Bisnis.com, SEMARANG – Menjaga komitmen untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, Bank Jateng menyambut Adnas sebagai Komisaris Utama Independen Bank Jateng.
Adnas, pria kelahiran Payakumbuh itu memulai karirnya di kepolisian dengan jabatan terakhir sebagai Kapolda Gorontalo, Sulawesi Utara. Setelah itu, ia ditunjuk sebagai Widyaiswara Utama Sekolah Staf dan Pimpinan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Sespim Lemdiklat Polri).
Pada periode 2023-2024, Adnas terpilih menjadi Tenaga Ahli Bidang Hukum, Keamanan dan Kedaulatan Energi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Sebagai Komisaris Utama Independen Bank Jateng, Adnas menegaskan kesiapannya untuk memperketat fungsi pengawasan dan memberikan nasihat strategis kepada direksi, demi memastikan diterapkannya prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara menyeluruh di seluruh jenjang perusahaan.
Sebagai pengawas dan pemberi nasihat jalannya kebijakan dan operasional bank, Adnas membedah langkah taktisnya ke depan menggunakan pendekatan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). Melalui pemetaan yang komprehensif ini, ia optimistis Bank Jateng mampu menjawab tantangan industri perbankan modern yang makin dinamis.
Menurut Adnas, modal utama Bank Jateng terletak pada fondasi bisnis yang solid dan relasi yang kuat dengan daerah.
"Bank Jateng memiliki dukungan kuat dari pemerintah daerah sebagai pemegang saham, jaringan layanan yang luas di Jawa Tengah, serta tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi. Selain itu, Bank Jateng juga memiliki fondasi bisnis yang stabil dan sumber daya manusia yang terus berkembang, sehingga menjadi modal penting dalam memperkuat kinerja dan penerapan GCG," ujarnya dalam siaran pers, Kamis (18/6/2026).
Kekuatan internal tersebut dinilai sinkron untuk menangkap berbagai peluang pasar yang terbuka lebar saat ini. Adnas melihat potensi besar pada digitalisasi dan sektor riil di Jawa Tengah.
Kendati memiliki posisi yang kuat, Adnas mengakui ada beberapa sektor internal yang harus terus dipacu, terutama menyangkut adaptasi teknologi modern yang berjalan begitu cepat.
"Transformasi digital masih perlu dioptimalkan agar Bank Jateng mampu memberikan layanan yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Oleh karena itu, saya akan mendorong direksi untuk mempercepat digitalisasi proses bisnis dan peningkatan kompetensi SDM di bidang teknologi," kata Adnas.
Langkah akselerasi digital ini sekaligus menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman eksternal perbankan yang kian kompleks, mulai dari persaingan ketat hingga isu kejahatan siber.
Memasuki periode kinerja tahun 2026, Adnas menekankan bahwa target yang dibebankan kepada jajaran direksi tidak hanya melulu soal angka profitabilitas, melainkan kualitas dari pertumbuhan itu sendiri. Ia menginginkan target yang ditetapkan harus realistis, terukur, dan selaras dengan Rencana Bisnis Bank (RBB).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Tingkat Kesehatan Bank (TKB) akan menjadi barometer utama dalam mengukur sejauh mana direksi mampu merealisasikan rencana strategis di lapangan.
"Kinerja 2026 tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kualitas pertumbuhan dan keberlanjutan bank dalam jangka panjang," pungkas Adnas.