Bisnis.com, JAKARTA — Danantara menilai penjaminan kredit berperan dalam mendorong jiwa kewirausahaan. Penilaian tersebut merujuk pada praktik yang diterapkan di Amerika Serikat (AS).
Head of Equity Research BPI Danantara Satria Sambijantoro menjelaskan pengembangan kewirausahaan di Indonesia masih dihadapkan pada kuatnya pendekatan sistem pembiayaan yang berpihak pada kreditur [lembaga keuangan]. Kondisi ini dinilai berbeda dengan praktik di negara maju seperti AS yang lebih memberikan perlindungan terhadap debitur [pelaku usaha].
“Di Indonesia kita berkecenderungan ke kreditur. Ini yang menyebabkan sebenarnya penting untuk satu negara berkembang, membuat satu sistem yang melindungi debitur. Sehingga kalau debitur itu dilindungi, diberikan kepastian hukum untuk restrukturisasi prosesnya jelas,” jelasnya dalam Bisnis Indonesia Forum bertajuk Peran Penjaminan Kredit dalam Ekosistem Industri Jasa Keuangan di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026).
Menurut Satria, perlindungan debitur di AS tercermin melalui penerapan Chapter 11 Bankruptcy Law yang memandang kebangkrutan sebagai konsekuensi normal dari aktivitas bisnis. Pendekatan tersebut dinilai turut mendorong berkembangnya entrepreneurial spirit karena kegagalan usaha tidak serta-merta mematikan peluang pelaku usaha untuk bangkit kembali.
Satria menambahkan, banyak pengusaha di AS yang sempat menjalani proses Chapter 11 sebelum akhirnya kembali menjalankan usaha dan meraih kesuksesan.
“Sehingga kalau debitur itu dilindungi, diberikan kepastian hukum untuk restrukturisasi prosesnya jelas. Ini ada yang menjaminkan, Anda gak apa-apa kok mengambil risiko dalam bisnis, bisnis tuh rugi tuh biasa. Anda akan bangkrut, Anda akan gagal, tapi Anda akan kembali lagi,” jelasnya.
Terkait arah pengembangan sektor jasa keuangan, Satria menegaskan Danantara tetap memandang penjaminan kredit sebagai bagian penting dari upaya memperkuat ekosistem pembiayaan. Ia menyebutkan, meskipun Danantara kerap dipersepsikan sebagai lembaga yang elitis, institusi tersebut bersifat inklusif dalam perannya mendukung perekonomian.
Dalam jangka menengah, Danantara memang menjalankan proyek-proyek investasi yang bersifat sophisticated. Namun, dalam jangka pendek, Danantara melihat perlunya dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui keterlibatan aktif badan usaha milik negara (BUMN) di sektor-sektor yang berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.
“Karena memang untuk beberapa segmen ekonomi perlu ada kontribusi yang lebih aktif dari BUMN, termasuk ke sisi yang penjamin kredit di industri jasa keuangan,” jelasnya.