Dami Mas dari Sinar Mas Agribusiness meluncurkan benih sawit DxP Dami Mas MTK yang tahan kekeringan, meningkatkan produktivitas hingga 25% di kondisi ekstrem [869] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Dami Mas, divisi benih dari perusahaan agribisnis terkemuka Sinar Mas Agribusiness and Food, meluncurkan DxP Dami Mas MTK (Moderate Toleran Kekeringan), sebuah tonggak penting dalam upaya membangun industri kelapa sawit yang tangguh terhadap perubahan iklim. MTK merupakan benih kelapa sawit pertama yang performa unggulnya dalam kondisi kekeringan telah divalidasi dan disetujui untuk dipasarkan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Dikembangkan selama lebih dari satu dekade oleh lembaga inovasi Sinar Mas Agribusiness and Food, yaitu SMART Research Institute (SMARTRI), benih MTK dirancang untuk menjaga produktivitas selama periode kekeringan, sebuah tantangan global yang semakin mendesak bagi produsen kelapa sawit.
Menjawab Tantangan Senilai US$4,5 Miliar
Kondisi kekeringan akibat perubahan iklim semakin sering terjadi, lebih panjang, dan lebih ekstrem, sehingga menurunkan hasil panen serta kualitas minyak. Setiap defisit air sebesar 100 mm, di mana kebutuhan air tanaman melebihi ketersediaannya, dapat menurunkan hasil hingga 8–10%, menyebabkan kerugian pendapatan bagi petani dan tantangan produktivitas bagi pelaku hilir.
Model SMARTRI memperkirakan kerugian produktivitas terkait kekeringan ini mencapai biaya lebih dari US$4,5 miliar per tahun bagi industri kelapa sawit Indonesia. Di wilayah berisiko tinggi seperti Lampung, kondisi kering dapat menurunkan hasil hingga 21%.
Figure 3 Sinar Mas Agribusiness and Food menyaring lebih dari 40.000 bibit untuk mengidentifikasi kandidat dengan performa terbaik dalam kondisi kekeringan.
DxP Dami Mas MTK dikembangkan untuk menjawab tantangan ini. Dalam berbagai uji coba lapangan, benih MTK menunjukkan hasil minimal 12% lebih tinggi dibanding varietas standar dalam kondisi kekeringan. Perbedaan kinerja ini meningkat seiring semakin ekstremnya kondisi. Pada periode kering berkepanjangan akibat El Niño tahun 2015 dan Indian Ocean Dipole tahun 2018, benih MTK menunjukkan hasil lebih dari 25% lebih baik dibanding varietas standar.
“Perubahan iklim bukan lagi risiko yang jauh bagi produsen kelapa sawit; ini adalah kenyataan yang mereka lihat langsung di lapangan dan di laporan keuangan mereka,” ujar Dr. Jean-Pierre Caliman, Direktur SMARTRI, yang telah memimpin riset lebih dari satu dekade terkait dampak kondisi iklim terhadap produktivitas kelapa sawit. “Persetujuan komersial untuk benih MTK merupakan pengakuan bahwa ada solusi berbasis sains yang dapat membantu melindungi produktivitas dan membangun sektor sawit yang tahan iklim.”
Meskipun banyak varietas benih menunjukkan tingkat ketahanan tertentu terhadap kondisi kering, DxP Dami Mas MTK adalah benih pertama yang performanya dalam kondisi defisit air divalidasi melalui uji coba lapangan ekstensif dan diverifikasi secara independen oleh panel ilmiah Kementerian Pertanian.
Mendorong Inovasi Pertanian
Program pemuliaan MTK mengembangkan karakter unggul dari lebih dari 1.800 pohon induk, menganalisis performa lebih dari 40.000 bibit untuk mengidentifikasi kandidat dengan performa terbaik di bawah kondisi kekeringan buatan. Para ilmuwan SMARTRI menggunakan teknologi High Throughput Phenotypic Screening untuk mengukur drought factor index (DFI) setiap tanaman – seperangkat variabel yang menentukan performa tanaman saat mengalami stres air.
Dari 14 famili benih yang dipilih sebagai kandidat dengan toleransi kekeringan tinggi, dua benih – MTK 1 dan MTK 2 – divalidasi sebagai varietas unggul melalui uji coba lapangan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Utara.
Langkah Maju untuk Pertanian Berkelanjutan
“Kami bekerja erat dengan para pekebun dan petani swadaya untuk memahami kebutuhan mereka,” ujar Suryanto Bun, CEO Dami Mas. “Benih tahan iklim ini melengkapi varietas unggul lainnya yang memiliki ketahanan terhadap hama dan berproduktivitas tinggi, sehingga memberikan inovasi lebih lanjut untuk membantu pekebun melindungi produktivitas dan pendapatan mereka dari dampak perubahan iklim.”
Dami Mas kini membuka minat pembelian dari pelanggan di Indonesia, dengan pengiriman pertama direncanakan pada awal 2026. Benih MTK akan tersedia bagi lebih banyak pelanggan secara bertahap seiring percepatan program pemuliaan Dami Mas. Mengingat meningkatnya dampak kekeringan terhadap pertanian secara global, perusahaan juga melihat potensi penerapan benih ini bagi pekebun sawit di Afrika Barat, Amerika Latin, dan India.
Peluncuran DxP Dami Mas MTK memperkuat komitmen Sinarmas Agribusiness and Food dalam mendorong inovasi dalam pertanian berkelanjutan. Dengan menyediakan benih tahan iklim bagi petani, perusahaan bertujuan memperkuat ketahanan pangan, melindungi mata pencaharian, dan meningkatkan produktivitas pertanian.
