Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti nasional memilih bersikap hati-hati dalam menjalani 2026. Di tengah sentimen pasar yang belum kondusif, target marketing sales yang dipasang mayoritas pengembang cenderung konservatif, mencerminkan strategi menjaga stabilitas kinerja ketimbang agresif mengejar pertumbuhan.
Sejumlah pengembang besar mematok target yang relatif serupa dengan tahun sebelumnya. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menargetkan prapenjualan Rp10 triliun, diikuti PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) sebesar Rp9,5 triliun, serta PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) Rp4,3 triliun. Sementara itu, target marketing sales emiten properti lainnya umumnya berada di kisaran Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun.
Kehati-hatian ini bukan tanpa alasan. Pada 2025, tidak semua emiten properti mampu mencapai target penjualan, dengan hanya beberapa nama besar seperti BSDE dan SMRA yang berhasil memenuhi ekspektasi. Kedua masing-masing berhasil melampaui target dengan masing-masing senilai Rp10,04 triliun dan Rp5,52 triliun. Sementara CTRA dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) sedikit meleset dari target atau hanya merealisasikan 95% dan 83% dari target 2025.
Direktur CTRA Harun Hajadi mengatakan kondisi saat ini tidak lepas dari siklus properti yang memang tengah berada dalam fase pelemahan. Dalam fase ini, permintaan cenderung menurun, terutama karena konsumen bersikap lebih hati-hati dalam melakukan pembelian aset properti.
Sejauh ini per kuartal I/2026, CTRA mencatat marketing sales Rp2,4 triliun atau setara 26% dari target pada 2026 senilai Rp9,5 triliun. Kontribusi marketing sales terbesar berasal dari segmen rumah dan kavling yang mencapai 88%, diikuti ruko sebesar 10%, apartemen 2%, dan perkantoran 0,03%. Adapun sebanyak 54% marketing sales pada sepanjang kuartal I/2026 berasal dari produk yang memenuhi syarat PPN DTP.
“Tahun ini belum terlihat tanda-tanda membaik karena sentimen pasar yang kurang baik,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Senada, Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma, menegaskan bahwa penetapan target pada 2026 dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik.
PANI tetap mengandalkan segmen residensial sebagai motor utama penjualan tahun ini, didukung penjualan kavling komersial dan produk seperti ruko serta SOHO di kawasan PIK2.
Di tengah tantangan eksternal, PANI tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang berkat land bank 1.838 hektare, pengembangan kawasan berkelanjutan, serta fleksibilitas operasional untuk merespons dinamika pasar. Penguatan infrastruktur di PIK2 juga menjadi katalis pertumbuhan kawasan.
Tak berbeda jauh, Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengatakan, target pra penjualan 2026 ditetapkan secara optimistis tetapi juga hati-hati dengan memperhatikan prospek industri properti 2026 serta pencapaian kinerja tahun 2025. Target yang terukur tersebut supaya perseroan tak perlu merevisi target tersebut ke-depannya.
"Target 2026 senilai Rp10 triliun sama dengan tahun 2025. Kami tidak mau yang terlalu bombastis karena tidak ingin merevisi target," ujarnya.
Secara rinci, pada 2026 ini target senilai Rp10 triliun akan ditopang oleh sektor residensial yang mencapai setengah dari target senilai Rp5 triliun. Target terbesar kedua berasal dari segmen komersial Rp3,5 triliun. Sisanya penjualan dari joint venture (JV) land lot ditargetkan sekitar Rp1,5 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.