Bisnis.com, JAKARTA – Militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan model kecerdasan artifisial (AI) Claude garapan Anthropic dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari lalu.
Penggunaan teknologi ini dilakukan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan software Palantir Technologies.
Palantir merupakan perusahaan analisis data yang tercatat sebagai kontraktor bagi badan pertahanan dan penegakan hukum federal AS.
Peristiwa tersebut menjadi kali pertama teknologi dari pengembang AI komersial dikonfirmasi penggunaannya dalam misi rahasia Departemen Pertahanan AS. Kejadian ini menunjukkan pergeseran dalam doktrin militer modern di mana alat AI sipil mulai tertanam dalam infrastruktur keamanan negara.
Operasi yang berlangsung pada 3 Januari di Caracas tersebut melibatkan serangan pasukan operasi khusus AS terhadap berbagai target, termasuk kompleks militer Fuerte Tiuna.
Misi ini berhasil mengamankan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan narkoterorisme.
Saksi mata di lokasi kejadian mendeskripsikan adanya penggunaan senjata canggih dan misterius yang mampu melumpuhkan tentara Venezuela. Meskipun demikian, peran spesifik Claude dalam aspek taktis operasi tersebut masih belum terperinci secara jelas.
Model Large Language Model (LLM) seperti Claude diketahui memiliki kapabilitas luas, mulai dari analisis dokumen kompleks hingga potensi memandu pergerakan drone otonom. Sebelumnya, militer AS memang telah memanfaatkan alat AI serupa untuk menganalisis citra satelit dan data intelijen.
Laporan tersebut mencatat adanya komunikasi internal yang menarik pasca-operasi. Seorang karyawan Anthropic dilaporkan menghubungi mitranya di Palantir untuk menanyakan bagaimana Claude sebenarnya dimanfaatkan selama penyerbuan berlangsung.
Komunikasi ini mengindikasikan bahwa pihak pengembang AI mungkin tidak memiliki visibilitas penuh secara real-time mengenai penerapan teknologi mereka oleh klien pertahanan pihak ketiga.
Terkait hal ini, Anthropic memiliki kebijakan penggunaan (Usage Policies) yang secara eksplisit melarang penyebaran Claude untuk aktivitas yang memfasilitasi kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan.
Juru bicara Anthropic menolak memberikan konfirmasi spesifik mengenai keterlibatan produknya dalam operasi penangkapan Maduro. Pihaknya menekankan bahwa seluruh penggunaan teknologi perusahaan harus tunduk pada aturan yang berlaku.
"Setiap penggunaan Claude, baik di sektor swasta maupun di seluruh pemerintahan diwajibkan untuk mematuhi Kebijakan Penggunaan kami. Kami bekerja sama dengan mitra kami untuk memastikan kepatuhan," ujar juru bicara tersebut dilansir dari TechCrunch, Senin (16/2/2026).
Pengungkapan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Anthropic dan Pentagon terkait batasan etika penggunaan AI. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terbuka mengkritik pengembang yang dianggap terlalu membatasi kapabilitas teknologi untuk keperluan perang.
Pentagon saat ini dilaporkan sedang meninjau ulang kontrak senilai US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun dengan Anthropic. Para pejabat pertahanan menyuarakan rasa frustrasi atas pembatasan perusahaan terkait penggunaan AI untuk senjata otonom dan pengawasan massal.
Sebagai konteks, Amerika Serikat dan negara maju lainnya makin agresif mengadopsi AI dalam persenjataan mereka. Israel tercatat telah menggunakan drone otonom dan AI untuk penargetan di Gaza, sementara pasukan AS menggunakan teknologi serupa di Irak dan Suriah.