Bisnis.com,JAKARTA — Pemerintah China resmi menghapus seluruh tarif impor bagi produk yang berasal dari 53 negara di kawasan Afrika. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya Beijing memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan benua tersebut.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kebijakan tersebut merupakan implementasi penuh akses tarif nol persen bagi seluruh impor dari Afrika.
“Kedua, implementasi penuh akses tarif ke 100% impor Afrika sejak 1 Mei,” kata Wang Yi, dikutip dari laporan media pemerintah China CGTN, Rabu (11/3/2026).
Dalam siaran tersebut, dia menegaskan penghapusan tarif dilakukan untuk memperluas perdagangan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi negara-negara Afrika untuk mengakses pasar China yang sangat besar.
“Sebagai bagian dari komitmen China terhadap pembukaan standar tinggi, kami menghilangkan tarif sepenuhnya untuk mendorong perniagaan, untuk memulihkan manfaat bagi rakyat, dan untuk membantu Afrika mendapatkan peluang besar dari pasar Cina,” ujar Wang Yi.
Dalam keterangan resmi di situs Kementerian Luar Negeri China, Wang Yi menyebut hubungan China dan Afrika telah terjalin selama lebih dari 70 tahun dan tetap kuat di tengah perubahan situasi global. Kerja sama tersebut bahkan menjadi prioritas diplomasi China, tercermin dari tradisi kunjungan awal tahun menteri luar negeri China ke negara-negara Afrika yang telah berlangsung selama 36 tahun.
Dia juga menegaskan bahwa Presiden Xi Jinping terus menempatkan hubungan dengan Afrika sebagai prioritas. Pendekatan kerja sama yang menekankan ketulusan, hasil nyata, serta persahabatan disebut telah mendorong hubungan kedua pihak mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Selain kebijakan tarif nol persen, China juga akan memperluas berbagai program kerja sama lain dengan Afrika sepanjang 2026, termasuk penyelenggaraan ratusan kegiatan dalam kerangka China-Africa Year of People-to-People Exchanges.
Sementara itu, laporan dari AfricanNews menyebut kebijakan baru tersebut berlaku bagi 53 negara Afrika, dengan Eswatini menjadi satu-satunya negara yang tidak termasuk dalam daftar. Negara tersebut masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan, yang status kedaulatannya dipersengketakan oleh China.
Mulai 1 Mei, seluruh produk dari negara-negara Afrika tersebut dapat masuk ke pasar China tanpa dikenakan tarif impor. Sebelumnya, Beijing sudah memberikan fasilitas serupa kepada 33 negara Afrika, namun kini kebijakan tersebut diperluas ke hampir seluruh kawasan.
Langkah ini diperkirakan akan semakin meningkatkan perdagangan China-Afrika yang sebelumnya telah mencapai sekitar US$222 miliar pada awal 2025. Nilai perdagangan itu diprediksi berpotensi meningkat setelah tarif impor dihapus sepenuhnya.
Selain memperkuat hubungan ekonomi dengan Afrika, kebijakan tersebut juga muncul di tengah perubahan dinamika perdagangan global, ketika sejumlah negara Afrika mulai mengurangi ketergantungan perdagangan dengan Amerika Serikat setelah kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Washington terhadap berbagai produk dari kawasan tersebut.