#30 tag 24jam
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
Permusuhan semakin sengit, AS dan Iran saling serang lagi pada Kamis pagi. Iran mengumumkan pada Kamis (11.6.2026) pagi bahwa 18 target militer utama Amerika... | Halaman Lengkap [561] url asal
#iran #amerika-serikat #perang-as-vs-iran #sistem-rudal-patriot #perang-iran-vs-israel
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/06/26 08:20
v/246722/
TEHERAN - Iran mengumumkan pada Kamis (11/6/2026) pagi bahwa 18 target militer utama Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain telah diserang. Ini sebagai balasan langsung setelah Amerika meluncurkan serangan terbaru terhadap negara Islam tersebut, serangan hari kedua berturut-turut.Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan target tersebut termasuk Pangkalan Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, bersama dengan Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
Secara terpisah, militer Iran mengatakan telah menargetkan sistem pertahanan rudal Patriot dan fasilitas komunikasi milik Armada Kelima AS di Bahrain.
Mereka juga mengatakan drone kamikaze telah diluncurkan ke arah Armada Kelima AS sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai serangan Amerika terhadap Iran selatan.
Militer Iran menambahkan bahwa pasukan Iran siap menghadapi musuh "sampai nafas terakhir" dan tidak akan mundur sampai musuh dihukum.
Sebelumnya, IRGC juga menyatakan sistem pertahanan rudal Iran telah menembakkan sejumlah rudal ke jet tempur F-16 Angkatan Udara AS di atas Teluk Persia. Menurut IRGC, serangan telah memaksa pesawat tersebut untuk melakukan manuver menghindar.
Selain itu, IRGC juga mengumumkan penutupan total Selat Hormuz setelah AS meluncurkan serangan terbaru.
"Saat ini, karena ketidakstabilan di kawasan ini, Selat Hormuz ditutup untuk pergerakan semua jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial. Kapal apa pun yang mencoba melintas akan menjadi sasaran," bunyi pengumuman IRGC.
AS melancarkan serangan di Iran pada Kamis pagi, menyusul laporan bahwa sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di beberapa wilayah.
Di antara lokasi lain, sistem tersebut diaktifkan di Provinsi Fars, di Pulau Qeshm, dan di ibu kota, Teheran.
Selain itu, ledakan dilaporkan terjadi di pabrik petrokimia di Assaluyeh—fasilitas terbesar sejenisnya di negara itu, yang bertanggung jawab atas sekitar 50% produksi petrokimia Iran. Ledakan lebih lanjut dilaporkan terdengar di Pulau Kish, Pulau Qeshm, dan di Sirik, dekat Selat Hormuz.
Komando Pusat AS atau CENTCOM juga mengkonfirmasi bahwa pasukannya mulai melancarkan serangan pertahanan diri tambahan terhadap berbagai target di Iran.
"Serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan," kata CENTCOM.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dia telah berbicara langsung dengan para pejabat Iran. Menurutnya, para pejabat tersebut telah memintanya untuk menghentikan serangan.
"Serangan akan segera berakhir. Kita mungkin akan melanjutkannya nanti," ujarnya, sambil juga menekankan bahwa Israel tidak terlibat dalam serangan kali ini.
Kantor berita Iran, Tasnim, yang berafiliasi erat dengan IRGC, menepis pernyataan Trump. "Klaim Trump bahwa dia berbicara dengan pejabat Iran yang meminta penghentian serangan adalah kebohongan mutlak. Tidak ada percakapan yang terjadi dengan Trump, dan Iran akan menanggapi agresi terhadapnya melalui cara militer," tulis media tersebut.
Serangan terbaru AS dimulai beberapa saat setelah Menteri Perang AS Pete Hegseth mengulangi peringatan Trump sebelumnya tentang serangan militer yang akan segera terjadi terhadap Iran.
Berbicara kepada wartawan di markas CENTCOM di Tampa, Florida, Hegseth mengatakan, "CENTCOM akan sibuk malam ini karena kita akan menyerang Iran dengan keras."
"Iran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan yang bagus. Mereka belum bersedia, mereka akan mengalami serangan bom beruntun di fasilitas-fasilitas penting di Iran dari AS," katanya.
Hegseth menekankan bahwa serangan tersebut bukan untuk memulai kembali perang, tetapi untuk menetapkan syarat-syarat kesepakatan.
“Serangan yang akan terjadi malam ini akan kuat dan jelas, dan jika harus terjadi besok malam, serangan itu juga akan kuat dan jelas. Presiden Trump siap untuk membuat kesepakatan itu, Iran akan bijak jika menerimanya, jika tidak, mereka harus menghadapi jenis rencana yang baru saja saya lihat di CENTCOM,” paparnya.
Iran Klaim Rudal Patriot AS yang Hancurkan Bandara Kuwait, Amerika Menyangkal
CENTCOM sangkal rudal yang hancurkan Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait adalah rudal pencegat yang ditembakkan sistem pertahanan Patriot AS. Korps Garda Revolusi... | Halaman Lengkap [716] url asal
#amerika-serikat #sistem-rudal-patriot #iran #perang-as-vs-iran #kuwait
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/06/26 07:12
v/239389/
KUWAIT CITY - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim rudal yang menghancurkan Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait pada hari Rabu bukan milik Iran, melainkan rudal pencegat yang ditembakkan sistem pertahanan Patriot Amerika Serikat (AS). Komando Pusat Amerika (CENTCOM) bergegas menyangkal klaim tersebut."Klaim itu salah dan bahwa Iran menargetkan bandara dalam serangan yang disengaja, terencana, dan tidak dapat dibenarkan," kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Middle East Eye, Kamis (4/6/2026).
