiatan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) yang diselenggarakan... | Halaman Lengkap [507] url asal
#algoritma #teknologi-digital #hmi #kota-bogor
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/05/26 18:55
v/216622/
BOGOR - Pakar Hukum Tata Negara Universitas Muslim Indonesia Fahri Bachmid menjadi narasumber pada kegiatan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor tahun 2026. Fahri membawakan materi bertajuk “Supremasi Hukum di Era Algoritma: Menjaga Keadilan di Balik Layar.”Materi itu membahas berbagai tantangan supremasi hukum, demokrasi, dan ketatanegaraan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin masif. Dia menyoroti pengaruh algoritma dan perkembangan teknologi terhadap kehidupan hukum dan demokrasi modern.
Menurut dia, perkembangan teknologi saat ini tidak hanya mengubah pola komunikasi masyarakat, tetapi juga memengaruhi pembentukan opini publik, perilaku sosial, hingga proses demokrasi.
Era digital menghadirkan tantangan baru terhadap penegakan hukum, terutama terkait penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, perlindungan data pribadi, serta dominasi ruang digital oleh kepentingan tertentu.
“Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi hukum tidak boleh kehilangan orientasi keadilan dan kemanusiaannya. Supremasi hukum harus tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga demokrasi dan hak-hak masyarakat,” ujar Fahri.
Selain membahas supremasi hukum di era digital, dia juga menyinggung arah kepemimpinan dan tata kelola negara di masa depan. Indonesia perlu mulai membangun imajinasi besar mengenai model kepemimpinan nasional yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan kompetensi.
Dia kemudian mencontohkan bagaimana beberapa negara mulai memperlihatkan pola kepemimpinan berbasis keilmuan dan riset. “Kita melihat bagaimana Iran dipimpin oleh para sainstokrat, di mana negara dijalankan oleh para ilmuwan. Kita harus mulai mengimajinasi bahwa ke depan negara ini bisa dipimpin oleh orang-orang yang memiliki basis ilmu pengetahuan, riset, dan kapasitas intelektual yang kuat,” ungkapnya.
Generasi muda dan mahasiswa memiliki peran penting dalam mempersiapkan arah masa depan bangsa tersebut. Kader mahasiswa tidak boleh hanya berhenti pada aktivitas politik praktis, tetapi juga harus memperkuat tradisi intelektual, budaya riset, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Mahasiswa harus menjadi kelompok intelektual yang mampu membaca zaman dan menghadirkan gagasan untuk masa depan bangsa. Negara ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya populer secara politik, tetapi juga memiliki kapasitas keilmuan dan integritas,” ucapnya.
Fahri yang merupakan Alumni HMI Cabang Makassar Botolempangan tahun 1999 ini menegaskan bahwa algoritma media sosial saat ini memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat menerima dan memahami informasi. Karena itu, generasi muda, khususnya mahasiswa dan kader HMI dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran hukum yang kuat.
Perkembangan teknologi tanpa diimbangi etika dan kesadaran hukum dapat menimbulkan polarisasi sosial, disinformasi, hingga melemahnya kualitas demokrasi. “Di era algoritma hari ini, masyarakat sering merasa bebas menentukan pilihan, padahal ruang pikir dan informasi yang diterima sangat dipengaruhi oleh sistem digital yang bekerja di balik layar,” katanya.
Ketua Umum HMI Cabang Kota Bogor Moeltazam mengapresiasi kehadiran Fahri Bachmid di tengah kesibukannya sebagai seorang advokat dalam kegiatan tersebut. Dia berharap seluruh rangkaian Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Kota Bogor 2026 dapat berjalan lancar hingga selesai dan mampu melahirkan kader-kader yang memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta kesadaran kebangsaan yang kuat.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Fahri Bachmid yang telah hadir dan memberikan pemikiran penting dan konstruktif terkait dinamika ketatanegaraan serta berbagai aspek keilmuan hukum kontemporer saat ini kepada peserta Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Kota Bogor 2026,” ujar Moeltazam.
Sinyal “habis gelap terbitlah terang” bagi UMKM Indonesia
Optimisme yang mengalir di kalangan UMKM Indonesia menjelang 2026 terasa bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari perjalanan adaptasi yang cukup ... [888] url asal
#umkm-indonesia #ukm #usaha-kecil #literasi-keuangan #teknologi-digital #krisis-ekonomi-global
Jakarta (ANTARA) - Optimisme yang mengalir di kalangan UMKM Indonesia menjelang 2026 terasa bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari perjalanan adaptasi yang cukup panjang dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika 86 persen pelaku usaha kecil menyatakan keyakinan untuk tumbuh, angka ini bukan hanya statistik yang mengesankan, tetapi juga penanda perubahan mentalitas.
Setelah melewati berbagai tekanan global dan domestik, kepercayaan diri ini menunjukkan bahwa usaha kecil tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai memosisikan diri sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang semakin matang.
Temuan dari Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik CPA Australia ke-17 memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang kondisi ini. Survei yang melibatkan 4.166 usaha kecil di 11 pasar tersebut mencatat bahwa optimisme di Indonesia, bahkan melampaui rata-rata kawasan Asia-Pasifik.
Sebanyak 71 persen pelaku usaha kecil di Indonesia percaya bahwa ekonomi nasional akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional sebesar 65 persen. Ini menunjukkan adanya kepercayaan yang relatif kuat terhadap arah ekonomi nasional, meskipun dunia masih dibayangi ketidakpastian global.
Salah satu fondasi utama dari optimisme ini adalah investasi teknologi. Sepanjang 2025, sebanyak 72 persen usaha kecil di Indonesia merasakan dampak positif teknologi terhadap profitabilitas mereka.
Angka ini jauh melampaui rata-rata survei yang hanya mencapai 56 persen. Priya Terumalay, Regional Head Asia Tenggara CPA Australia, menegaskan imbal hasil investasi teknologi yang kuat dan cepat menjadi pendorong utama tingginya adopsi digital di kalangan usaha kecil.
Di balik angka tersebut, ada nuansa yang perlu diperhatikan. Investasi teknologi yang dilakukan masih cenderung berfokus pada aspek yang langsung berinteraksi dengan pelanggan, seperti aplikasi gawai dan sistem pembayaran digital. Ini memang langkah penting, tetapi belum cukup untuk menciptakan keunggulan jangka panjang.
Teknologi, seperti kecerdasan buatan, layanan berbasis cloud, dan perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan, justru memiliki potensi lebih besar dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing secara berkelanjutan. Artinya, transformasi digital belum sepenuhnya menyentuh inti operasional bisnis.
