Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai penurunan premi produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked tak semata mencerminkan berkurangnya minat masyarakat terhadap produk ini.
Direktur Eksekutif Togar Pasaribu berpandangan penurunan ini justru bagian dari proses penyesuaian industri terhadap implementasi regulasi baru yang memperkuat tata kelola dan transparansi produk unit-linked.
“Selain itu, masyarakat kini juga mulai lebih berhati-hati dan rasional dalam memilih produk asuransi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan mereka,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (21/10/2025).
AAJI, kata Togar, memandang kondisi ini sebagai fase stabilisasi portofolio industri. Pasalnya, perusahaan akan semakin fokus pada penguatan kepercayaan nasabah melalui transparansi, tata kelola yang baik, dan edukasi finansial yang lebih mendalam.
Berdasarkan data AAJI pada semester I/2025, kontribusi PAYDI mencapai sekitar 37% dari total premi industri. Sebab itu, dia menilai produk ini masih menjadi salah satu pilihan utama bagi segmen masyarakat tertentu.
“Bagi nasabah dengan profil risiko moderat hingga agresif dan memiliki tujuan keuangan jangka panjang, PAYDI tetap relevan karena menawarkan dua manfaat sekaligus, proteksi jiwa dan potensi pertumbuhan investasi,” jelas Togar.
Lebih lanjut, dia menyebut unit-linked ini secara umum cenderung diminati oleh nasabah di usia produktif, yang telah memiliki pengetahuan, perencanaan keuangan dan tujuan investasi jangka panjang yang cukup baik.
Oleh karena itu pula, imbuhnya, AAJI melihat prospek PAYDI masih tetap positif dan berpotensi tumbuh progresif dalam 1-3 tahun ke depan. Baginya, pemanfaatan teknologi digital dapat memberikan peluang agar PAYDI jadi lebih sederhana, transparan, dan mudah diakses.
Untuk diketahui, AAJI mencatat pada Semester I/2025 premi asuransi jiwa tradisional masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 6,5% mencapai Rp55,20 triliun. Sementara premi produk unit-linked atau PAYDI tercatat sebesar Rp32,40 triliun, mengalami penurunan 11,7% secara (year on year/YoY).