Sebelumnya pada hari Rabu, Kuwait membantah bahwa wilayah udaranya digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Negara Teluk itu juga sependapat dengan narasi Washington bahwa bandaranya dihantam oleh rentetan rudal dan drone berat oleh Iran pada Selasa tengah malam atau Rabu dini hari, yang menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 63 lainnya.
Rekaman video dari bandara menunjukkan kerusakan yang luas, dengan kebakaran berkobar di terminal satu, atap runtuh, dan kepulan asap tebal.
Setelah serangan tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait Brigadir Jenderal Saud al-Otayan mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "agresi kriminal Iran".
Serangan itu terjadi setelah AS menembaki sebuah kapal tanker minyak kosong yang menurut mereka mencoba singgah di pelabuhan Iran. AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tanggapan atas keberhasilan Teheran merebut kendali Selat Hormuz. Pejabat AS mengatakan Iran menembaki pelaut AS sebagai tanggapan atas serangan itu. AS kemudian melancarkan serangan ke Pulau Qeshm di Iran.
“Sebagai tanggapan atas agresi ini, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, yang menampung helikopter, serta markas besar Armada Kelima AS di Bahrain, menjadi sasaran rudal dan drone oleh pasukan Garda Revolusi,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan di saluran Telegram resminya.
Sebelumnya pada hari itu, militer AS mengatakan telah berhasil mengalahkan serangkaian serangan rudal dan drone Iran di Kuwait dan Bahrain dan melakukan serangan di Pulau Qeshm di Iran.
Kuwait membantah AS menggunakan wilayahnya untuk melancarkan serangan dan memanggil kuasa usaha Iran untuk memprotes serangan tersebut. Sebagai tanggapan, Kuwait menuntut agar dua staf kedutaan Iran meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam.
Kuwait berulang kali menjadi sasaran serangan Iran. Negara Teluk kaya minyak ini telah menderita beberapa serangan terberat sejak Iran pertama kali melancarkan serangan terhadap negara-negara Arab Teluk sebagai balasan atas serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Kuwait adalah rumah bagi sekitar 13.500 tentara AS, salah satu penempatan terbesar di Teluk.
Kuwait dan negara-negara Teluk lainnya melobi AS untuk tidak menyerang Iran awal tahun ini, tetapi beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, beralih mendukung serangan AS dengan berbagai tingkat intensitas. UEA melancarkan puluhan serangan terhadap Iran. Arab Saudi memberikan akses pangkalan yang lebih luas kepada AS tetapi kemudian mulai mendukung pembicaraan diplomatik yang dimediasi oleh sekutu dekatnya, Pakistan.
Gencatan senjata antara AS dan Iran tampak lebih goyah dalam beberapa minggu terakhir.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, namun Iran membantah pernyataan publiknya bahwa mereka bersedia untuk menegosiasikan penghapusan program nuklirnya atau menghentikan upaya untuk memberlakukan biaya transit di Selat Hormuz.
Saat pertempuran kembali berkobar, Kuwait mendapati dirinya terjebak di tengah baku tembak. Negara yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa ini tidak memiliki kekuatan militer seperti UEA dan Arab Saudi dan kurang aktif secara diplomatik dibandingkan Qatar.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa AS dan Iran masih berdialog setelah Tasnim News Agency Iran mengatakan Teheran telah memutuskan semua kontak dengan AS. Perundingan terhenti ketika AS menuntut pembukaan Selat Hormuz dan Iran juga menuntut pencabutan sanksi.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran hanya akan menerima pencabutan sanksi jika menyerahkan program nuklirnya. Dia mengabaikan tuntutan Teheran untuk mendapatkan bantuan ekonomi sebagai bagian dari gencatan senjata bertahap.
“Iran dikenai sanksi karena mereka memiliki uranium yang diperkaya tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka; jika mereka setuju untuk menghentikan hal-hal tersebut, sanksi akan dicabut,” kata Rubio kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.
“Mereka harus setuju untuk menegosiasikan pembatasan yang ketat dan jangka panjang. Penghentian dan/atau pembatalan kegiatan pengayaan,” katanya.
Rubio mengatakan bahwa Iran sekarang sedang bernegosiasi mengenai aspek-aspek program nuklirnya yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, tetapi tidak memberikan rincian apa pun. Iran mengatakan pada Jumat pekan lalu bahwa “tidak ada negosiasi” yang sedang berlangsung mengenai program nuklirnya.
Komentar Rubio menunjukkan bahwa AS belum akan segera melepaskan dana miliaran dolar milik Iran yang dibekukan, yang telah diminta Teheran untuk mengamankan perpanjangan gencatan senjata.