Penjualan daring turun
Menariknya, meskipun teknologi diakui berkontribusi terhadap profitabilitas, penggunaan pembayaran digital dan penjualan daring justru mengalami sedikit penurunan.
Pada 2025, hanya 69 persen usaha kecil yang memperoleh lebih dari 10 persen penjualan dari platform pembayaran digital, turun dari 74 persen di tahun sebelumnya.
Penjualan daring juga mengalami tren serupa, turun dari 68 persen menjadi 64 persen. Fenomena ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa digitalisasi tidak selalu berjalan linear, dan bahwa pelaku usaha masih mencari keseimbangan antara kanal daring dan luring dalam strategi bisnis mereka.
Di sisi lain, ancaman yang muncul dari perkembangan digital juga semakin nyata. Sebanyak 49 persen usaha kecil melaporkan mengalami kerugian akibat serangan siber, baik dalam bentuk waktu maupun finansial.
Ironisnya, hanya 45 persen yang melakukan peninjauan keamanan siber dalam enam bulan terakhir. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap risiko belum sepenuhnya diimbangi dengan tindakan pencegahan yang memadai.
Dalam hal ini, investasi teknologi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai alat untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga sebagai sarana untuk melindungi keberlangsungan usaha.
Optimisme terhadap pertumbuhan juga tercermin dalam peningkatan tenaga kerja. Sebanyak 40 persen usaha kecil menambah jumlah karyawan pada 2025, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 52 persen pada 2026.
Ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis mulai terjadi secara nyata, bukan hanya dalam perencanaan. Namun, pertumbuhan ini juga membawa konsekuensi, terutama dalam kebutuhan pembiayaan.
Sebanyak 78 persen usaha kecil membutuhkan pendanaan eksternal, sebuah angka yang mengindikasikan bahwa akses terhadap pembiayaan tetap menjadi isu krusial.
Di tengah berbagai indikator positif, ada satu aspek yang justru mengalami perlambatan, yaitu inovasi. Hanya 28 persen usaha kecil yang berencana memperkenalkan produk, layanan, atau proses baru yang unik di Indonesia pada 2026, turun dari 37 persen pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini bisa jadi dipengaruhi oleh kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian global, yang mendorong pelaku usaha untuk lebih berhati-hati. Namun, minimnya inovasi berpotensi menjadi hambatan dalam jangka panjang jika tidak segera diatasi.
Generasi muda
Di sinilah peran generasi pengusaha muda menjadi sangat penting. Data menunjukkan bahwa 57 persen pemilik usaha kecil di Indonesia berusia di bawah 40 tahun, proporsi tertinggi di antara negara yang disurvei.
Karakteristik generasi ini lebih berani mengambil risiko, lebih adaptif terhadap teknologi, dan memiliki ambisi ekspansi yang tinggi menjadi aset berharga bagi masa depan ekonomi Indonesia. Mereka tidak hanya membawa energi baru, tetapi juga cara pandang yang lebih terbuka terhadap perubahan.
Kekuatan utama dari usaha kecil Indonesia tampaknya terletak pada kemampuan mereka untuk belajar dan beradaptasi.
Fokus pada kepuasan pelanggan, yang disebut sebagai salah satu pendorong kinerja positif di 2025, menunjukkan bahwa pelaku usaha semakin memahami pentingnya pengalaman pelanggan dalam membangun loyalitas. Ketika hal ini dipadukan dengan adopsi teknologi yang lebih strategis dan manajemen bisnis yang matang, peluang untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan menjadi semakin besar.
Namun optimisme, sekuat apa pun, tetap perlu ditopang oleh kesiapan menghadapi risiko. Transformasi digital, tanpa perlindungan siber yang memadai bisa menjadi bumerang.
Pertumbuhan tanpa inovasi bisa membuat usaha kehilangan relevansi. Dan ekspansi tanpa perencanaan keuangan yang kuat bisa menimbulkan tekanan baru. Oleh karena itu, langkah ke depan bukan hanya soal bergerak lebih cepat, tetapi juga bergerak lebih cermat.
Semua yang tergambar dari survei ini adalah sebuah lanskap usaha kecil yang dinamis, penuh potensi, tetapi juga penuh tantangan. Optimisme yang tinggi adalah modal penting, tetapi bukan jaminan.
Ke depan, bahkan perlu diterjemahkan menjadi strategi yang konkret, keputusan yang bijak, dan keberanian untuk terus belajar. Jika itu dapat dilakukan, maka angka 86 persen bukan hanya sekadar harapan, melainkan awal dari babak baru di mana usaha kecil Indonesia benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi yang tangguh dan berdaya saing tinggi.
Copyright © ANTARA 2026
datalabs.id Raih 2026 Google Cloud Partner of the Year Award for Country: APAC-Indonesia
datalabs.id meraih penghargaan 2026 Google Cloud Partner of the Year Award for Country: APAC-Indonesia atas pencapaiannya dalam ekosistem Google Cloud. PT Data... | Halaman Lengkap [546] url asal
#google-cloud #teknologi-digital #teknologi-informasi #perusahaan-teknologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/04/26 14:10
v/199184/
JAKARTA - PT Data Labs Analytics (datalabs.id) meraih penghargaan 2026 Google Cloud Partner of the Year Award for Country: APAC-Indonesia atas pencapaiannya dalam ekosistem Google Cloud . Penghargaan ini menjadi bukti nyata kapabilitas perusahaan, menyusul pencapaian serupa yang pernah diraih pada 2024.Didirikan pada 2017, dengan fokus utama pada layanan Data Analytics Services, datalabs.id memulai perjalanannya menjadi Google Cloud Partner pada 2019. Sejak saat itu, perusahaan terus membuktikan dedikasinya dalam teknologi digital . Hingga saat ini, datalabs.id dikenal sebagai Google Cloud Premier Partner di Indonesia. Kementerian Kesehatan Gandeng Google Cloud Kembangkan AI Generatif untuk Transformasi Layanan Kesehatan
Selama menjalin kemitraan dengan Google Cloud, datalabs.id konsisten menorehkan rekam jejak gemilang dalam penyediaan solusi teknologi. President of Global Partner Ecosystem and Channels, Google Cloud, Kevin Ichhpurani mengatakan, penghargaan ini diberikan untuk mengapresiasi inovasi dan nilai nyata yang berhasil diberikan para mitra kepada pelanggan.
"Kami bangga mengumumkan PT Data Labs Analytics sebagai pemenang Google Cloud Partner Award 2026. Ini sebagai bentuk pengakuan atas peran mereka dalam mendorong kesuksesan pelanggan sepanjang tahun lalu," kata, Rabu (22/4/2026).
