Bisnis.com, JAKARTA — Para peneliti di China mengklaim berhasil menciptakan sampel pertama berlian heksagonal murni, jenis material superkeras yang diyakini memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan berlian yang umum digunakan saat ini.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature dan dinilai membuka peluang baru bagi pemanfaatan material berdaya tahan tinggi untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari alat pemotong hingga teknologi elektronik.
Berlian yang dikenal luas selama ini adalah berlian kubik, yaitu mineral dengan susunan atom karbon berbentuk kubus. Struktur ini membuat berlian menjadi material alami paling keras di Bumi dan menjadi acuan tertinggi dalam skala kekerasan Mohs.
Berbeda dengan berlian konvensional tersebut, berlian heksagonal memiliki susunan atom karbon berbentuk heksagon atau menyerupai sarang lebah. Varian ini juga dikenal dengan nama Lonsdaleite dan selama ini sangat sulit ditemukan dalam kondisi murni.
Deteksi pertama berlian heksagonal di alam liar didokumentasikan dalam sebuah makalah pada 1967. Pada makalah disebutkan tiga meteorit Canyon Diablo (fragmen asteroid yang menciptakan kawah besar di Arizona) mengandung sekitar 30 persen fase berlian heksagonal dan 70 persen kubik. Lalu, meteorit Goalpara (ditemukan di Assam, India) memiliki sejumlah kecil berlian heksagonal.
Kala itu, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa bukti tersebut merupakan berlian kubik yang cacat dan tersusun secara kacau. Mereka tidak yakin bahwa lonsdaleit benar-benar nyata.
Kendati demikian, dalam penelitian terbaru, tim ilmuwan berhasil memproduksi beberapa sampel berlian heksagonal berdiameter sekitar 1,5 milimeter. Ukuran tersebut cukup besar untuk memungkinkan pengujian sifat material secara lebih akurat.
“Analisis struktural dan spektroskopis, yang didukung oleh simulasi dinamika molekuler skala besar, secara tegas mengkonfirmasi identitas HD (berlian heksagonal),” ujar Chong-Xin Shan, salah satu pemimpin studi ini dalam laporannya di jurnal Nature, dikutip dari Live Science, Senin (16/3/2026).
Untuk membuatnya, para peneliti memampatkan grafit yang memiliki struktur atom sangat teratur selama sekitar 10 jam pada tekanan sekitar 20 gigapascal atau setara 200.000 kali tekanan atmosfer Bumi. Proses tersebut dilakukan pada suhu tinggi antara 1.300 hingga 1.900 derajat Celsius.
Pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi, lonsdaleit mulai bermorfosis menjadi berlian kubik. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa berlian heksagonal memiliki tingkat kekakuan dan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan berlian kubik.
Selain itu, material ini juga lebih tahan terhadap oksidasi, sehingga mampu bertahan pada suhu tinggi tanpa mengalami kerusakan pada permukaannya.
Sifat tersebut membuat berlian heksagonal berpotensi meningkatkan kinerja berbagai peralatan industri yang saat ini bergantung pada berlian konvensional.
Beberapa aplikasi yang berpotensi memanfaatkan material ini antara lain alat pengeboran dan pemotongan berpresisi tinggi, bahan abrasif untuk proses pemolesan, hingga sistem pembuangan panas pada perangkat elektronik.
“Material yang sulit ditemukan ini memiliki potensi aplikasi di banyak bidang, misalnya dalam alat pemotong, dalam material manajemen termal, dan dalam penginderaan kuantum," sebut
Chong-Xin yang juga merupakan fisikawan di Universitas Zhengzhou.
Selain membuktikan keberadaan berlian heksagonal secara lebih jelas, penelitian ini katanya juga dinilai penting karena menawarkan strategi produksi yang memungkinkan material tersebut dibuat dalam jumlah lebih besar.
Jika dapat diproduksi secara massal, Chong-Xin dan tim peneliti menilai bahwa berlian heksagonal berpotensi menjadi material baru yang dapat melampaui batas kekerasan berlian kubik dan mendorong inovasi di berbagai sektor industri.