Rudal Patriot AS Makan Tuan: Gagal Cegat Misil Iran, Malah Hancurkan Bandara Kuwait
IRGC mengatakan rudal yang hantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait bukan milik Iran, melainkan rudal pencegat yang ditembakkan sistem pertahanan Patriot... | Halaman Lengkap [385] url asal
#sistem-rudal-patriot #amerika-serikat #iran #perang-as-vs-iran #kuwait
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/06/26 06:50
v/239367/
TEHERAN - Rudal yang menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait pada hari Rabu bukanlahmilik Iran, melainkan rudal pencegat dari sistem pertahanan Patriot Amerika Serikat (AS). Demikian klaim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).Jika klaim tersebut terkonfirmasi, ini ibarat senjata makan tuan. Sejatinya, sistem pertahanan Patriot diaktifkan untuk mempertahankan pangkalan militer Amerika di negara Teluk tersebut dari serangan Teheran.
Aksi saling serang Amerika dan Iran ini terjadi setelah militer Washington menyerang sebuah kapal tanker yang sedang menuju Pulau Kharg. Washington berdalih serangan diluncurkan karena kapal itu melanggar blokade sepihak yang diberlakukan terhadap pelabuhan Republik Islam Iran.
“Investigasi dan penelitian kami terhadap serangan terminal penumpang Kuwait menunjukkan bahwa Angkatan Udara IRGC tidak menembak sasaran ini, dan kehancuran terminal penumpang bandara Kuwait disebabkan oleh kesalahan pada sistem Patriot Amerika, yang mendarat di terminal ini setelah gagal mencegat rudal Iran,” kata IRGC pada hari Rabu, yang dilansir Russia Today, Kamis (4/6/2026).
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan setidaknya satu orang tewas ketika sebuah rudal menghantam terminal bandara dan fasilitas vital lainnya, termasuk misi diplomatik. Beberapa orang juga terluka dalam serangan itu, imbuh kementerian itu tanpa menyebutkan jumlahnya.
Sebuah video yang diperoleh Russia Today menunjukkan dampak serangan tersebut. Video pendek itu menunjukkan bagian dalam gedung terminal bandara yang dipenuhi asap dan debu. Potongan-potongan puing terlihat berserakan di lantai dengan beberapa kebakaran terlihat, termasuk di atap.
Kementerian Luar Negeri Kuwait tidak berkomentar tentang besarnya kerusakan yang ditimbulkan pada bandara. Mereka mengutuk apa yang disebutnya sebagai “serangan agresif” Iran dan menyalahkannya atas peningkatan eskalasi dan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Selain itu, kementerian itu juga memperingatkan bahwa Kuwait memiliki hak penuh dan inherennya untuk membalas.
IRGC menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk Markas Besar Armada Kelima AS, sebagai tanggapan atas serangan terhadap menara telekomunikasi mereka di Pulau Qeshm. Departemen Perang AS mengeklaim bahwa semua rudal Iran gagal mengenai sasarannya.
Eskalasi ini terjadi hampir 100 hari setelah konflik dimulai dan hampir dua bulan setelah AS dan Iran mencapai gencatan senjata yang rapuh setelah lebih dari sebulan permusuhan aktif. Teheran menghentikan negosiasi dengan Washington awal pekan ini terkait serangan Israel yang sedang berlangsung di Lebanon.
Iran juga membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur energi penting, setelah serangan AS-Israel pada bulan Februari, sementara Washington memulai blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran.
Mengapa Jet Tempur Tua F-5 Iran Sukses Pecundangi Sistem Rudal Canggih Patriot AS di Kuwait?
Ini melemahkan pernyataan berulang Presiden AS Donald Trump bahwa Angkatan Udara Iran telah benar-benar dihancurkan. Gambaran yang muncul tentang serangan balasan... | Halaman Lengkap [733] url asal
#amerika-serikat #iran #jet-tempur #sistem-rudal-patriot #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 28/04/26 09:40
v/204877/
TEHERAN - Gambaran yang muncul tentang serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di seluruh Teluk menunjukkan bahwa biaya militer sebenarnya dari Operasi Epic Fury mungkin jauh lebih tinggi daripada yang telah diakui Washington secara publik. Ini mencakup kerusakan infrastruktur, kehilangan pesawat canggih, dan gangguan operasional yang sekarang diukur dalam miliaran dolar.Sejumlah pejabat AS, staf kongres, dan individu yang mengetahui penilaian kerusakan yang dirahasiakan menunjukkan bahwa serangan balasan Iran menghantam puluhan target di setidaknya tujuh negara di Timur Tengah. Ini menantang narasi awal bahwa kapasitas pembalasan Teheran telah dinetralisir dengan cepat setelah serangan pembuka AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Signifikansi strategis semakin mendalam ketika NBC News mengonfirmasi bahwa jet tempur F-5 Iran berhasil melakukan serangan bom di Camp Buehring di Kuwait, menembus sistem pertahanan rudal Patriot canggih AS yang telah siaga.
Serangan itu secara langsung melemahkan pernyataan berulang Presiden AS Donald Trump bahwa Angkatan Udara Iran telah "benar-benar dihancurkan", karena bukti operasional sekarang menunjukkan bahwa Teheran mempertahankan kemampuan penerbangan tempur yang cukup untuk menyerang instalasi AS yang diperkuat di medan pertempuran Teluk.
