Bisnis.com, JAKARTA — Grup band Slank kembali menjadi salah satu penampil yang paling dinanti di panggung myBCA International Java Jazz Festival 2026. Tampil di Hall BCA, Minggu (31/5/2026), band asal Gang Potlot itu menghadirkan aransemen bernuansa jazz dan duet bersama Margie Segers.
Tampil di hadapan ribuan penonton Slank langsung membuka konser dengan energi tinggi. Kaka muncul tanpa mengenakan atasan dan bertopi fedora, lalu tanpa banyak basa-basi melantunkan “Bang Bang Tut” yang disambung “Tong Kosong”.
Setelah dua lagu pembuka, Kaka menyapa penonton yang memenuhi area panggung. “Selamat sore dari Pantai Indah Kapuk 2. Terima kasih Java Jazz. Ada hadiah buat kalian semua, Mawar Merah,” ujar Kaka sebelum band itu memainkan lagu populer tersebut.
Meski tampil di festival jazz, Slank tidak meninggalkan identitas musikal yang telah mereka bangun. Mereka mengolah lagu-lagu lama dengan pendekatan improvisasi instrumen tanpa menghilangkan karakter rock dan blues yang melekat pada band tersebut.
Perjalanan musikal itu berlanjut ketika Slank membawa penonton menelusuri katalog lagu dari berbagai periode karier mereka. Sebelum membawakan “Poppies Lane Memory”, Bimbim mengajak penonton mengenang masa lalu melalui lagu yang berasal dari Album Tujuh.
“Ini dari Album 7, bercerita tentang masa lalu. Bercerita tentang sebuah jalanan di Bali. This is sing full Poppies Lane Memory,” kata Bimbim dari atas panggung.
Nuansa berubah saat Slank membawakan lagu dari album Virus. Bimbim memperkenalkannya sebagai kisah tentang seseorang yang terjerumus narkoba hingga menjadi pekerja malam, tema yang mencerminkan kepedulian Slank terhadap realitas sosial.
Momen yang lebih personal hadir saat “Kupu-Kupu Liarku” dimainkan. Bimbim mengaku lagu tersebut membawanya kembali pada masa remaja, sebelum kemudian secara mengejutkan membawakan lagu “Esok Kan Masih Ada”, karya mendiang Utha Likumahuwa.
Pilihan lagu itu memberi warna berbeda dalam pertunjukan yang didominasi repertoar Slank. Kehadiran lagu populer Utha terasa pas dengan suasana Java Jazz yang memang mempertemukan berbagai generasi dan ragam musik dalam satu panggung.
Momen nostalgia juga hadir saat Kaka mengenang penampilan terakhir Slank di Java Jazz pada 2009. “Kenangan tentang Java Jazz itu 17 tahun lalu. Berarti ada yang dibikin oleh ibu bapaknya terus datang hari ini umurnya 17 tahun,” ujar Kaka sebelum memainkan harmonika dan mengawali “Terlalu Manis”.
Lagu tersebut langsung disambut koor panjang dari penonton. Ribuan suara bernyanyi bersama, menciptakan salah satu momen singalong terbesar dalam penampilan Slank sore itu. Menjelang akhir konser, Bimbim mengungkapkan mimpi yang akhirnya terwujud di Java Jazz tahun ini.
“Ada mimpi yang belum kesampaian, tapi akhirnya kesampaian. Kita mau duet dengan Margie Segers,” ujar Bimbim. Kehadiran Margie langsung disambut tepuk tangan meriah dari penonton yang memenuhi area panggung.
Margie pun mengaku bahagia bisa berbagi panggung dengan Slank. “Saya senang sekali berada di sini. Saya senang bisa duet dengan mereka. Saya sudah 57 tahun di dunia musik. Saya ingin merayakan semua itu dengan Slank,” katanya sebelum membawakan “Semua Bisa Bilang” bersama Slank.
Setelah duet dengan Mergie, Slank secara berturut-turut membawakan nomor hits di antaranya I Miss You, dan Seperti Para Koruptor. Kedua lagu ini juga menjadi sesi pamungkas yang ditutup dengan jamming serta unjuk kemampuan dari masing-masing personil.