CEO datalabs.id Mendi Susanto mengungkapkan kebanggannya meraih penghargaan ini. Apalagi ini kedua kali kedua mereka membawa pulang penghargaan bergengsi ini. ”Pertama pada 2024 sebagai bukti kompetensi, dan kini penghargaan kedua yang menegaskan konsistensi kami,” ujarnya.
Menurutnya, pencapaian ini tidak lepas dari kepercayaan lebih dari 400 klien yang telah bermitra dengan Datalabs.id dalam berbagai proyek transformasi Google Cloud. ”Penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan perwujudan komitmen kami untuk terus berinovasi dan mendampingi akselerasi digital klien kami di Indonesia,” jelasnya.
Pertumbuhan signifikan klien hingga lebih dari 50%, menjadi bukti nyata skalabilitas dan kapabilitas datalabs.id dalam memberikan solusi teknologi. Ekspansi ini juga di support dengan pertumbuhan karyawan 2 kali lipat, yang mana 99% merupakan professional tersertifikasi. Penghargaan 2026 Google Cloud Partner of the Year Award for Country: APAC - Indonesia merupakan pembuktian kombinasi antara keahlian teknis dan fondasi bisnis yang solid.
Dalam menjalani kemitraan dengan Google Cloud, datalabs.id tidak hanya sekadar transaksi jual-beli. Perusahaan memposisikan diri sebagai strategic problem solver yang membantu memberikan solusi komprehensif. Melalui pemanfaatan teknologi paling terbarukan dan pendekatan end-to-end services, datalabs.id memegang teguh komitmen untuk memberikan dukungan secara berkelanjutan.
Salah satu implementasi yang menjadi bukti nyata komitmen kami adalah kolaborasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelumnya, keterbatasan pemantauan manual membuat proses pengawasan kesulitan mengimbagi volume dan kecepatan arus informasi di sosial media. Hal ini kerap menciptakan celah (blind spot) yang berisiko memicu penanganan isu yang lambat dan reaktif. Untuk menjawab tantangan tersebut, kami mengembangkan PRISMO, sebuah platform Sentiment Analysis terintegrasi.
Melalui teknologi ini, identifikasi sentimen negatif dapat dilakukan secara proaktif sebelum sebuah isu terlanjur meluas. Hasilnya, efisiensi operasional data meningkat tajam; tim pengawas kini terbebas dari beban administrasi manual berkat aliran data yang sudah terotomatisasi dan terintegrasi penuh. Disiplin Kesadaran Jadi Kunci Ketahanan Manusia di Era AI
Sebagai Google Cloud Partner, datalabs.id memiliki kompetensi dalam bidang Cloud Infrastructure, Data Analytics, Work Transformation, API Management, AI, Security, Cloud Migration, Machine Learning, App Development. Portofolio kompetensi ini memberdayakan barisan tenaga ahli datalabs.id untuk mengakselerasi transformasi digital klien secara optimal.
”Ke depannya, guna terus memacu inovasi dan pertumbuhan, datalabs.id akan semakin mempertajam fokus pada inisiatif Artificial Intelligence (AI), menciptakan solusi-solusi cerdas dan adaptif yang relevan dengan dinamika era digital,” jelasnya.
AP Solution Day 2026 Dorong Transformasi Digital melalui Solusi AI
AP Solution Day 2026 menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, kata CEO Anugrahpratama.com, Oliver Johanes Setiawan.... | Halaman Lengkap [390] url asal
#transformasi-digital #artificial-intelligence #teknologi-digital #digitalisasi #digital
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/04/26 09:51
v/197490/
SURABAYA - Anugrahpratama.com kembali sukses menggelar AP Solution Day 2026: Accelerating Digital Transformation Through AI Solution pada Rabu, 15 April 2026, di Ballroom 1–2 Vasa Hotel Surabaya. Acara ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri, pemerintahan, dan profesional IT untuk mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam mendorong transformasi digital yang lebih cepat, efisien, dan adaptif.Lebih dari ratusan peserta dari berbagai sektor, termasuk instansi pemerintah, pendidikan, kesehatan, manufaktur, serta korporasi, turut hadir dalam acara ini.
AP Solution Day 2026 juga menghadirkan berbagai brand teknologi terkemuka yang memamerkan solusi dan inovasi terbaru mereka, di antaranya Acer, Asus Business, Advan, Auromage, Maxhub, Cisco, Dahua, Dell Technologies, Epson, Fortinet, Huawei, Nutanix, Palo Alto, Rocware, Ruckus, Socomec, Televic, ViewSonic, Yealink, dan Zyrex.
Salah satu sesi utama yang menarik perhatian peserta adalah Keynote Speech yang menghadirkan Bagus Jati Santoso, Direktur Perkembangan Teknologi dan Sistem Informasi ITS.
Dalam sesi bertajuk “Data, Realita, dan Strategi Adopsi AI dalam Mendukung Transformasi Digital di Perusahaan”, Bagus membahas peran strategis AI dalam mendorong transformasi digital, tantangan nyata dalam implementasinya, serta pentingnya kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia dalam menghadapi era digital berbasis AI.
Selain itu, peserta juga berkesempatan mengunjungi berbagai booth interaktif dari para brand, serta mengikuti sesi Tech Vision yang memberikan insight mendalam mengenai implementasi solusi berbasis AI di berbagai sektor industri.
Sebagai penyedia solusi IT terintegrasi, Anugrahpratama.com terus berkomitmen menghadirkan tidak hanya teknologi terkini, tetapi juga layanan konsultasi yang membantu perusahaan dan instansi pemerintah dalam mengadopsi solusi digital yang tepat guna.
Didukung oleh tenaga ahli dan layanan after-sales yang profesional, Anugrahpratama.com memastikan setiap implementasi teknologi dapat berjalan optimal, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan pelanggan.
CEO Anugrahpratama.com, Oliver Johanes Setiawan, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme para peserta dan mitra yang terlibat.
“AP Solution Day 2026 menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kami bangga dapat menghadirkan platform kolaboratif yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi wawasan dan solusi," paparnya.
Lebih lanjut, Oliver menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Kami berharap melalui acara ini, sinergi antara perusahaan teknologi, pemerintah, dan dunia pendidikan dapat semakin kuat, sehingga mampu mendorong inovasi dan meningkatkan daya saing di era digital," imbuh dia.
Dengan terselenggaranya AP Solution Day 2026, Anugrahpratama.com semakin menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia melalui solusi teknologi yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.
Smart Tower: menara telekomunikasi berbasis data real-time
Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk cara infrastruktur telekomunikasi dikelola. Jika selama ini ... [926] url asal
#smart-tower #menara-telekomunikasi #teknologi-digital #kecerdasan-buatan
Jakarta (ANTARA) - Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk cara infrastruktur telekomunikasi dikelola. Jika selama ini perhatian publik lebih tertuju pada kecepatan internet atau cakupan sinyal, kini fondasi fisik jaringan justru menjadi sorotan utama.