Ada tiga kemungkinan mengapa jet tempur tua F-5 Iran berhasil mempermalukan sistem pertahanan Patriot AS di Kuwait. Kemungkinan pertama, pesawat tempur tersebut terbang sangat rendah—sedangkan sistem Patriot dirancang untuk menembak target di ketinggian menengah-tinggi.
Kemungkinan kedua, serangan saturasi Iran membuat radar dan pencegat dari sistem Patriot tidak sanggup mencakup semua arah serangan. Kemungkinan ketiga, radar dan sistem sensor maupun operator Patriot sedang bermasalah atau faktor human error.
Serangan F-5 Iran itu juga menandai salah satu perkembangan militer paling langka dalam peperangan ekspedisi Amerika modern, di mana pesawat tempur berawak musuh berhasil mengebom pangkalan militer AS utama di Timur Tengah meskipun ada perisai pertahanan udara berlapis-lapis yang dirancang tepat untuk mencegah penetrasi tersebut.
Laporan NBC News pada 25 April 2026 menyatakan bahwa serangan Iran merusak gudang, hanggar pesawat, markas komando, infrastruktur komunikasi satelit, landasan pacu, sistem radar canggih, dan puluhan pesawat, dengan total biaya perbaikan diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Meskipun belum ada penilaian kerusakan pertempuran resmi Pentagon yang dirilis secara publik dan belum ada citra satelit yang secara resmi dideklasifikasi untuk mengonfirmasi skala penuh kehancuran, kesenjangan pelaporan rahasia itu sendiri telah meningkatkan pengawasan di antara para pembuat undang-undang dan perencana militer yang menilai kerentanan postur kekuatan AS di Teluk.
Implikasi yang lebih luas bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga terungkapnya kelemahan kritis dalam ketahanan logistik, kelangsungan hidup pangkalan depan, dan asumsi bahwa instalasi Amerika di Teluk Persia tetap kebal secara fungsional dari pembalasan konvensional yang berkelanjutan.
Camp Buehring dan Kegagalan Pertahanan Berlapis AS
Camp Buehring di Kuwait memegang peran sentral dalam arsitektur logistik militer AS karena berfungsi sebagai pusat pementasan utama untuk proyeksi kekuatan, operasi dukungan logistik, dan dukungan tempur yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk operasi Amerika di seluruh wilayah Komando Pusat (CENTCOM) yang lebih luas.
Kedekatannya dengan Camp Arifjan dan akses terkait ke Pelabuhan Shuaiba menjadikan instalasi ini sebagai jalur logistik yang penting, yang berarti serangan yang berhasil di sana menghasilkan efek strategis yang jauh melampaui kerusakan infrastruktur lokal dan segera memengaruhi tempo operasional regional.
Menurut pejabat AS yang dikutip dalam laporan NBC News, F-5 Iran mendekat pada ketinggian rendah dan melakukan apa yang digambarkan sebagai serangan "bom bodoh", melewati sistem Patriot dan jaringan pertahanan udara jarak pendek yang diharapkan menciptakan zona intersepsi yang tumpang tindih.
Hal ini penting karena baterai Patriot dioptimalkan terutama untuk misi pertahanan rudal kelas atas, sementara integrasi pencegat jarak pendek dan cakupan radar secara teoritis akan menutup kerentanan terhadap pesawat berawak tingkat rendah.
Fakta bahwa F-5 Iran yang sudah tua dapat memanfaatkan celah tersebut menimbulkan pertanyaan doktrinal serius mengenai keterbatasan cakrawala radar, waktu reaksi komando dan kendali, dan tantangan untuk membedakan penembus cepat di ketinggian rendah dari gangguan ruang udara rutin dalam kondisi perang.
NBC News tidak mengonfirmasi apakah F-5 tersebut selamat dari serangan atau kemudian dihancurkan, tetapi keberhasilan operasional dari serangan bom itu sendiri sudah merupakan kemenangan pesan strategis bagi Teheran terlepas dari nasib akhir pesawat tersebut.
Penggunaan platform warisan jet tempur generasi keempat yang lebih tua oleh Iran juga memperkuat pelajaran militer klasik: kemampuan bertahan hidup di ruang udara yang diperebutkan seringkali ditentukan kurang oleh prestise platform dan lebih oleh waktu, rute, penipuan, dan rasa puas diri musuh.
Bagi perencana AS, insiden tersebut menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara terpadu yang mahal mungkin masih rentan terhadap improvisasi taktis yang relatif murah ketika pihak bertahan menganggap superioritas teknologi menjamin kekebalan strategis.
AS Hamburkan Senjata Rp603 Triliun dalam Perang Iran, dari Rudal Patriot hingga Tomahawk
Perang Iran sebenarnya telah mengungkap kelemahan militer AS, namun Gedung Putih menepisnya. Perang pilihan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Iran telah... | Halaman Lengkap [725] url asal
#amerika-serikat #iran #perang-as-vs-iran #sistem-rudal-patriot #rudal-tomahawk
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/04/26 14:57
v/201799/
WASHINGTON - "Perang pilihan" Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Iran telah memberikan tekanan besar pada kapasitas perang AS, dengan perkiraan internal Pentagon menunjukkan bahwa militer telah menghabiskan ribuan persediaan senjata kelas atas, termasuk rudal jelajah Tomahawk dan rudal pencegat Patriot.Respons Iran terhadap serangan AS-Israel pada 28 Februari memaksa pasukan AS untuk mengambil persediaan senjata mereka secara besar-besaran—yang awalnya dimaksudkan untuk digunakan selama kemungkinan kampanye militer melawan musuh utama seperti China dan Rusia.
