Bisnis.com, GARUT - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengharapkan adanya investor yang membangun pabrik pengolahan jagung dan pakan ternak di wilayahnya.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas daerah, memperkuat sektor peternakan, serta mendorong daya saing ekonomi masyarakat Garut yang hingga kini masih tertinggal dibandingkan rata-rata Jawa Barat.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengatakan bahwa persoalan mendasar pembangunan ekonomi Garut terletak pada produktivitas masyarakat yang masih rendah.
Dia menyoroti rendahnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang baru mencapai Rp29 juta per tahun, jauh di bawah rata-rata Jawa Barat sebesar Rp56 juta dan nasional yang mencapai Rp78 juta.
"Kita ini masih setengah dari rata-rata Jawa Barat, bahkan jauh dari angka nasional. Ini menandakan produktivitas masyarakat masih rendah dan belum didukung secara optimal oleh pengetahuan, keterampilan, teknologi, serta modal," ujar Syakur, Kamis (6/11/2025).
Menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi besar yang belum dikelola secara maksimal. Garut saat ini menjadi salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Barat dengan kontribusi mencapai 43% terhadap produksi provinsi.
Namun, sebagian besar hasil panen hanya dijual dalam bentuk pipilan kering dan diolah di luar daerah menjadi pakan ternak. Produk pakan tersebut kemudian dibeli kembali oleh peternak Garut dengan harga lebih tinggi.
"Kondisi ini membuat rantai pasok kita tidak efisien. Nilai tambah justru dinikmati oleh daerah lain, sementara harga pakan di Garut menjadi lebih mahal. Kalau ada pabrik pengolahan jagung di Garut, harga pakan bisa ditekan dan peternak akan lebih sejahtera," kata Syakur.
Ia menambahkan, pembangunan pabrik pengolahan jagung akan membawa efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian lokal.
Selain membuka lapangan kerja baru, keberadaan industri tersebut juga akan menggerakkan sektor pendukung lain seperti transportasi, perbengkelan, jasa, dan perdagangan hasil tani.
Dengan basis produksi jagung yang kuat, Garut diyakini mampu menjadi pusat industri pakan ternak di wilayah selatan Jawa Barat.
Selain itu, Syakur juga menyoroti dampak kebijakan nasional terhadap permintaan bahan baku pakan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dijalankan pemerintahan baru di bawah Presiden terpilih Prabowo Subianto diprediksi meningkatkan kebutuhan ayam pedaging dan telur secara signifikan.
Hal ini otomatis akan menaikkan permintaan jagung sebagai bahan utama pakan ternak.
"Kalau kita tidak menyiapkan industri pengolahannya sejak sekarang, Garut hanya akan jadi penyedia bahan mentah. Padahal bahan baku kita melimpah dan bisa diolah langsung di sini," ujarnya.
Syakur pun menegaskan, Pemkab Garut siap memberikan kemudahan investasi di sektor pertanian dan industri pengolahan.
Pemerintah daerah, lanjutnya, akan membantu dari sisi perizinan, penyediaan lahan strategis, hingga fasilitasi dengan lembaga pembiayaan.
Ia berharap kalangan investor tidak ragu menanamkan modalnya di Garut karena potensi bahan baku dan pasar yang terus tumbuh.
"Pasokan jagung di Garut tidak kurang. Kita tinggal butuh teknologi dan investasi untuk mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Ini momentum yang tepat untuk mendorong industrialisasi berbasis sumber daya lokal,” tutur Syakur.
Konten ini merupakan bagian pemberitaan dari program Jelajah Investasi Jabar 2025 serta mendukung event West Java Investment Summit (WJIS) 2025. Program jurnalistik Bisnis Indonesia Perwakilan Jawa Barat ini didukung oleh DPMPTSP Provinsi Jawa Barat, Diskominfo Jabar, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Migas Utama Jabar (MUJ) dan Eiger.