Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan metode self-sampling HPV Test telah terbukti efektif untuk meningkatkan angka skrining dini kanker serviks di Indonesia.
Metode tes HPV self-sampling merupakan cara skrining kanker serviks yang memungkinkan perempuan mengambil sendiri sampel sel dari area vitalnya menggunakan alat khusus seperti swab, guna mendeteksi DNA Human Papillomavirus (HPV).
Pendekatan ini dinilai mampu memperluas akses, meningkatkan kenyamanan, serta mendorong partisipasi skrining, terutama bagi mereka yang merasa enggan menjalani pemeriksaan konvensional, dengan tingkat akurasi yang sama tinggi dengan pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan.
Dante menyebut metode self sampling merupakan salah satu strategi Kemenkes untuk lebih memperluas cakupan skrining tanpa perlu tergantung pada jumlah tenaga kesehatan. Menurutnya, cara ini efektif mempercepat cakupan karena perempuan dapat mengambil sampel mandiri dengan alat yang disediakan, lalu setelah itu dapat menyerahkan kepada petugas kesehatan untuk diperiksa.
"Secara nasional, hingga saat ini pemerintah telah melakukan skrining terhadap lebih dari 600 ribu perempuan di Indonesia. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah skrining hanya sekitar 100 ribu orang," katanya di Kementerian Kesehatan, Selasa, (27/1/2026).
Dante menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan sebelumnya telah melakukan uji coba metode tersebut bekerja sama dengan Jhpiego, Bio Farma, dan Roche melalui sebuah proyek percontohan di Surabaya dan Sidoarjo.
Dalam pelaksanaannya di Surabaya, skrining kanker serviks menggunakan metode self sampling mampu mencatatkan capaian hingga 54,3%. Sementara di Sidoarjo, yang masih menerapkan pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan, tingkat cakupan skrining tercatat lebih rendah, yakni sebesar 45,0%.
"Hasil pilot study di Surabaya menunjukkan angka invalid (metode self sampling, RED) hanya sekitar 1,1 persen. Dengan edukasi yang lebih baik, metode swab mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu alat penting untuk mengidentifikasi kanker leher rahim di seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.
Selain itu, Dante berharap program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dapat mendorong perluasan skrining HPV DNA secara lebih masif, baik dilakukan dengan petugas kesehatan atau self sampling. Dengan adanya beragam pilihan tersebut, dirinya optimistis upaya penurunan angka kasus kanker serviks ke depan dapat berjalan lebih efektif.
Hal ini juga sejalan dengan percepatan skrining yang menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030, yang menargetkan pemerataan deteksi dini kanker serviks di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai informasi, berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker leher rahim masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka insiden mencapai 23,3 kasus per 100 ribu penduduk, menjadikannya yang tertinggi kedua setelah kanker payudara.