Sejauh ini, Gedung Putih belum merilis perkiraan biaya konflik tersebut, tetapi dua kelompok independen mengatakan pengeluaran berkisar antara USD28 miliar (lebih dari Rp482 triliun) hingga USD35 miliar (lebih dari Rp603 triliun) atau hampir USD1 miliar (Rp17,23 triliun) per hari.
Dalam dua hari pertama saja, laporan dari kelompok-kelompok independen mengeklaim, militer AS telah menggunakan amunisi senilai USD5,6 miliar.
Persediaan Rudal AS Digunakan di Iran
Mengutip perkiraan internal Departemen Perang, The New York Times melaporkan bahwa militer AS telah menembakkan sekitar 1.100 rudal Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER)—yang mendekati total 1.500 rudal yang tersisa dalam persediaan AS.
JASSM-ER memiliki jangkauan lebih dari 600 mil dan dirancang untuk menembus target keras di luar jangkauan pertahanan udara musuh. Harganya sekitar USD1,1 juta per unit.
Militer Amerika juga telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk di Iran, yang kira-kira 10 kali lipat dari jumlah yang saat ini dibeli setiap tahun. Dengan harga sekitar USD3,6 juta per unit, Tomahawk adalah rudal jelajah jarak jauh yang telah banyak digunakan untuk peperangan AS sejak Perang Teluk Persia pertama pada tahun 1991 dan tetap menjadi amunisi kunci untuk potensi konflik di masa depan bagi AS.
Menurut sebuah studi Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS hanya memiliki 3.000 rudal Tomahawk dalam persediaannya.
Menurut laporan The New York Times, Pentagon juga telah menembakkan lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot dalam perang tersebut, dengan biaya lebih dari USD4 juta per unit. Amerika Serikat memproduksi sekitar 600 rudal pencegat Patriot sepanjang tahun 2025.
Pasukan AS juga telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal berbasis darat Precision Strike dan ATACMS, sehingga persediaan menjadi sangat rendah, imbuh laporan itu.
Pentagon belum mengungkapkan berapa banyak amunisi yang digunakan dalam 38 hari perang sebelum gencatan senjata berlaku lebih dari dua minggu lalu.
Militer AS mengatakan telah menyerang lebih dari 13.000 target, tetapi para pejabat mengatakan kepada The New York Times bahwa angka tersebut menyembunyikan jumlah bom dan rudal yang sangat banyak yang digunakan karena pesawat tempur, pesawat serang, dan artileri biasanya menyerang target besar berkali-kali.
Perang Iran Mengungkap Kelemahan Militer AS
Perang di Iran telah menguras sebagian besar pasokan amunisi global militer AS, karena Pentagon mengirimkan bom, rudal, dan perangkat keras lainnya ke Timur Tengah dari komando di Asia dan Eropa untuk mendukung operasi tersebut. Hal ini membuat komando regional lainnya kurang siap tempur untuk menghadapi potensi konfrontasi dengan musuh di kawasan tersebut, seperti Rusia dan China.
Perang ini juga telah mengungkap ketergantungan Pentagon yang berlebihan pada rudal dan amunisi yang sangat mahal, terutama pencegat pertahanan udara, menimbulkan kekhawatiran tentang apakah industri pertahanan dapat mengembangkan senjata yang lebih murah, terutama drone serang, jauh lebih cepat.
Pentagon telah meminta Kongres untuk pendanaan tambahan sebelum dapat membayar produsen senjata untuk mengisi kembali pasokan Amerika yang menipis dan sedang menunggu persetujuan.
Namun, pemulihan persediaan global AS ke ukuran sebelumnya mungkin membutuhkan waktu. Sementara itu, Washington mungkin harus mengurangi kekuatan militernya.
"Dengan tingkat produksi saat ini, membangun kembali apa yang telah kita habiskan bisa memakan waktu bertahun-tahun," kata Senator Jack Reed dari Rhode Island, politisi terkemuka Partai Demokrat yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata, kepada The New York Times.
"Amerika Serikat memiliki banyak amunisi dengan persediaan yang memadai, tetapi beberapa amunisi serangan darat dan pertahanan rudal yang penting kekurangan sebelum perang dan bahkan lebih kekurangan sekarang," kata Mark F Cancian, seorang kolonel Korps Marinir purnawirawan dan penasihat senior di CSIS.
Reaksi Tim Trump
Gedung Putih telah menolak laporan tersebut, mengeklaim "seluruh premis cerita ini salah".
"Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia, yang dilengkapi sepenuhnya dengan senjata dan amunisi yang lebih dari cukup dalam persediaan di dalam negeri dan di seluruh dunia untuk secara efektif mempertahankan tanah air dan mencapai operasi militer apa pun yang diperintahkan oleh panglima tertinggi," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah pernyataan kepada The New York Times.