“Benih ini mewakili masa depan budidaya kelapa sawit,” pungkas Dr. Caliman. “Dengan menggabungkan riset ilmiah dan pengalaman agronomi, kami berharap dapat membawa inovasi ke tangan para petani untuk menciptakan industri kelapa sawit yang lebih tangguh, produktif, dan berkelanjutan.”
Tentang Sinar Mas Agribusiness and Food
Sinar Mas Agribusiness and Food, yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR), merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar, mengelola lebih dari setengah juta hektare perkebunan kelapa sawit termasuk perkebunan plasma petani kecil. Perusahaan menjalankan operasi terintegrasi yang menghasilkan bahan pangan berbasis minyak nabati.
Sinar Mas Agribusiness and Food berfokus pada produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan. Di Indonesia, kegiatan utamanya mencakup budidaya dan panen kelapa sawit; pengolahan Tandan Buah Segar menjadi Crude Palm Oil (CPO) dan kernel; perdagangan dan penyulingan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan biodiesel; serta perdagangan produk sawit secara global. Perusahaan juga beroperasi di Tiongkok dan India, termasuk fasilitas pelabuhan laut dalam, fasilitas penghancuran biji minyak, kapasitas produksi minyak nabati olahan, dan produksi pangan lainnya seperti mi.
Perusahaan induknya, GAR, didirikan pada 1996 dan telah tercatat di Bursa Singapura sejak 1999, dengan kapitalisasi pasar sebesar US$2,5 miliar per 30 Juni 2025. Flambo International Limited adalah pemegang saham terbesar GAR dengan kepemilikan 50,56%. GAR memiliki beberapa anak perusahaan, termasuk PT SMART Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1992.
Sinar Mas Agribusiness and Food berkomitmen meningkatkan ketahanan pertanian Indonesia melalui inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, mendukung petani kecil dengan praktik berkelanjutan. [505] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, Sinar Mas Agribusiness and Food menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat ketahanan pertanian Indonesia melalui inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor. Dalam ajang Indonesia International Sustainability Forum 2025, perusahaan menyoroti peran penting industri kelapa sawit dalam mendukung ketahanan pangan nasional dengan meningkatkan produktivitas sekaligus melindungi masyarakat serta ekosistem alam.
Sinar Mas Agribusiness and Food terus mengembangkan berbagai inisiatif seperti Sawit Terampil dan dukungan terhadap program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk membantu petani kecil menerapkan praktik berkelanjutan dan meningkatkan hasil panen.
“Sebagai perusahaan, kami memiliki tanggung jawab untuk mendukung pelaku usaha kecil agar tetap tangguh menghadapi ancaman iklim,” ujar Anita Neville, Chief Sustainability and Communications Officer di Sinar Mas Agribusiness and Food.
Sebagai bagian dari kerangka Collective for Impact, perusahaan menargetkan pelatihan bagi 100.000 petani kelapa sawit kecil pada tahun 2035 mengenai praktik pertanian yang baik.
Membangun sektor pertanian yang tangguh menjadi salah satu topik utama dalam forum tersebut. Menghadapi ancaman perubahan iklim yang kian meningkat, Sinar Mas Agribusiness and Food menyoroti bagaimana industri kelapa sawit dapat berkontribusi dalam “feeding the future”, memastikan ketahanan pangan masa depan dengan meningkatkan produktivitas sambil menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
Anita menegaskan bahwa dunia usaha tidak dapat menyelesaikan tantangan besar ini sendirian. Dalam sesi panel bertajuk Feeding the Future: Sustainable Innovation to Boost Agricultural Productivity yang digelar pada Jumat, 10 Oktober, ia menjelaskan bagaimana kolaborasi antara sektor swasta, komunitas, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci terciptanya perubahan yang membawa manfaat bagi semua pihak.
“Sebagai perusahaan, kami memiliki tanggung jawab untuk mendukung pelaku usaha kecil. Melalui model tertutup yang inklusif (inclusive closed-loop model), kami membantu petani kecil menerapkan praktik berkelanjutan, mendapatkan akses terhadap benih unggul, dan meningkatkan produktivitas mereka. Inisiatif-inisiatif ini membantu memastikan para petani di seluruh industri kelapa sawit dapat tetap tangguh menghadapi ancaman iklim,” tambahnya.
Anita Neville, Chief Sustainability and Communications Officer di Sinar Mas Agribusiness and Food (tengah), dalam sesi tematik
Secara terpisah, perusahaan juga berkolaborasi dengan IDH, Greenhope, World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), dan PepsiCo dalam diskusi bertema Advancing Food Security Through Sustainable Innovation. Dalam kesempatan tersebut, Sinar Mas Agribusiness and Food menyoroti bagaimana inovasi dalam teknologi pertanian, bahan tanam, dan proses produksi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi komunitas pertanian.
Perusahaan juga menjadi pelopor dalam penelitian bahan tanam yang tahan terhadap perubahan iklim, serta mengeksplorasi peluang pendapatan baru melalui solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan biochar.
Dalam sesi panel bertajuk Green Business Building yang berlangsung pada 11 Oktober, Dr. Götz Martin, CEO Nature-Based Solutions di Sinar Mas Agribusiness and Food, menekankan pentingnya membangun model bisnis yang layak secara ekonomi. “Bisnis hijau tidak akan berhasil hanya karena mereka ‘hijau’; mereka berhasil karena memiliki model bisnis yang berkelanjutan dengan manfaat tambahan bagi planet ini,” ujarnya.
Menyebarkan manfaat ini secara merata di seluruh sektor menjadi hal yang sangat penting. Pengunjung paviliun perusahaan juga disambut dengan berbagai produk bernilai tambah karya pengusaha desa, sebagian dari lebih dari 100 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah didukung melalui program Bright Future Initiative perusahaan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56