Memasuki tahun 2026, menara telekomunikasi mengalami pergeseran peran yang signifikan. Menara tidak lagi sekadar struktur pasif penyangga perangkat, melainkan berkembang menjadi infrastruktur cerdas berbasis data real-time atau yang dikenal dengan smart tower.
Konsep smart tower muncul seiring meningkatnya kebutuhan jaringan yang stabil dan andal di era 5G serta pertumbuhan layanan digital. Aktivitas perbankan, perdagangan, pendidikan, hingga layanan publik semakin bergantung pada koneksi yang nyaris tanpa gangguan. Dalam konteks ini, gangguan sekecil apa pun pada menara dapat berdampak luas. Oleh karena itu, pendekatan lama yang bersifat menunggu kerusakan dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.
Pada model konvensional, pengelolaan menara dilakukan secara manual dan berkala. Petugas harus datang ke lokasi untuk melakukan pengecekan, sementara sebagian besar gangguan baru diketahui, setelah layanan terganggu. Kondisi ini menyebabkan waktu perbaikan menjadi lebih lama dan biaya operasional meningkat. Smart tower hadir untuk mengubah pola tersebut, dengan memanfaatkan teknologi digital yang bekerja secara terus-menerus.
Transformasi menuju smart tower dimulai dengan penggunaan sensor yang terpasang di berbagai bagian menara. Sensor ini berfungsi memantau kondisi penting, seperti suhu perangkat, pemakaian listrik, daya tahan baterai, kondisi genset, hingga faktor keamanan lingkungan. Data dari sensor tersebut dikirim secara langsung ke sistem pemantauan terpusat, sehingga kondisi menara dapat diketahui kapan saja, tanpa harus menunggu inspeksi fisik.
Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan sistem kecerdasan buatan. Teknologi ini memungkinkan sistem mengenali pola-pola tertentu yang sulit dilihat oleh manusia. Jika terjadi perubahan yang tidak biasa, sistem dapat memberikan peringatan lebih awal, misalnya, ketika konsumsi energi meningkat, tanpa alasan jelas atau suhu perangkat terus naik secara bertahap. Peringatan ini menjadi dasar bagi pengelola untuk mengambil tindakan, sebelum kerusakan benar-benar terjadi.
Para ahli infrastruktur digital menilai bahwa pendekatan berbasis data ini membawa perubahan besar dalam pengelolaan menara. Pemeliharaan tidak lagi dilakukan secara reaktif, melainkan prediktif. Artinya, masalah dapat dicegah lebih dini berdasarkan analisis data yang akurat. Dengan cara ini, risiko gangguan layanan dapat ditekan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Selain meningkatkan keandalan jaringan, smart tower juga berperan penting dalam pengelolaan energi. Konsumsi energi menara terus meningkat seiring bertambahnya perangkat jaringan, terutama pada era 5G yang membutuhkan kapasitas lebih besar. Melalui pemantauan energi secara real-time, pengelola dapat mengatur penggunaan listrik, baterai, dan genset dengan lebih seimbang. Sistem juga membantu mengurangi pemborosan energi, ketika beban jaringan sedang rendah.
Pengamat industri menyebutkan bahwa pengelolaan energi berbasis data tidak hanya berdampak pada penghematan biaya, tetapi juga mendukung upaya keberlanjutan. Di tengah tuntutan global untuk mengurangi emisi karbon, smart tower menjadi solusi yang relevan. Beberapa pengelola, bahkan mulai mengintegrasikan sumber energi terbarukan, seperti panel surya, yang pengoperasiannya dioptimalkan melalui sistem digital.
Penerapan smart tower juga membawa dampak langsung pada tingkat ketersediaan jaringan. Dalam dunia telekomunikasi, uptime menjadi indikator utama kualitas layanan. Dengan sistem pemantauan yang terus aktif, gangguan dapat diidentifikasi lebih cepat dan penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran. Teknisi tidak lagi harus melakukan pemeriksaan menyeluruh, tetapi langsung menangani titik masalah yang telah terdeteksi oleh sistem.
Menurut para ahli, perubahan terbesar dari konsep smart tower bukan hanya terletak pada teknologi, melainkan pada perubahan cara berpikir industri. Data operasional menara, kini menjadi aset penting. Informasi ini dapat digunakan untuk merencanakan pengembangan jaringan, meningkatkan kualitas kesepakatan layanan dengan operator, hingga membantu perhitungan nilai aset menara secara lebih akurat. Dengan kata lain, data menjadi dasar pengambilan keputusan strategis.
Meski menjanjikan, implementasi smart tower di tahun 2026 tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah kebutuhan investasi awal yang cukup besar, terutama untuk mengubah menara lama agar kompatibel dengan sistem digital. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor krusial. Tim operasional dituntut untuk memahami sistem berbasis data dan mengubah kebiasaan kerja yang selama ini mengandalkan pengalaman lapangan semata.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah aspek keamanan digital. Menara yang terhubung secara daring memerlukan perlindungan yang kuat agar tidak menjadi celah gangguan. Pengelola harus memastikan bahwa sistem pemantauan dan data yang dikumpulkan terlindungi dengan baik dari potensi serangan siber. Kesadaran akan pentingnya keamanan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi smart tower.
Di balik berbagai tantangan tersebut, peluang yang terbuka dinilai sangat besar. Smart tower membuka pintu bagi berbagai inovasi dan model bisnis baru. Menara tidak lagi sekadar disewakan sebagai lokasi perangkat, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem digital yang lebih luas. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendukung pengembangan kota pintar, layanan berbasis lokasi, hingga kebutuhan komputasi di tepi jaringan.
Dukungan regulasi dan kebijakan juga diperkirakan akan semakin mengarah pada penguatan infrastruktur digital nasional. Pemerintah memiliki kepentingan besar terhadap keandalan jaringan, terutama untuk mendukung layanan publik dan pertumbuhan ekonomi digital. Dalam konteks ini, smart tower menjadi salah satu fondasi penting untuk memastikan jaringan nasional tetap tangguh dan efisien.
Ke depan, smart tower diprediksi akan menjadi standar baru dalam industri telekomunikasi. Transformasi ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan strategis. Menara telekomunikasi akan terus berkembang dari struktur fisik menjadi aset digital yang bernilai tinggi. Dengan dukungan data real-time, kecerdasan buatan, dan analisis yang tepat, pengelolaan menara akan semakin cerdas dan berkelanjutan.