Rudal Iran Sukses Tembus Sistem Pertahanan Canggih THAAD dan Patriot AS di Pangkalan Arab Saudi, Dibantu Rusia?
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yakin 100 persen Iran dibantu oleh Rusia. Pada 27 Maret, rudal-rudal dan drone Iran menyerang Pangkalan Udara Prince Sultan... | Halaman Lengkap [1,281] url asal
#iran #arab-saudi #amerika-serikat #sistem-rudal-patriot #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/04/26 10:49
v/181444/
RIYADH - Pada 27 Maret, rudal-rudal dan drone Iran menyerang Pangkalan Udara Prince Sultan (PSAB) di Arab Saudi. Padahal, situs militer itu dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan Patriot Amerika Serikat (AS).Serangan Teheran itu melukai hampir selusin tentara AS dan merusak parah pesawat tanker pengisian bahan bakar udara dan setidaknya satu pesawat Sistem Peringatan dan Kontrol Udara (AWACS) E-3 Sentry.
Ini secara luas dianggap sebagai salah satu penembusan pertahanan udara Amerika yang paling serius sejauh ini dalam perang AS-Israel melawan Iran saat ini.
Pangkalan Udara Prince Sultan terletak sekitar 110 km di sebelah tenggara Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, dan dioperasikan oleh Angkatan Udara Kerajaan Saudi. Pangkalan ini menampung beberapa personel AS dan aset vital Angkatan Udara AS.
Karena pangkalan ini memiliki konsentrasi pendukung seperti pesawat pengisian bahan bakar udara ke udara dan platform komando dan kendali udara, ia dianggap sebagai simpul yang sangat penting dalam kampanye udara AS saat ini melawan Iran.
Dahsyatnya Serangan Iran
Serangan Iran merupakan kombinasi rudal balistik dan drone kamikaze. Citra sumber terbuka menunjukkan bahwa serangan tersebut difokuskan secara presisi pada pesawat Angkatan Udara AS (USAF) yang diparkir di tempat terbuka.
Dalam serangan tersebut, beberapa pesawat pengisian bahan bakar udara AS terkena serangan, dengan setidaknya satu dilaporkan hancur dan yang lainnya rusak parah.
Yang paling merusak adalah serangan terhadap pesawat AWACS E-3 Sentry di pangkalan tersebut, yang tampaknya mengalami kerusakan parah.
Hancurnya pesawat AWACS E-3 Sentry merupakan salah satu kerugian paling signifikan dalam perang sejauh ini. Media-media AS menggambarkan serangan khusus ini sebagai salah satu penetrasi paling serius terhadap pertahanan udara AS dalam konflik sejauh ini.
Hilangnya atau kerusakan parah pada pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135 dan pesawat AWACS E-3 Sentry berdampak langsung pada kemampuan AS dan koalisinya serta kapasitas langsung untuk mempertahankan operasi udara jarak jauh dari pangkalan di Teluk melawan Iran. Pengurangan jumlah pesawat tanker yang tersedia akan membatasi sementara laju sorti dan waktu.
E-3 adalah pesawat AWACS yang menggabungkan radar jarak jauh dengan sistem manajemen pertempuran dan komando-dan-kontrol. Radar dan sensornya dapat mendeteksi, mengidentifikasi, dan melacak pesawat, rudal jelajah, dan ancaman udara lainnya hingga ratusan kilometer jauhnya, di darat dan laut, di semua ketinggian, dan dalam segala cuaca.
Di dalam pesawat, gambaran situasi udara secara real-time dibangun, pesawat tempur dan pencegat diarahkan ke target, ruang udara dinetralisir konfliknya, dan serangan, pertahanan udara, pengintaian, dan operasi lainnya dikoordinasikan.
E-3 menghubungkan gambaran ini ke pesawat, kapal, dan pusat komando lainnya melalui tautan data (misalnya, Link-16), memberikan Pusat Operasi Udara Gabungan dan para pengambil keputusan tingkat tinggi dengan pandangan umum dan terkini tentang medan pertempuran.
Singkatnya, pesawat ini adalah "mata" (radar dan sensor area luas) dan "otak" (manajemen pertempuran dan C2) untuk operasi udara skala besar.
Karena jumlah AWACS terbatas dan ketersediaannya merupakan aset berharga, bahkan satu unit yang tidak tersedia pun menyebabkan kesenjangan cakupan. Ketidaktersediaan AWACS memiliki dampak strategis langsung, terutama mengingat pelanggaran pertahanan udara yang menyebabkan kerusakan yang diduga terjadi.
Kemiripan dengan Serangan Ukraina
Dalam Operasi Spiderweb pada 1 Juni 2025, Ukraina melakukan serangan drone yang menargetkan pesawat Rusia di darat. Drone yang terkait dengan Dinas Keamanan Ukraina (SBU) yang disembunyikan di dalam truk diluncurkan terhadap lima pangkalan udara Rusia jauh di dalam wilayah Rusia.
Serangan tersebut melibatkan 117 drone dan menargetkan pesawat seperti Tu-95MS, Tu-22M3, A-50, dan An-12, dengan beberapa laporan juga menunjukkan bahwa kemungkinan pesawat tanker Il-78M dan kemungkinan Tu-160 juga terkena dampaknya. Dilaporkan bahwa sekitar 20 pesawat militer terkena dan 10 hancur.
