Bisnis.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) di Jateng pada November 2025 menurun, dipengaruhi oleh sektor tanaman perkebunan rakyat yang merosot tajam.
NTP pada bulan November 2025 tercatat sebesar 116,11 poin, turun dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang berada di angka 116,41 poin. Penurunan NTP terjadi ketika Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami kenaikan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Jateng Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan bahwa penurunan NTP pada bulan November disebabkan oleh sejumlah komoditas seperti gabah, tembakau, salak, cabai rawit, dan bawang daun.
Berdasarkan subsektor, Endang melaporkan bahwa penurunan NTP terjadi di hampir semua subsektor, seperti subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar -2,20 persen, peternakan sebesar -0,62 persen, tanaman pangan sebesar -0,29 persen, dan nelayan sebesar -0,37 persen (m-to-m). Sementara itu, subsektor hortikultura dan perikanan mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,36 persen dan 0,53 persen (m-to-m).
“Subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat mengalami penurunan NTP sebesar 2.20 persen. Komoditas yang memberikan andil penurunan adalah tembakau, tebu, kakao/coklat biji, kelapa, dan pala biji,” ujar Endang, Senin (2/12/2025).
Berdasarkan perkembangan NTP provinsi di pulau Jawa pada bulan November 2025, dari 6 provinsi terdapat dua provinsi yang mengalami kenaikan dan 4 provinsi yang mengalami penurunan, salah satunya Provinsi Jawa Tengah. NTP tertinggi dicatat Provinsi Jawa Barat sebesar 116,15 poin dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 107,07 poin. (Fadya Jasmin Malihah)