Smart Tower 2026 menandai babak baru dalam pengelolaan infrastruktur telekomunikasi. Di tengah masyarakat yang semakin bergantung pada konektivitas, keberadaan menara yang andal, efisien, dan berbasis data menjadi kunci utama. Transformasi ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat fondasi infrastruktur komunikasi Indonesia di masa depan.
*) Dr Joko Rurianto ST MM, profesional di bidang telekomunikasi, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern
Copyright © ANTARA 2026
Silaturahmi Lancar, Rumah Tetap Aman dengan Smarthome Plus
Perkembangan teknologi digital kini menghadirkan solusi yang memungkinkan rumah tetap dapat dipantau dari mana saja di tengah aktivitas silaturahmi yang padat ketika... | Halaman Lengkap [319] url asal
#pln-icon-plus #teknologi-digital #smart-home #rumah-pintar #teknologi-pintar
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/03/26 22:33
v/162481/
JAKARTA - Perkembangan teknologi digital kini menghadirkan solusi yang memungkinkan rumah tetap dapat dipantau dari mana saja di tengah aktivitas silaturahmi yang padat ketika hari raya atau libur panjang. Menjawab kebutuhan ini, SmartHome Plus , hadirkan layanan berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemilik rumah mengontrol dan memantau berbagai perangkat rumah tangga secara terintegrasi melalui satu aplikasi."Dengan SmartHome Plus, berbagai perangkat seperti lampu pintar, CCTV, smart door lock, smart doorbell, hingga sensor keamanan dapat dikendalikan dengan lebih mudah dari smartphone," kata Direktur Utama PLN Icon Plus , Chipta Perdana dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Konsep smart home kini semakin populer di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan laporan Statista (2024), jumlah pengguna teknologi smart home di dunia diperkirakan mencapai lebih dari 785 juta rumah tangga pada tahun 2028, menunjukkan bahwa teknologi ini semakin menjadi bagian dari gaya hidup modern.
SmartHome Plus, Solusi Rumah Cerdas Terintegrasi dari PLN Icon Plus
Sementara itu, laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa penggunaan sistem otomasi rumah dapat membantu efisiensi konsumsi energi rumah tangga hingga 10-30% melalui pengaturan perangkat listrik yang lebih efisien.
Kini lewat SmartHome Plus denngan fitur pemantauan real-time memungkinkan pengguna tetap mengetahui kondisi rumah meskipun sedang berada di luar kota atau tengah bersilaturahmi bersama keluarga. Pengguna dapat melihat kondisi rumah melalui kamera, memastikan pintu dalam keadaan terkunci, hingga menyalakan atau mematikan perangkat listrik dari jarak jauh.
Mimpi Rumah Pintar Kini di Depan Mata, Berapa Biaya yang Harus Disiapkan?
Selain meningkatkan keamanan, lanjut dia, teknologi smart home juga membantu pengelolaan energi yang lebih bijak. Melalui pengaturan otomatis dan kontrol jarak jauh, perangkat listrik yang tidak digunakan dapat dimatikan dengan mudah sehingga membantu menghindari pemborosan energi.
"Melalui SmartHome Plus, kami berupaya menghadirkan pengalaman rumah yang lebih aman, nyaman, dan terhubung secara digital. Layanan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi digital di sektor rumah tangga sekaligus menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini," ucapnya.
Hadapi Dinamika Pasar, BRI Life Manfaatkan Teknologi Digital
Dinamika pasar membuat perusahaan asuransi terus berinovasi memanfaatkan teknologi digital. Perkembangan bisnis menuntut perusahaan untuk mengadopsi pendekatan... | Halaman Lengkap [239] url asal
#bri-life #asuransi #industri-asuransi #teknologi-digital
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/02/26 22:39
v/121891/
JAKARTA - Perkembangan bisnis menuntut perusahaan untuk mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga pada penguatan brand melalui pemanfaatan teknologi digital .PT Asuransi BRI Life terus melakukan inovasi pemanfaatan teknologi digital secara tepat dalam menghadapi dinamika pasar, serta senantiasa berupaya menjaga komitmen yang kuat dalam mengembangkan inovasi digital yang berdampak signifikan terhadap peningkatan kinerja perusahaan. Transformasi digital yang dijalankan diharapkan menghasilkan perbaikan internal dan juga menciptakan nilai tambah bagi industri asuransi .
BRI Life Komitmen Terapkan Prinsip Keberlanjutan
Atas inovasi tersebut BRI Life meraih penghargaan Indonesia Best Digital Innovation 2025. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti keberhasilan BRI Life dalam memanfaatkan teknologi digital, guna mendukung peningkatan kinerja dan produktivitas perusahaan.
“Kami terus berkomitmen untuk menghadirkan inovasi digital yang relevan dan berdampak nyata,” kata Direktur Operasional BRI Life, Andrew dalam keterangannya dikutip Minggu (1/2/2026).
Pembayaran Klaim BRI Life Tembus Rp4,7 Triliun
Sebagai salah satu perusahaan asuransi jiwa nasional terkemuka yang berperan aktif dalam pengembangan industri asuransi jiwa di Indonesia, BRI Life telah menjalankan berbagai inisiatif transformasi digital. Inisiatif tersebut meliputi implementasi sistem berbasis teknologi untuk mendukung operasional keuangan, pengelolaan data, serta pengawasan proses pembayaran klaim dan manfaat.
“Transformasi ini diawali dengan respons terhadap berbagai tantangan industri seperti meningkatnya medical cost inflation, rendahnya literasi dan penetrasi asuransi, perubahan perilaku generasi milenial dan gen Z. BRI Life menggeser model bisnis dari sekadar penyedia proteksi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari nasabah,” tandas Andrew.
Disiplin Kesadaran Jadi Kunci Ketahanan Manusia di Era AI
Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal menyatakan tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi... | Halaman Lengkap [369] url asal
#manusia #artificial-intelligence-ai #kecerdasan-buatan #teknologi-digital
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 31/12/25 20:07
v/90138/
JAKARTA - Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal menyatakan tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital bukan semata soal kemampuan teknis melainkan ketahanan batin yang dibangun melalui disiplin kesadaran.Menurut dia, perubahan akibat AI berlangsung sangat cepat dan masif memengaruhi dunia kerja, relasi sosial, hingga cara manusia memaknai dirinya sendiri. Namun, dia menilai transformasi diri yang sejati tidak lahir dari motivasi sesaat.
“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” ujar Syam di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Dalam pandangan Restorasi Jiwa Indonesia, disiplin kesadaran merupakan fondasi batin agar manusia tetap stabil di tengah ketidakpastian zaman. Tanpa fondasi tersebut, kecepatan perubahan justru berpotensi memicu kepanikan dan kehilangan arah hidup.