SBU mengonfirmasi bahwa unit pasukan khusus mereka; “Alpha”, berhasil melakukan serangan drone jarak jauh terhadap lima pangkalan udara militer Rusia pada tahun 2025, menargetkan dan menghancurkan 15 pesawat. Rincian dari 15 pesawat ini adalah 11 pesawat tempur sayap tetap: Su-30SM, Su-34, Su-27, Su-24, dan platform pesawat tempur dan pembom MiG-31; 3 helikopter: model Mi-8, Mi-26, dan Mi-28; dan 1 pesawat angkut: An-26.
Ukraina telah menargetkan armada peringatan dini udara bernilai tinggi Rusia—terutama Beriev A-50/A-50U—dalam beberapa operasi. Serangan drone di pangkalan udara Machulishchy merusak sebuah A-50 Rusia di darat. Pada 17 Maret 2026, serangan terhadap pabrik perbaikan Staraya Russa merusak sebuah pesawat A-50 di fasilitas tersebut.
Apakah Rusia Membantu Iran?
Kemungkinan yang masuk akal dukungan intelijen Rusia untuk Iran menjadi penentu keberhasilan serangan Teheran yang menembus sistem pertahanan berlapis THAAD dan Patriot AS di Pangkalan Prince Sultan.
Dasar terkuat adalah klaim Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahwa intelijen Ukraina melacak satelit Rusia yang memotret Pangkalan Udara Prince Sultan pada tanggal 20, 23, dan 25 Maret, tepat sebelum serangan Iran pada tanggal 26 Maret.
Zelensky, dalam wawancaranya dengan NBC News, mengeklaim bahwa Rusia mengambil gambar satelit Pangkalan Arab Saudi tiga kali dalam beberapa hari sebelum Iran menyerang lokasi tersebut.
Selama wawancara, dia mengatakan bahwa dirinya 100% yakin bahwa Rusia berbagi intelijen semacam itu dengan Iran untuk membantu menargetkan pasukan AS di seluruh Timur Tengah.
Zelensky juga membagikan ringkasan pengarahan presiden harian yang dia terima dari badan intelijen Ukraina.
Namun, klaim oleh kepala negara yang sedang berperang dengan negara yang dia salahkan itu harus diterima dengan sedikit keraguan.
Terlepas dari kemiripannya, yang lebih penting adalah ini adalah perang, dan target yang sangat berharga seperti pesawat yang sangat bernilai (di tempat terbuka) sedang disajikan kepada lawan. Lawan akan menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk memanfaatkan peluang yang ada, dan memang demikian.
Media Barat sangat gembira dengan perencanaan dan pelaksanaan Operasi Spiderweb. Tidak ada yang bertanya atau mempertanyakan bagaimana Ukraina dapat mengelola operasi yang begitu rumit. Itu digambarkan sebagai kisah Daud melawan Goliat.
Pangkalan Udara Prince Sultan diketahui menampung sistem pertahanan Patriot, THAAD, dan jaringan pertahanan udara AS-Arab Saudi. Apakah para perencana menganggap perisai berlapis ini sudah cukup dan tidak sepenuhnya merencanakan serangan gabungan yang jenuh dan beragam, yang menggabungkan rudal balistik dan kawanan drone besar? Sekilas mungkin saja.
Pesawat tanker KC-135 dan pesawat tempur E-3 Sentry dilaporkan diparkir dalam kelompok yang relatif padat, alih-alih tersebar luas. Pertanyaan harus diajukan mengapa mereka tidak diparkir di beberapa lokasi, atau apakah pangkalan tersebut merupakan lokasi yang tepat untuk mengelompokkan begitu banyak aset bernilai tinggi.
Para perencana memiliki banyak pertanyaan seperti itu untuk dijawab.
Sebelum serangan terhadap pangkalan di Arab Saudi tersebut, Iran telah merusak atau menurunkan kinerja beberapa sensor dan radar pertahanan udara AS-Arab Saudi di wilayah tersebut. Dalam pertukaran serangan kinetik berkecepatan tinggi ini, penurunan kinerja tersebut berarti area Pangkalan Udara Prince Sultan kemungkinan beroperasi dengan kapasitas pertahanan udara yang berkurang.
Tidak satu pun dari hal-hal ini sendiri merupakan kesalahan yang "mencolok", tetapi kombinasinya menciptakan kerentanan kritis yang dieksploitasi Iran.
Meski pangkalan itu dilindungi sistem pertahanan Patriot dan THAAD, rudal dan drone Iran tetap berhasil menghancurkan pesawat paling berharga AS yang ditempatkan di sana.
Iran tidak mengandalkan satu "senjata super" untuk menembus sistem pertahanan udara THAAD dan Patriot. Sebaliknya, mereka melakukan serangan saturasi dan degradasi klasik yang memanfaatkan celah besar dalam pertahanan rudal berlapis.
Serangan pada 27 Maret menggabungkan sekitar 6 rudal balistik dan puluhan drone kamikaze Shahed-136. Serangan ini tepat waktu setelah berminggu-minggu serangan persiapan yang telah sedikit menurunkan kemampuan radar AS dan Saudi di seluruh Teluk.