“Tanpa fondasi kecepatan perubahan justru memicu kepanikan, reaktivitas, dan kehilangan pusat diri,” katanya.
Syam menekankan bahwa disiplin dalam konteks ini bukanlah bentuk kekakuan atau tekanan terhadap diri sendiri melainkan ekspresi cinta pada diri. Disiplin kesadaran mencakup perawatan tubuh, penataan pikiran, pengakuan emosi, pemeliharaan relasi, serta spiritualitas yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.
“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” ucapnya.
Langkah awal dalam membangun disiplin kesadaran adalah menciptakan jeda sebelum bereaksi. Banyak konflik dan keputusan keliru lahir dari respons spontan yang tidak jernih.
“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar 10 detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” ujar Syam.
Selain itu, dia mendorong praktik audit energi harian sebagai cara sederhana membangun stabilitas batin. Melalui refleksi atas hal-hal yang menguatkan dan menguras energi, seseorang dapat mulai menyusun sistem hidup yang lebih selaras.
Dia juga menyoroti relasi manusia dengan teknologi. Ketika notifikasi dan algoritma menentukan ritme hidup, manusia berisiko kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
“Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk teknologi bukan hidup mengikuti iramanya manusia mengembalikan posisi alat sebagai pelayan, bukan pengendali,” ucapnya.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa nilai hidup hanya dapat diperkuat melalui tindakan konkret sehari-hari, bukan sekadar slogan. “Nilai bukan slogan atau pernyataan ideal melainkan perilaku yang diulang setiap hari,” kata Syam.
Dia menambahkan manusia yang mampu bertahan menghadapi gelombang perubahan adalah mereka yang memiliki sistem batin paling stabil, bukan sekadar alat paling canggih.
Neuropolitika, Kapitalisme Emosional dan Pilihan Politik
BYUNG-CHUL Han, filsuf Korea Selatan–Jerman dalam bukunya mengajukan tesis yang semakin relevan dalam konteks sosial dan politik hari ini. Tifauzia TyassumaDokter,... | Halaman Lengkap [1,044] url asal
#politik #dokter-tifa #tifauzia-tyassuma #teknologi-digital #jokowi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 06/12/25 12:51
v/63084/
Tifauzia TyassumaDokter, Epidemiolog Perilaku dan Neuropolitika
BYUNG-CHUL Han, filsuf Korea Selatan–Jerman, dalam bukunya “Psychopolitics; Neoliberalisme and New Technology of Power” (2017) mengajukan tesis yang semakin relevan dalam konteks sosial dan politik hari ini. Di mana, kita hidup dalam era kapitalisme emosional, yakni fase ketika emosi bukan hanya bagian dari pengalaman manusia, tetapi telah menjadi komoditas, alat produksi, dan instrumen kekuasaan.
Mengelola emosi disebut Han sebagai teknologi baru dari kekuasaan dan kekuatan. Filsuf Korea Selatan–Jerman, dalam bukunya “Psychopolitics; Neoliberalisme and New Technology of Power” (2017) mengajukan tesis yang semakin relevan dalam konteks sosial dan politik hari ini.
Menurutnya, kekuasaan tidak lagi bekerja melalui aturan atau pengekangan fisik sebagaimana dalam masa biopolitik modernitas awal. Melainkan melalui pengelolaan suasana hati, rasa takut, marah, antusiasme, dan preferensi emosional warganya.
Istilah ini mula-mula diperkenalkan oleh sosiolog Eva Illouz—dalam bukunya “Cold intimacies ; the making of emotional Capitalism” pada awal 2000-an untuk menjelaskan bagaimana bahasa terapi dan psikologi mengalir ke ruang kerja, keluarga dan hubungan personal.
Namun, maknanya berkembang lebih jauh ketika Han menggunakannya untuk membaca konfigurasi kekuasaan kontemporer, di mana kapitalisme emosional bukan semata perubahan budaya atau retorika komunikasi. Melainkan modus pemerintahan baru yang bekerja melalui data emosional manusia.
Fenomena ini kini tampak jelas, terutama dalam pelbagai fenomena politik (dan juga ekonomi). Narasi politik semakin bergeser dari argumentasi programatik menjadi permainan sentimen. Dalam berbagai momentum pemilu, baik di Indonesia maupun di negara lain, pemilih tampak lebih tergerak oleh rasa takut, nostalgia, identitas kelompok, atau kedekatan emosional ketimbang evaluasi kebijakan atau rekam jejak.
Ruang politik tampak berubah menjadi panggung afeksi, bukan ruang deliberasi. Neurosains perilaku (Behavior Neuroscience) membantu menjelaskan pergeseran tersebut.
Riset Daniel Kahneman dan psikologi kognitif—dalam bukunya “Thinking fast and slow “ (2011) menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan manusia dibuat oleh sistem saraf emosional (sistem-1) yang bekerja jauh lebih cepat daripada mekanisme berpikir reflektif (sistem-2).
Dengan kata lain, manusia sering kali bereaksi sebelum berpikir. Proses ini terjadi dalam hitungan milidetik, sulit disadari, tetapi sangat memengaruhi pengambilan keputusan.
Temuan Han dan Kahneman inilah yang memperkuat tesis yang saya bangun dalam kerangka neuropolitika, di mana bahwa dalam banyak konteks politik, sistem limbik—yang mengatur emosi dan respons intuitif—lebih dominan dalam membentuk persepsi dan keputusan publik dibandingkan prefrontal cortex yang bertugas mengolah informasi dan menyusun kesimpulan rasional.
Fenomena ini dapat dilihat pada kasus Jokowi dan kemudian Gibran, ketika sebagian besar publik tergerak bukan oleh argumentasi programatik atau data, melainkan oleh citra, tampilan, dan resonansi emosional yang memicu respons afeksi. Dengan kata lain, preferensi politik lebih banyak dibentuk oleh rasa daripada oleh analisis. Emosi mendominasi preferensi politik banyak orang.
Dalam konteks ini, pendekatan epidemiologi perilaku menjadi penting untuk memahami bagaimana emosi dapat menyebar dalam populasi layaknya patogen sosial. Perilaku kolektif—termasuk sikap politik—dapat menular melalui mekanisme imitasi, paparan berulang, ataupun tekanan norma kelompok.
Di era digital, sentimen publik menyebar mengikuti pola kurva epidemi, di mana muncul sebagai kasus tunggal, meluas menjadi kluster digital, dan pada akhirnya dapat berkembang menjadi gelombang opini yang memengaruhi perilaku memilih. Ini menunjukkan bahwa emosi bukan hanya pengalaman individual, tetapi fenomena yang memiliki dinamika penyebaran dan reproduksi sosial.
Mekanisme biologis dan dinamika sosial inilah yang dimanfaatkan teknologi digital. Platform media sosial bekerja dengan logika penguatan emosional. Algoritma dirancang untuk memunculkan konten yang memicu respons emosional paling kuat—baik kemarahan, rasa takut, maupun keterkejutan—karena respons semacam itu meningkatkan durasi keterlibatan dan menghasilkan data perilaku yang lebih rinci. Tanda suka, bagikan, komentar, dan ekspresi emoji menjadi indikator yang mengukur intensitas respons tersebut.
Data emosional ini kemudian diolah untuk memprediksi pola perilaku, termasuk kecenderungan politik. Skandal Cambridge Analytica (2014) menjadi contoh ekstrem bagaimana data psikologis digunakan untuk mengarahkan pesan politik yang terpersonalisasi kepada kelompok tertentu. Kampanye tidak lagi disusun berdasarkan pesan universal, tetapi berdasarkan kerentanan emosional kelompok sasaran.
Han menyebut mekanisme ini sebagai psikopolitik neoliberal. Kekuasaan tidak lagi mengatur melalui larangan atau paksaan, tetapi melalui pembentukan kebiasaan, preferensi, dan persepsi. Subjek merasa bebas—bahkan merasa memilih secara otonom—padahal pilihan itu telah dimungkinkan oleh algoritma yang bekerja di balik layar.
Dalam konteks ini, membedakan antara feeling, emotion, dan affect menjadi penting. Han menekankan bahwa perasaan (feeling) bersifat mendalam, reflektif dan membutuhkan waktu. Sebaliknya, emosi (emotion) dan afek (affect) bersifat cepat, mudah dipicu, dan mudah diukur. Karena itu, sistem digital dan ekonomi perhatian lebih memilih bekerja melalui pemicu emosional ketimbang membangun refleksi.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana demokrasi bertahan dalam kondisi di mana emosi lebih berperan daripada argumentasi? Demokrasi mensyaratkan ruang untuk berpikir, berdialog, dan mempertimbangkan. Namun mekanisme kapitalisme emosional justru bergerak menuju percepatan respons dan polarisasi sentimen.
Tantangannya bukan hanya meningkatkan literasi digital atau literasi politik, tetapi membangun kesadaran emosional publik. Masyarakat perlu memahami bagaimana emosi—baik yang muncul secara spontan maupun yang dipicu melalui teknologi—mampu memengaruhi pilihan politiknya. Ini bukan ajakan menghapus emosi dari politik, melainkan untuk menghindari politik yang sepenuhnya didasarkan pada sentimen yang tidak diperiksa.
Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas komunikasi politik, tetapi otonomi batin manusia. Dalam arus digital yang terus-menerus membentuk opini dan suasana hati, kita perlu mempertanyakan bukan hanya apa yang kita pilih, tetapi bagaimana pilihan itu terbentuk.
Di tengah derasnya produksi emosi dalam ruang publik, refleksi menjadi bentuk resistensi paling sederhana. Ia bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan cara memastikan bahwa keputusan politik bukan sekadar respons emosional yang diarahkan oleh algoritma, tetapi hasil dari kesadaran sebagai warga negara.
Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan hari ini bukan sekadar: siapa yang akan kita pilih? melainkan apakah pilihan itu benar berasal dari diri kita—atau dari sistem yang merancang bagaimana kita seharusnya merasa?
Pada akhirnya, politik emosi menantang kita untuk melihat ulang diri sendiri sebagai warga, pemilih, sekaligus manusia. Dunia digital yang kita tempati hari ini membuat garis antara pilihan dan pengaruh menjadi semakin kabur.
Kita mungkin merasa otonom, tetapi jejak digital, preferensi emosional, dan respons spontan kita sudah lebih dulu dibaca dan dipaketkan ulang menjadi strategi yang diarahkan kembali kepada kita. Kondisi ini menempatkan kita pada sebuah simpang, apakah kita hanya menjadi pengguna teknologi—atau sedang digunakan olehnya?
Karena itu, refleksi bukan lagi kemewahan intelektual, melainkan kebutuhan politik. Memahami bagaimana emosi bekerja dan bagaimana ia dapat diarahkan menjadi langkah awal untuk merawat kebebasan batin di tengah dorongan emosional yang terus-menerus.
Mungkin jawabannya belum final. Tetapi justru di situlah masa depan demokrasi diuji—di antara yang terasa, yang diarahkan, dan yang benar-benar kita pilih.
Perkuat Inklusi Keuangan Syariah, ShariaCoin Hadirkan Layanan Tabungan dan Gadai Emas Berbasis API
ShariaCoin siap menghadirkan Tabungan Emas, Cicil Emas, dan Gadai Emas berbasis teknologi digital yang aman, likuid, dan siap implementasi melalui integrasi API... | Halaman Lengkap [599] url asal
#inklusi-keuangan #pembiayaan-syariah #gadai-emas #teknologi-digital #tabungan-emas
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/11/25 15:56
v/52552/
JAKARTA - PT Syariah Koin Indonesia (ShariaCoin) membuka peluang kolaborasi strategis dengan berbagai lembaga keuangan seperti BPR, BPRS, koperasi, serta lembaga keuangan lain. Kolaborasi ini siap menghadirkan Tabungan Emas, Cicil Emas, dan Gadai Emas berbasis teknologi digital yang aman, likuid, dan siap implementasi melalui integrasi API dan opsi white-labelling.Direktur Utama PT Syariah Koin Indonesia, Titiez Arga, menegaskan kolaborasi ini bertujuan membantu lembaga keuangan meningkatkan variasi produk. Kemudian memperkuat basis nasabah, menumbuhkan pendapatan free based income, dan memperluas penetrasi inkluasi keuangan secara syariah. Kilau Emas Antam Kembali Lagi, Hari Ini Harga Naik ke Rp2,38 Juta/Gram
“Kami percaya masa depan keuangan syariah dibangun melalui kolaborasi, bukan kompetisi. ShariaCoin siap menjadi mitra strategis BPR, BPRS, koperasi, maupun lembaga berizin uang elektronik, dan jaringan Laku Pandai untuk menghadirkan produk emas digital yang aman, tersertifikasi, dan mudah diakses,” katanya, Kamis (27/11/2025).
Saat ini, minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen proteksi kekayaan semakin meningkat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan transaksi platform ShariaCoin. Sepanjang Januari hingga akhir November 2025, total transaksi Tabungan Emas di platform tersebut telah mencapai sekitar 15 kilogram emas.
Dalam tiga bulan terakhir, kinerja emas digital juga menunjukkan hasil yang sangat positif dengan kenaikan 24,68%. Jika dilihat dalam enam bulan, return mencapai 34,67%, dan dalam satu tahun penuh meningkat hingga 72,70%. Angka-angka ini menegaskan bahwa emas digital menawarkan tren pertumbuhan yang kuat dan menjanjikan, terutama untuk investasi jangka menengah.