Baterai THAAD di pangkalan tersebut beroperasi dengan efektivitas yang berkurang karena radar AN/TPY-2-nya telah rusak dalam serangan Iran sebelumnya. THAAD dioptimalkan untuk ancaman di ketinggian tetapi tidak menyerang drone, jadi begitu sensor utamanya terganggu, beban sepenuhnya jatuh pada pencegat Patriot PAC-3.
Namun, Patriot yang sudah teruji kewalahan oleh banyaknya dan waktu peluncuran proyektil Iran. Kawanan drone berfungsi sebagai "umpan murah" untuk memancing pencegat Patriot, menciptakan celah deteksi dan penyerangan singkat yang memungkinkan rudal balistik yang lebih cepat untuk menembus pertahanan.
Operasi Bendera Palsu Terbongkar: Rudal Patriot AS Meledak dan Lukai 32 Warga Bahrain, tapi Drone Iran yang Dituduh
Ternyata Iran yang benar. Rudal yang ditembakkan sistem Patriot AS yang menyebabkan ledakan hebat di Bahrain, bukan drone Iran. Ledakan dahsyat yang melukai 32... | Halaman Lengkap [439] url asal
#iran #bahrain #amerika-serikat #perang-as-vs-iran #sistem-rudal-patriot
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/03/26 07:47
v/171465/
MANAMA - Ledakan dahsyat yang melukai 32 warga sipil di Bahrain awal bulan ini ternyata disebabkan oleh rudal yang ditembakkan sistem pertahanan Patriot Amerika Serikat (AS). Namun, saat itu, Komando Pusat (CENTCOM) Amerika menuduh insiden itu merupakan hasil dari serangan drone Iran.Laporan dari Reuters, yang diterbitkan hari Senin, menepis tuduhan CENTCOM. Laporan tersebut mendukung klaim awal Iran tentang "false flag operations" atau "operasi bendera palsu" yang bertujuan untuk meningkatkan eskalasi.
Menurut laporan tersebut, rudal pencegat yang ditembakkan dari sistem pertahanan udara Patriot AS telah menyebabkan ledakan pada 9 Maret di daerah Mahazza di pulau Sitra, Bahrain.
Ledakan tersebut melukai 32 warga sipil, termasuk anak-anak, di lingkungan perumahan dekat Manama. Pada saat itu, baik Bahrain maupun Amerika Serikat mengaitkan insiden tersebut dengan serangan pesawat tak berawak (drone) Iran.
CENTCOM kemudian menguatkan tuduhan itu. Namun pada akhirnya temuan menunjukkan sebaliknya.
Bahrain kemudian mengakui bahwa rudal dari sistem Patriot berperan dalam ledakan tersebut dan tidak memberikan bukti yang mendukung klaim sebelumnya bahwa drone Iran bertanggung jawab.
Respons Menohok Iran
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan temuan tersebut mengkonfirmasi apa yang digambarkan sebagai pola tuduhan palsu terhadap Teheran.
“Apa yang disembunyikan kini telah terungkap...ini adalah contoh lain dari rencana ‘bendera palsu’ yang dirancang untuk mendistorsi citra Iran dan memprovokasi negara-negara tetangganya," kata kementerian tersebut.
"Serangan yang diklaim oleh CENTCOM sebagai serangan Iran sebenarnya adalah rudal Patriot AS yang mengalami kerusakan dan mengenai warga sipil," lanjut Kementerian Luar Negeri Iran.
Kementerian tersebut selanjutnya menyatakan, "Ledakan di daerah pemukiman Sitra bukan disebabkan oleh drone Iran.”
Para pejabat Iran telah berulang kali membantah keterlibatan dalam insiden yang dikaitkan dengan mereka selama perang, sambil tetap menyatakan bahwa Teheran secara terbuka menargetkan pangkalan militer AS dan aset Barat di wilayah tersebut.
Para pejabat tersebut mengatakan tuduhan terhadap Iran digunakan untuk menyesatkan aktor regional dan meningkatkan ketegangan.
Para pejabat Iran telah berulang kali memperingatkan tentang apa yang mereka sebut sebagai "operasi bendera palsu" yang bertujuan untuk menarik negara-negara Arab ke dalam keterlibatan langsung dalam perang.
Klaim ini juga muncul di media-media internasional dan komentar politik. Dalam sebuah wawancara yang beredar luas, jurnalis AS Tucker Carlson merujuk pada laporan tentang agen Mossad yang ditangkap di negara-negara Teluk, menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana insiden tertentu di wilayah tersebut dikaitkan.
Iran menegaskan bahwa meskipun secara terbuka mengakui menargetkan pangkalan militer AS dan aset sekutu, mereka juga menolak bertanggung jawab atas beberapa insiden yang dikaitkan dengan mereka oleh pejabat AS dan Arab.
Perkembangan seperti ledakan di Bahrain—di mana klaim awal kemudian dibantah oleh temuan yang dilaporkan—telah dikutip oleh pejabat Iran sebagai pendukung posisi mereka bahwa beberapa serangan yang dituduhkan kepada Teheran mungkin berasal dari sumber lain.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56