Selain itu, pencapaian ini juga mencerminkan kepercayaan yang kuat terhadap layanan emas digital syariah, sekaligus menunjukkan besarnya potensi pasar bagi lembaga keuangan yang ingin menambah variasi produk. “Kinerja transaksi yang terus tumbuh membuktikan bahwa produk emas digital syariah bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan nyata dan semakin diminati masyarakat luas,” lanjutnya.
Dalam skema kolaborasi, ShariaCoin menyediakan pasokan dan infrastruktur digital untuk Tabungan Emas serta Cicil Emas melalui rantai pasok resmi yang tersertifikasi. Sementara pada layanan Gadai Emas, lembaga keuangan dapat memanfaatkan fasilitas dana pembiayaan dari ShariaCoin untuk pembiayaan gadai maupun modal usaha. Seluruh transaksi mengikuti fatwa MUI nomor 26 dan 77, diawasi Dewan Pengawas Syariah, dan emas disimpan pada lembaga penyimpanan berizin negara.
ShariaCoin juga menawarkan fleksibilitas model bisnis untuk mitra, mulai dari fee-based income, revenue sharing, hingga penggunaan white-labelling yang memungkinkan lembaga memakai brand internal. Dengan demikian, lembaga dapat memperluas lini produk tanpa harus berinvestasi besar di infrastruktur teknologi maupun operasional.
Titiez memaparkan lembaga keuangan memiliki potensi pendapatan yang semakin besar seiring meningkatnya aktivitas nasabah. Dengan 1.000 nasabah aktif saja, pendapatan bisa datang dari pendapatan transaksi harian tabungan emas, margin pembiayaan Cicil Emas, hingga biaya layanan dan penyimpanan pada Gadai Emas. “Produk berbasis emas mampu menciptakan engagement yang tinggi dan loyalitas nasabah, sekaligus menghasilkan pendapatan berkelanjutan,” jelasnya.
Keunggulan integrasi yang ditawarkan ShariaCoin menjadi nilai tambah bagi mitra, terutama dengan adanya API yang siap terhubung langsung ke core banking. Fitur ini menjadikan platform ShariaCoin sangat relevan bagi BPR/BPRS, koperasi, e-money, hingga jaringan Laku Pandai yang membutuhkan solusi cepat dan efisien. Perkuat Inklusi Keuangan, MNC Life Dukung Penuh AFTECH di Bulan Fintech Nasional 2025
Selain itu, seluruh aset emas yang ditransaksikan telah tersertifikasi, bersifat likuid, dan dapat ditarik secara fisik, memberikan jaminan keamanan bagi nasabah. Ditambah dengan legalitas perusahaan yang lengkap serta kepatuhan penuh terhadap prinsip syariah, produk-produk ini menjadi pilihan yang aman untuk diadopsi oleh lembaga keuangan dari berbagai skala.
Keunggulan lainnya, lembaga mitra dapat menikmati peningkatan fee-based income sekaligus mempercepat akuisisi nasabah baru melalui produk emas digital yang semakin diminati masyarakat. “Kolaborasi ini membawa solusi nyata untuk meningkatkan pendapatan lembaga keuangan secara aman dan termitigasi risiko, sembari memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan syariah berbasis emas,” tandasnya.
Komdigi Mau Wajibkan Aktivasi SIM Card Pakai Face Recognition
Kementerian Komunikasi dan Digital akan terapkan registrasi kartu SIM dengan teknologi face recognition. [456] url asal
#komdigi #registrasi-sim-card #face-recognition #dukcapil #industri-telekomunikasi #teknologi-digital
(CNBC Indonesia - Tech) 14/11/25 18:06
v/38988/
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mempercepat rencana penerapan registrasi kartu SIM menggunakan teknologi face recognition yang terhubung dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil).
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan bahwa kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan keamanan, melindungi pelanggan, serta menekan penyalahgunaan nomor prabayar yang selama ini marak terjadi.
Edwin menjelaskan bahwa proses konsultasi publik terkait aturan baru ini sudah berlangsung dan dapat diakses melalui situs resmi Komdigi. Ia menekankan, teknologi face recognition membuat proses registrasi menjadi lebih akurat dan bertanggung jawab, berbeda dengan sistem lama yang hanya mengandalkan KTP dan KK.
"Makanya dalam waktu dekat, mengenai registrasi dengan face recognition ya bekerja sama dengan Dukcapil," ujar Edwin saat ditemui di Kantor Komdigi, Jumat (14/11/2025).
"Insya Allah sekarang kita dalam proses konsultasi publik bisa dilihat di website kami. Dengan itu kita lebih lebih membuat pemilik handphone ini nomor itu lebih bertanggung jawab," imbuhnya.
Menurut Edwin, penguatan mekanisme Know Your Customer (KYC) ini merupakan bagian dari upaya melindungi pelanggan sekaligus menjaga kesehatan industri telekomunikasi. Ia menegaskan bahwa operator seluler juga diminta memperkuat respons bisnis untuk mengurangi potensi penyalahgunaan nomor.
Edwin mengungkapkan bahwa tingginya mobilitas nomor di Indonesia menjadi salah satu alasan utama diterapkannya kebijakan ini. Ia menyebut, aktivitas pergantian dan pembuatan nomor baru di dalam negeri sangat masif.
"Setiap hari itu minimal 500 ribu, dan ada hari-hari tertentu sampai 1 juta orang. Artinya dalam satu bulan itu bisa terjadi nomor baru tuh keluar masuk 20 juta nomor kan 15 sampai 20juta nomor," terangnya.
Dengan jumlah pelanggan sekitar 308-315 juta nomor aktif, tren ini berarti dalam setahun Indonesia bisa mencatat hampir 180 juta hingga 240 juta nomor baru. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding negara lain yang hanya berada di kisaran 1-1,5% dari total pelanggan.
"Ini yang membawa kerugian dampaknya daripada nomor-nomor yang nggak jelas itu jauh lebih besar daripada manfaatnya," terangnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan mempersulit masyarakat untuk membeli dan mengaktifkan kartu SIM.
"SIM card tetap bisa dibeli at anytime, at anywhere. Nggak ada kata mempersulit," tegasnya.
Pada tahap awal, face recognition diterapkan secara sukarela (voluntary) dengan masa transisi sekitar satu tahun.
"Tapi ada masa transisi kurang lebih 1 tahun. Transinya 1 tahun. Nanti yang existing juga diminta perlahan-lahan untuk mulai update datanya." pungkasnya.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56